Hubungan kausal antara kekerasan di televisi dengan perilaku agresif kini tampak sudah jelas (national institute of mental health, 1982). laporan serupa dikeluarkan dalam tujuh jilid oleh Canadian Royal Commision. Laporan itu di dukung oleh banyak riset di bidang ini (misalnya, kita bisa lihat pada Friedrich-Cofer & Huston, 1986; Huesmann, 1982). ternyata, kasus kekerasan telah ada sebelum kita lahir, ada banyak faktor penyebabnya, dan seolah itu merupakan hal yang biasa. namun, coba kita posisikan diri apabila diri kita menjadi seorang korban.

Ada banyak teori tentang bagaimana dan mengapa kekerasan media memengaruhi perilaku. Misalnya, pada teori belajar psikologi menekankan bahwa model agresif mengajari permirsanya untuk melakukan kekerasan melalui imitasi (ini pada hal yang ditampilkan pada tayangan televisi). ide yang terkait menyatakan bahwa anak belajar perilaku agresi dari media. kejadian-kejadian di masa dewasa memunculkan ingatan itu dan melahirkan perilaku agresif ( Borkowitz, 1984). Misalnya, salah satu perilaku umum di media adalah tokoh jahat memprovokasi tokoh baik, yang kemudian si tokoh baik ini membalas dendam. anak kemudian mempelajari perilaku ini dan mungkin di kehidupan dewasa akan mudah membalas dendam karena diejek (cek di Viemero & Paajanen, 1992). Individu yang cenderung agresif mungkin lebih banyak dipengaruhi oleh kekerasan di media (Bushman, 1995).

Advertisement

Banyak kekerasan di media yang menunjukkan dukungan pada kekerasan ketimbang menentangnya. seperti dalam kisah tokoh baik yang balas dendam. Melihat kekerasan seperti itu menyebabkan upaya menahan diri diabaikan sehingga individu dapat bertindak lebih agresif. Hanya teori katarsis yang mengatakan bahwa melihat kekerasan di media kemungkinan akan mereduksi agresi dikalangan penontonnya, dan seperti yang kita lihat, teori ini tidak banyak mendapatkan dukungan. Apa yang ditemukan riset tentang efek kekerasan media ? (sumber : buku psikologi sosial; Shelley E. Taylor dkk). Mari kita bahas secara umum, perilaku agresif tidak bisa dipandang sebelah mata. tontonan yang ditayangkan oleh media, yang kemudian menjadi konsumsi hari-hari pada anak-anak merupakan salah satu hal yang mesti kita waspadai. apa yang mereka lihat, akan sangat mudah ditiru. sangat jarang tayangan media saat ini yang memberikan siaran edukatif. oleh karena itu, pengawasan orangtua sangat penting dan lingkungan adalah salah satu faktor utama, karena disitulah perilaku dibentuk. Anak-anak akan sangat mudah meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Jangan bangga, ketika anak-anak memukul temannya, karena sudah merasa bahwa si anak ini sudah jago, sudah mampu melawan, memberikan pukulan pada anak lain tanpa sebab yang jelas. Kadang, ada beberapa orangtua hanya tertawa melihat anak mereka melakukan tindakan tersebut. Padahal, perilaku tersebut harus kita waspadai. Sekarang, orangtua memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam tumbuh kembang anak. Cari tahu, jika anak-anak memunculkan perilaku yang agresif, darimana mereka belajar, darimana mereka melihat. bisa jadi, perilaku itu ada karena kita sendiri yang menciptakannya dalam lingkungan.

Perilaku agresif muncul bukan hanya dari apa yang dilihat tetapi apa yang dimunculkan oleh lingkungan tertentu. lingkungan yang baik bukan orang lain yang ciptakan, tetapi itu semua berawal dari diri kita sendiri. karena sehat itu berawal dari mental yang sehat :)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya