Kugenggam angin yang membelai lembut jemariku, angin yang membangunkanku dari sepinya malam yang menghampiriku. Angin yang membuat jemariku bergerak, menari bersamanya dan berlaku tak sepantasnya. Angin ini mengantarkanku, pada sebuah tempat paling menenangkan di muka bumi ini.

LAUT. Tempat paling luas, selapang hatiku dan tempat paling tenang yang juga setenang hatiku. Mengapa semua tentang hati? Jawabannya sederhana, karna hati adalah tempat paling aman dan tempat paling perasa. Sesedikit itulah, yang dapat mengartikan luasnya makna hati yang dianut seantero bumi ini.

Advertisement

Waktu itu kutatapi laut sedalam-dalamnya. Ku tatap lagi bibir pantai yang kemerahan karna pantulan sinar matahari yang mulai melarikan diri itu, seakan gincu paling khas yang biasa melekat di bibirku. Nikmat Tuhan mana lagi yang dapat kudustakan tentang indahnya laut ini?

Kutatapi lagi, lembutnya batu karang yang berada di bibir pantai ini. Batu karang yang bertemankan air laut, menggenggam pelukan-pelukan air laut yang hanya sesaat tapi selalu biasa dipeluk. Ya memang benar, laut dan segala isinya tak pernah kesepian. Bilakah aku hidup di sana, dapatkah kutemukan kebahagiaan abadi tepat di sana, di lautan? Tanyaku dalam senyuman tiada akhir ketika kupandangi apapun yang ada di lautan.

Kutatapi lagi, menawannya paras pohon kelapa. Berhijaukan dedaunnya ditambah dengan berjari-jari jarak dedaunnya. Warna tubuh batang pohon bahkan buahnya yang selalu menghilangkan dahaga di tengah teriknya hari di sana, di lautan. Bertambah kekagumanku, ketika kudapati berjuta pasangan menaklukan hati dan hari di sini, di pantai dan lautan. Sepertinya, pantai dan lautan sangat tahu sifatnya yang menyatukan cinta.

Advertisement

Kali ini, aku tertawa sendirian di sini, di lautan. Aku sendirian di sini, bersama tanjakan yang menyimpan segala kenangan. Ya, kenangan tentangmu. Kamu, apa kabar? Baiklah. Aku tahu, bahwa yang aku katakan tadi adalah yang senantiasa kuungkapkan ketika kita bersama di sini, di pantai dan tanjakan yang sama. Dan karena keseringan kuceritakan hal yang sama, kau bosan dan memilih pergi. Ya, begitulah aku. Memang membosankan.

Sekali lagi, kamu apa kabar? Masihkah kau kenang ceritaku? Pasti sudah tidak lagi kan? Kuingat, sudah dua puluh enam bulan kau memilih pergi dari kisah kita. Kisah yang baru kita bibiti bersama, sehingga telah bertumbuh dan menumbuhkan pucuk-pucuk daunnya. Sebelum pucuk itu berubah menjadi tua dan berukuran besar, kau sudah dengan keputusan finalmu yaitu pergi. Pergi dariku, juga kisah kita. Mengapa? Pertanyaanku, berkali-kali padamu. Jawabanmu masih sama, aku bosan mendengar cerita bodohmu.

Saat itu, yang aku sadari aku juga salah. Aku pergi meninggalkanmu tanpa mengatakan sepatah katapun. Bukan karna aku marah, sungguh bukan. Sejatinya, tak ada jawaban yang kupersiapkan juga rasa kecewa tak berujung yang sedang kurasakan ketika mendengar pengakuanmu. Salahkah jika kubagi kekagumanku pada laut bersamamu? Ya, memang salah. Kau benci semua retorikaku. Jadi apa yang harus kukatakan? Haruskah kukatakan, aku mencintaimu sepanjang hari? Sungguh, aku tak sevokal itu tuk mengekspresikan cintaku padamu. Sebenarnya, masih sama. Kau dan lautan bermakna dalam padaku. Sudahlah, nyatanya retorikaku pun tak kau pahami maksudnya. Sejatinya, lelaki memang butuh jawaban yang jelas, lugas dan tepat sasaran. Kau membenci tuk menerka-nerka, menafsir atau memperkirakan perkataan dan maksud hatiku.

Enam bulan, ya enam bulan. Selama enam bulan kau memilihku. Mengapa kau memilihku? Kau berbeda. Jawabanmu, padaku. Seketika hatiku melayang setinggi-tingginya, jiwa hatiku beterbangan kesana-kemari, jiwa hatiku bersukaria kian kemari mendengar jawaban itu. Nyatanya apa? Dengan mudahnya pula, perbedaanku itu menghentikan langkahmu tuk memantaskanku bersamamu.


Terakhir kalinya, kamu apa kabar?


Selama sepekan ini aku menemukanmu, di tempat kita bertemu dahulu. Ya, di perpustakaan. Mengapa kau sendirian di sana? Inginku bertanya selama sepekan ini, padamu. Namun, aku tak seberani itu. Selama dua tahun ini, kusimpan semua jawabanmu yang cukup menyadarkanku bahwa aku berbeda, sangat berbeda. Kau hanya menatapku dengan senyumanmu yang tak lagi menghangatkan. Senyumanmu sekarang, sangat dingin. Mengapa? Mengapa senyumanmu sedingin itu? Tanyaku dalam hati. Tak ingin kusuarakan jelas pertanyaanku padamu. Sebaliknya, Aku hanya menimpali senyumanmu tanpa menegurmu tuk bercakap. Bukankah kau tak senang dengan obrolanku? Kuselamatkan diri, jika amukanmu muncul ketika obrolanku mulai menggema dalam percakapan kita. Tapi apa kau tahu, mengapa aku suka mengungkapkannya padamu? Karna kau menyenangkan, pada awalnya. Selalu mendengarkan ceritaku, hingga tanganmu menopang dagumu sambil tertawa. Awal hingga berakhirnya, aku tahu tawamu itu mengejek. Tapi kubiasakan saja, ejekanmu. Bukankah cinta memang seperti itu? menerima semua ejekan sebagai tanda bahwa mencintai. Tunggu, mencintai? Ya. Karna cinta kuterima semua ejekanmu, tapi karna cinta juga ejekanmu menikam jiwa hatiku yang sedang hidup dengan bahagia ini. Ejekanmu yang menikam jiwa hatiku itu, awalnya kubalut dengan cinta hingga kupikir bisa sembuh secepat kilat. Nyatanya, bukan cepat sembuh. Justru berlama-lama, berlama-lama sekali sakitnya. Tikaman ejekanmu itu telah merobek sebagian besar jiwa hatiku, yang selalu kuusahakan tuk menyambungnya kembali. Tapi kusadari, ketika kusambungkan bentuknya tak sama lagi. Tak berdinamika bahkan bergelombang seperti dulu. Ketika kurekatkan jiwa hatiku yang telah tersobek itu, kupikir waktu akan membuatnya bergelombang seperti dulu. Ternyata jiwa hatiku pun, tak sudi tuk bergelombang lagi. Ya, jiwa hatiku memilih menjadi rata tanpa gelombang cinta lagi. Makanya aku berlalu mendengar ejekanmu yang telah membekas itu, supaya kujaga hatiku tak tersobek tuk kesekian kalinya. Jika memang harus tersobek, aku tak ingin kau menjadi pelakunya lagi. Beruntungnya, selama dua tahun ini sudah bisa kusembuhkan. Syukurlah,.

Selama sepekan ini, ingatan mengenai berakhirnya kisah kita terus muncul di pikiranku. Bertambah lagi, ketika tanpa sengaja kita bertemu. Karenanya aku mengutarakan semuanya di sini. Baiklah, tanpa mengurangi rasa hormatku padamu, aku memilih tak menjawab permintaan maaf darimu yang bagiku telah habis masanya, telah kadaluarsa. Aku telah menatapmu, sebagai penambah staminaku tuk semakin dalam mencintai laut. Kau masih yang istimewa, tapi hanya dalam kenangan. Karenanya, kutampilkan senyuman paling tulus dari diriku padamu, sore itu.

Hari ini, aku menulis ini supaya kau mengerti keputusanku tak merengek menyaksikan ejekanmu di depan mata dan keputusanmu tuk mengakhiri kisah yang sepenggal ini. Hari ini pula, kuberikan seluruh jawabanku padamu yang telah kusimpan dua tahun yang lalu. Maaf, hanya berupa tulisan kuutarakan maksud hati.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya