Ketika malam. Jawaban yang diterimanya seperti sebuah potongan kertas yang entah kemana potongan lainnya. Kubaca hatinya. Kujabarkan sorotan mata itu. Ku mengetahuinya. Ada bekas luka dalam hatinya yang sudah lama tercipta. Seperti jawaban itu, hatinya sangat tidak lengkap. Ada air mata yang meluncur mengenaskan di setiap malamnya. Sulit untuk berdamai pada masa dimana proses luka itu dicipta.

Ada satu hal abstrak yang menggambarkan dirinya. Kesedihan. Ketika malam ia merasa hatinya tenang. Melihat milyaran bintang bertabur tak menentu di atas langit gelap. Seakan potongan hatinya terisi oleh bintang yang selalu setia membuatnya tersenyum dalam batin. Dingin yang tak pernah mengganggunya menjadi pelengkap dalam kebahagiaan sementaranya.

Advertisement

Berjalan menyusuri setiap inci dari wajahnya. Lalu berhenti. Kedua matanya. Akan selalu ada ruang untuk air mata di sana. Ada ilusi kebahagiaan yang dibuat sehingga sorotan itu terlalu munafik. Selalu menjadikan dirinya sebagai tameng untuk orang yang butuh perlindungan hingga lupa bahwa dirinya juga butuh pelukan. Mata itu selalu memainkan perannya ketika malam menjelma. Ketika burung hantu menyanyikan lagu sedih untuk dirinya. Ketika semuanya diizinkan untuk tidak melihat air matanya.

Di situlah sebuah pernyataan terkuak. Wahai dirimu, yang membuatku seperti ini. Terima kasih. Karenamu, aku mendambakan kesendirian. Karenamu, aku selalu rindu rembulan. Karenamu, aku cinta malam. Karena malam akan membuat pagi yang baru. Harapan baru. Harapan untuk hidup yang lebih baik tanpa ilusi yang menghantui.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya