Hal apa yang muncul dibenak kalian ketika mendengar kata HIV/AIDS? Jijik? Mengerikan? Sex bebas dan narkoba? Penyakit menular yang berbahaya? Atau bahkan penyakit kutukan? Setiap tanggal 1 Desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia (World AIDS Day). Lalu apa tujuan kita memperingati hari tersebut? Sudahkah kalian tahu apa itu HIV/AIDS?

Rasanya sudah banyak Desember yang kita lewati, tetapi hanya sebagian kecil dari kita yang mau peduli dan memahami makna dari peringatan hari AIDS sedunia ini. Nyatanya dapat kita lihat dari masih banyaknya prasangka negatif atau stigma yang tersebar dalam masyarakat.

Advertisement

Sebagian besar dari kita menganggap bahwa HIV/AIDS adalah dua hal yang sama, padahal sejatinya dua hal tersebut memiliki makna yang berbeda. Hal ini mengindikasikan bahwa masih sangat kurangnya pemahaman dan edukasi tentang HIV/AIDS di kalangan masyarakats.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang dapat menyebabkan AIDS. Seseorang yang terdiangnosa HIV positif belum tentu menderita AIDS. HIV menyerang sistem imun atau kekebalan tubuh, dan jika daya tahan tubuh telah rusak, maka akan berkembang menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Seseorang yang terjangkit penyakit ini biasa disebut dengan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS).

Minimnya pendidikan tentang AIDS inilah yang menyebabkan lahirnya dominasi satu sudut pandang berupa stigma. Masyarakat cenderung menghakimi ODHA yang ada di lingkungannya. Jangankan berinteraksi, mendekat saja mereka tidak mau. Hal inilah yang menyebabkan ODHA cenderung mengisolasi dirinya di dalam rumah. Sebagian besar masyarakat merasa resah dengan kehadirannya.

Advertisement

Bahkan ada sebagian warga yang tega ingin mengusir ODHA dari kampung halamannya seperti yang pernah dialami oleh Bpk Hardiman. Jangankah masyarakat, keluarga besar pun belum tentu mau menerima kehadiran orang yang mengidap HIV/AIDS di dalam anggota keluarganya. Mereka takut tertular virus tersebut jika sedang berada di ruang yang sama dengan pengidapnya, mereka takut tertular saat berdekatan atau berjabat tangan dengan pengidapnya. Jika ditelisik lebih dalam, masih banyak lagi kasus diskriminasi yang dialami ODHA.

Kesalahpahaman terhadap cara penularan HIV/AIDS inilah faktor utama munculnya stigma dan diskriminasi pada masyarakat. Masyarakat perlu tau bahwa penularan tersebut hanya akan terjadi ketika ada kontak darah. Dan HIV/AIDS dapat ditularkan melalui:

  1. Seks tanpa pengaman (alat kontrasepsi berupa kondom).
  2. Pemakaian jarum suntik lebih dari satu orang.
  3. Tindik atau tatto yang tidak steril.
  4. Seorang anak yang dikandung oleh ibu yang sedang terjangkit HIV/AIDS
  5. Transfusi darah.

Dan HIV/AIDS tidak dapat ditularkan melalui udara (seperti ketika sedang bersin, batuk dan berbicara), kontak sosial (berupa jabat tangan, berpelukan), air mata saat menangis, alat makan, seprei, bantal, guling, toilet, dan lain-lain. Sebaliknya, kita harus mawas diri meskipun terhadap pasangan hidup sendiri (suami atau istri) agar terhindar dari penularan HIV/AIDS seperti :

  • Jangan melakukan hubungan seks lebih dari satu orang. Setialah pada pasangan Anda.
  • Gunakan alat pengaman saat melakukan hubungan intim. Karena seringkali banyak ditemukan kasus seorang Ibu rumah tangga mengidap HIV/AIDS karena tertular oleh suami.
  • Gunakan jarum suntik satu kali saja, setelah itu dibuang.
  • Melakukan transfusi darah di Rumah Sakit yang sudah terpercaya.
  • Menggunakan sarung tangan plastik saat menolong korban dalam keadaan berdarah.

Setelah kita mengetahui beberapa hal di atas, mulai sekarang ubah mindset kita. Jauhi virusnya bukan manusianya. Manusiakanlah manusia, tidak ada seorangpun di dunia ini yang ingin menjadi ODHA. Mereka mempunyai hak yang sama seperti yang lain. Mereka berhak untuk hidup.

Orang yang positif mengidap HIV/AIDS tidak melulu umurnya pendek. Para ODHA masih mempunyai kesempatan untuk memperjuangkan dirinya agar tetap hidup dengan cara rutin meminum obat dan melakukan terapi. Banyak dari mereka yang berhasil bangkit dan bahkan menjadi salah satu inspirasi bagi penderitanya seperti Yurike Ferdinandus, Hages Budiman dan Budiman (pasangan ODHA).

Seharusnya mereka juga mempunyai hak untuk bekerja, berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, beribadah sesuai dengan keyakinan mereka, mendapatkan perawatan dan tempat tinggal yang aman.

Pernahkah kalian berfikir bagaimana keadaan mereka yang ketika terlahir di dunia langsung mengidap HIV/AIDS? Bayi-bayi tersebut tidak bersalah, mereka tertular karena saat dikandung, Ibunya mengidap HIV/AIDS. Mereka mempunyai hak yang sama layaknya anak pada umumnya seperti hak untuk hidup, dilindungi, bermain, tumbuh dan berkembang, bersekolah, dilayani kesehatannya, dan sebagainya. Anak-anak tersebut mempunyai hak untuk meraih masa depan seperti apa yang mereka cita-citakan. Karena masa depan mereka masih panjang.

Stigma dari masyarakat akan berakibat buruk yakni menutup kesempatan bagi ODHA untuk mengembangkan diri. Kesempatan itu ada untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Dan peran kita sebagai mahluk sosial adalah merangkul juga membimbingnya ke arah yang lebih baik, dan memotivasinya.

Berikan mereka ruang untuk bercerita agar cerita tersebut dapat memberi pelajaran bagi diri kita dan orang lain. Dan sebagai generasi millenial, salah satu hal yang bisa kita lakukan yaitu menggunakan media sosial secara bijak. Berusaha untuk sharing tentang HIV/AIDS kepada warganet yang tujuannya untuk memberi pemahaman dan mengurangi tingkat diskriminasi. Karena sesungguhnya perilaku diskriminasi adalah pembunuh utama pengidap HIV/AIDS secara pelan-pelan. Selamat memperingati Hari AIDS sedunia dengan lebih bijak!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya