Kalau Mau Diterima Kerja, Seharusnya Para Pencari Kerja Nggak Begini Kelakuannya!

Salam kenal, saya Bio Hadikesuma. Beberapa hari ini saya terketuk untuk menulis apa yang terjadi belakangan ini. Salah satu usaha yang kami jalankan, bergerak di bidang pelatihan, management training, consulting, dan juga recruiting. Sekitar beberapa hari lalu sengaja semua publikasi terkait permintaan klien dalam mencarikan karyawan baru saya posting sendiri. Penasaran!! itu kata tepatnya.

Beberapa tahun lalu, hal yang sama pernah kami lakukan dan yang ditemukan hanyalah sebuah kekecewaan akan attitude dari generasi muda yang terus merosot terutama dalam hal etika komunikasi. Hingga akhirnya saya menuliskan buku ke 5 dalam waktu 4,5 jam. Buku tersebut saya ambil dari kisah nyata generasi muda yang sering berkonsultasi ke kami.

Advertisement

Hari ini, 3 tahun sejak saya menuliskan buku tersebut, ada kegundahan lagi melihat konten Whatsapp, email maupun sms yang masuk ke nomor saya. Seperti yang saya sampaikan di atas, publikasi memang saya lakukan sendiri karena ingin melihat cara calon tenaga kerja berinteraksi kepada saya yang mungkin bagi sebagian pencari kerja, lowongan yang dibuat ini adalah jawaban untuk masa depan mereka yang sedikit "nggak jelas".

Etika oh etika!!

Apa yang Anda rasakan ketika kita menjadi seorang tamu di tanah orang dan kemudian di cuekin oleh orang-orang yang kita temui? Atau saat kita kuliah dulu, kita dari sebuah desa, masuk ke kota besar dan biasanya bertemu sekelompok teman satu kelas dari kota yang kita datangi biasanya akan dianggap culun dan tidak jarang juga dibully. Entah diminta traktir makan, diminta lap sepatu dan segala macam. Apa rasanya? nggak enak kan…

Advertisement

Mungkin perasaaan yang seperti itulah yang muncul tiap kali ada pesan yang masuk ke gadget saya, ketika yang berkomunikasi tidak tahu (kurang tahu) etika atau mungkin memang tidak punya etika, terutama dalam menanggapi sebuah informasi dan berkomunikasi. Emangnya etika seperti apa sih yang Om Bio maksud? Om Bio aja tuh yang gila hormat. Ok.. ini dia beberapa sudut pandang yang saya gunakan sebagai tolak ukur etika, dan satu lagi, ini bukan masalah gila hormat, masuk dalam dunia nyata, yang utama itu adalah cara kita bersikap. Kita boleh jadi orang jago, jawara ato preman, tapi kalo cuma jago di kampung sendiri, ngapain? Di Jawa premanisme terkalahkan oleh kecerdasan dan cara bersikap. Meskipun cara bersikap “orang kampung” di kalangan orang modern juga banyak.

Biasakan bertutur sapa yang baik

Sebuah elektronik flyer terkirim ke sebuah nomor. Di bawahnya tertulis, “Selamat pagi, salam kenal, saya Bio Hadikesuma. Semoga informasi berikut bermanfaat buat teman-teman ataupun orang di sekitar yang sedang mencari kerja”. Selang beberapa waktu, masuk sebuah pesan. “Ini apa ya?”

Di lain kasus sebuah elektronik flyer kembali terkirim ke sebuah nomor dan di bawahnya tertulis hal yang sama. Jawaban kali ini adalah “kerjanya apa?” Itu adalah beberapa contoh dari bermacam jawaban yang muncul setiap kali saya mengirimkan informasi lowongan kerja. Ada beberapa contoh lain jawaban yang muncul setelah e-flyer terkirim, misal:


  1. Ini kota mana?

  2. Gaji berapa?

  3. Syaratnya apa?

  4. Bagusnya aku daftar di bagian apa ya?

Coba perhatikan! bagaimana tanggapan Anda? saya? udah pasti eneg, makanya nulis seperti ini. Kadang saya suka mengkritik diri sendiri, sudahlah, gak usah mikir yang macam-macam, tapi akhirnya harus jengkel lagi karena yang melakukan ini banyak, artinya kebiasaan ini sudah mendarah daging di generasi kita. Atau mungkin di generasi teman-teman muda yang sedang membaca tulisan ini.

Setiap orang ingin dihargai. Bukan cuma kita saja, tapi juga orang yang kita ajak bicara. Hari-hari kita sudah terlalu sering dihabiskan bersama mesin, mbok ya sama manusia juga jangan diperlakukan seperti mesin. Apa salahnya sih bertanya baik-baik.


  1. Mohon maaf mas, info yang barusan dikirim untuk penempatan di kota mana ya?

  2. Terima kasih atas infonya mas, kalo saya boleh tahu, gajinya sudah ada patokan UMR atau bagaimana?

  3. Halo mas, salam kenal, terima kasih atas informasinya. Kira-kira untuk mendaftar, ada syarat khusus atau bagaimana?

  4. Terima kasih atas infonya mas, saya sudah baca dan ingin tahu, kira-kira spesifikasi seperti saya yang belum bisa design, baiknya mendaftar di mana ya?

Coba bandingkan dengan versi kedua. Lebih indah yang mana? Ada sapaan yang membuat komunikasi jadi hidup dan indah, ada identitas kita sebagai penduduk Indonesia yang masih menjaga budaya nenek moyang dalam bertutur kata.

Koreksi saya, apakah pendidikan Bahasa Indonesia dan pengenalan etika dan moral sudah tidak ada lagi sewaktu Anda muda atau saya yang kurang update bahwa hari ini memang seperti itulah cara komunikasi yang efektif? Kalau saya yang kurang update, artinya pertanda kiamat sudah semakin dekat.

So, buat pembaca yang saat ini sedang mencari kerja, saran saya adalah perhatikan etika berkomunikasi karena kita tidak pernah tahu siapa orang yang sedang kita ajak berkomunikasi. Bisa saja mereka adalah si pengambil keputusan.

Mulailah menata ucapan sapaan, membiasakan ucapan terimakasih, mengajukan pertanyaan dengan kalimat tanya yang sopan. Ini bukan buat saya, tapi cara kita berkomunikasi adalah cerminan dari lingkungan dan orang tua dalam mendidik kita. Saya kira tidak ada anak yang mau memberikan citra buruk tentang orang tuanya lewat cara dan sikap mereka berinteraksi.

Lari dari kenyataan

Ini dia yang ironis dari generasi muda Indonesia hari ini dan saya sempat angkat di buku saya. Pasca kelulusan S1, biasanya para pencari kerja akan berbondong-bondong untuk ikut dalam pameran tenaga kerja. Di Yogyakarta dalam 1 hari bisa 1.000 sampai 3.000 pengunjung yang datang dan memasukkan lamaran kerja.

Tahun 2009, pernah disampaikan bahwa Indonesia, minimal per tahun menghasilkan 600.000 lulusan S1 dan yang terserap di dunia kerja hanya 200.000 dan akhirnya yang 400.000 itu bersaing dengan pencari kerja tahun selanjutnya. What about you? Are you one of them?

Nah, tren ini kemudian bergeser dari mencari kerja pindah menjadi mahasiswa S2 dengan alasan pendidikan. Itu pengecut. Banyak saya bertemu dengan orang-orang yang baru kerja 1 tahun, akhirnya S2, dan begitu kita ngobrol lebih lanjut, ketemulah benang merah, gajinya gak seberapa, makanya lanjut S2. Alahmaaaaaaak….

Ini wajah indonesia hari ini, dan umumnya pasca S2, usia sudah makin tua, yang ada hanya nunggu dipersunting atau dapat kabar jadi dosen. Jadi dosen pun, ngajari tentang bagaimana hidup di dunia luar, seolah-olah ikut terjun dalam kerasnya dunia, Hm…. ini dia jualan “lambe”.

So, buat teman-teman sekalian, pilihan menjadi S2 karena takut gak keterima kerja dengan modal S1, itu bukan hal yang patut dibanggakan. Kalo Anda bertanya, emang Om Bio mau mempekerjakan saya, tamatan S1? Saya jawab, "Pasti". Kalau Anda tanya berapa saya sanggup menggaji anda, saya tinggal balik, berapa persen kontribusi anda dalam menciptakan performa yang lebih baik dari semua lini di bisnis saya dan kasih saya alasan kenapa saya harus menerima teman-teman yang mayoritas bermental lembek, kurang komitmen dan gak punya tujuan hidup?

Generasi manja

Teman-teman boleh tidak setuju dengan apa yang saya sampaikan di atas. Tapi sekali lagi saya sampaikan, ini adalah pengalaman hidup saya selama hidup dan menjadi pelaku bisnis maupun konsultan bisnis dan HRD. Kalau tidak percaya sama saya, itu hal wajar dan memang Anda akan salah kalau percaya kepada saya, itu syirik!! Percaya cukup kepada Allah SWT.

Salah satu yang saya sayangkan dari calon pencari kerja selain cara berkomunikasi yang kurang bersahabat adalah manja! Manja dalam arti malas mencari informasi, dari mana info tersebut, siapa orang dan perusahaan yang menyebarkan informasi kerja. Padahal mesin pencari Si Mbah Google ada di depan mata.

Saya ingat ketika dulu pernah bekerja, minim sekali dengan informasi, akhirnya harus mencari manual. Salah satu calon pekerja yang didamba oleh perusahaan adalah orang yang memiliki informasi lebih sebelum mereka di interview. So, manfaatin dong Google.

Satu lagi yang perlu diketahui, perusahaan saat ini ada yang membuka lowongan kerja atas nama mereka sendiri dan ada yang menggunakan agensi. Sekali lagi, sopan santun dan informasi adalah beberapa kunci yang patut Anda perhatikan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Bio Hadikesuma adalah seorang young and creative entrepreneur, business consultant, dan mind therapist. Ia adalah alumni dari Program Studi Elektronika dan Instrumentasi Jurusan Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Selain menjadi Direktur Program dari Rumah Kreatif Jogja, sebuah inkubasi bentukan dari kementrian BUMN, Ia juga masih aktif sebagai CEO Digibooks, sebuah perusahaan book printing specialist and self publishing yang berpusat di Yogyakarta. Anak muda Riau pertama yang menjadi penulis di Gramedia ini mendirikan Digibooks hanya dengan modal Rp 50.000, pada 2007. Saat ini nilai bisnis Digibooks mencapai lebih dari Rp200 juta per tahun. Selain aktif di dunia penulisan dan industri kreatif, Bio juga aktif di dunia training and consulting melalui Bio Hadikesuma Management Training & Consulting (BHMTC) dan menjadi founder Secangkir Kopi, komunitas yang bergerak dalam bidang bisnis, karir, pendidikan, pengembangan, dan kehidupan sosial. Hingga saat ini, ia memiliki lebih dari 5.000 jam terbang selama tujuh tahun sebagai trainer. Bio telah berbicara di depan lebih dari 700.000 audience dan melatih lebih dari 2.500 pengusaha UKM binaan Pertamina, Chevron, Indonesia Power, Freeport dan terlibat dalam kegiatan program dari BRI, Kementrian Luar Negeri, Kementrian Perindustrian dan Perdagangan, Kementrian Koperasi dan UKM serta Dinas Perindustrian Perdagangan, Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi UKM dari beberapa kabupaten dan kota di Indonesia. Di sela-sela kesibukannya, ia sempat aktif dalam kepengurusan APINDO Yogyakarta, menggagas kegiatan peningkatan edukasi untuk beberapa sekolah menengah, merintis gerakan pendampingan berbasis nirlaba, serta mengikuti program leadership Ahok’s Ways yang digagas Ciputra Online. Bio mendapatkan sertifikasi Neuro Assosiative Conditioning (NAC) dari Ronald Nurdhanadarma Authorized Anthony Robbin USA dan sertifikat Business Class Program dari RMIT, Melbourne Australia.

8 Comments

  1. Banyak BONUS dan CASHBACK ???? AYO JOIN di

    www. agens128 .org

    agen terbaik Judi Bola Online, Casino Online, Tangkas, Togel Toto Online(2D, 3D, 4D), Poker Online, Sabung Ayam Online dan masih banyak yang lainnya…

    Keterangan lebih lanjut, add Contact Person : D8B84EE1 (BBM)

    Ayo langsung join ya !!! :*

  2. Diela Enim Vette berkata:

    Apaan nih cerewet banget

  3. Eko Ade berkata:

    Terimakasih untuk tulisannya mas Hadikusuma, kopi ☕?

  4. Citra Ayunie berkata:

    Artikelnya bagus sekalii mas, saya pengangguran. Dan sedang cari kerja. Tapi malu untuk berkomentar seperti di versi pertama. Dan pernah berfikir juga untuk lanjut s2 tapi kok dipikir2 pengalaman saya aja nol. Wahh abis baca tulisan mas bio, saya rasa saya tidak salah langkah. Terima kasih mas bio �

  5. Lisa Elisabeth berkata:

    hai, aq punya banyak hadiah loh buat kamu, Cashback sampai 100%. yuk add pin bb aku : 25CBBB46 , atau kunjungi www(.)d-ew-a168(.)com

  6. Hery Rizki berkata:

    terima kasih atas pencerahannya om, saya jg berpikiran seperti om. walaupun saya hanya lulusan smk dan masih mencari pekerjaan

CLOSE