Suatu ketika kesendirian menyapaku

“Hai, mengapa kau menyukaiku?”

Advertisement

Aku tersenyum sejenak, menyimetriskan rupa, mencoba mempersiapkan jawaban dengan tanya.

“Salahkah? Menurutku bersamamu itu menyenangkan. Aku bisa rehat dan berkontemplasi dari kesibukan dan rutinitas yang terkadang justru merapuhkan iman. Ini adalah caraku menjaga diri dari kebatilan, karena betapa banyak di sekitar kita berkelindan provokasi, fitnah, dan tuduhan yang mendzalimi kebaikan..”

“Ahh kau anak muda, pendapatmu tak salah. Hanya saja ada yang perlu diperbaiki dalam konstruksi pemikiranmu. Lalu apakah kau akan membiarkan kebaikan terdzalimi bersamaku tanpa ada yang memperjuangkan?”

Advertisement

“Bagiku ini adalah caraku memperjuangkan kebaikan, aku berupaya menjaga kebatilan dari diriku agar kebaikan dapat tumbuh.”

“Kebaikan tak akan pernah bisa menang jika ia hanya berjuang denganku sedangkan kau lihat di seberang sana banyak manusia yang mendukung tumbuhnya kebatilan. Jika kau masih berpikir bahwa memperbaiki dirimu itu lebih utama, tak salah, namun sejatinya memperbaiki diri dan lingkungan dapat berjalan beriringan. Manusia itu didesain dengan hebat oleh sang Maha Hebat, maka mengapa kau masih memilih untuk membatasi daya gerakmu dengan termenung disini bersamaku?”

“Lalu menurutmu apa yang harus kulakukan?”

“Lihatlah disana ada manusia-manusia yang sedang menghimpun kekuatan untuk menyemai kebaikan namun tak kunjung bergerak karena tak ada pemimpin yang menyatukan. Tidakkah kau terpanggil untuk menyatukan dan bergerak bersama mereka?’

“Tapi…”

Sebelum aku melanjutkan kata-kata ku, kesendirian dengan tegasnya memotong ucapanku

“Kau tau salah satu kata yang menghambat daya gerak dan ruh perjuangan manusia itu adalah tapi. Bergeraklah, mulailah melangkah dan kau akan menemukan bahwa semesta mendukungmu..”

Aku bangkit. Menegakkan langkah. Mengambil jalan di antara manusia-manusia yang akan kembali duduk dan terantuk pada kantuk dengan sebuah sapaan

“Yuk dirapikan shaff-nya, segara dikumandangkan ya iqomahnya..”

Dan subuh itu aku menjadi imam, menjadi pemimpin bagi mereka yang sedang berjuang melawan kantuk dan dinginnya pagi. Terkadang menjadi pemimpin sesederhana itu, bermula dari keberanian untuk meruntuhkan konstruksi berpikir yang salah dalam diri lalu berlanjut dengan satu gerakkan kecil yang dengannya banyak orang yang juga tergerak.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya