Karena datang terlalu pagi, ruang tunggu stasiun Gubeng Surabaya masih agak sepi, untuk mengisi waktu aku pun mampir ke toko membeli sebungkus biskuit dan koran. Tak berapa lama setelah duduk membaca koran, calon penumpang berdatangan masuk.

”maaf boleh saya duduk disitu?”

Advertisement

Seorang bert-shirt hitam mendekati sambil menunjuk tasku yang tergeletak di kursi samping.

“silahkan” jawabku seraya mengeser tas ketubuhku.

Begitu duduk, pria itu mengambil sesuatu di sela tubuh kita,

Advertisement

”apakah ini milik anda?” Ia memberikan sebungkus rokok mild kepadaku

”terimakasih rokok itu terjatuh dari tasku”

Beberapa saat kemudian si pria ini mengambil sebuah biskuit dari sela tempat duduk kita, aku sedikit terkejut. Pria itu tersenyum kepadaku. Sejenak aku menatap mata pria ini,

seakan akan bertanya ”berani benar kau? ambil biskuitku!!”

Aku kemudian kembali membaca koranku dan memangku tasku. Mudah mudahan ini akan mengakhiri pencurian biskuit yang dilakukan pria ini. Begitu biskuit di tangan mulai habis, pria tersebut mengambil lagi. Aku mulai jengah melihat semua ini, memang pekara sepele, cuma biskuit yang nilainya tak seberapa. Namun itu amat menjengkelkan aku tak tahan lalu memaki dan menegur pria ini.

Kemudian pria ini kembali merogoh tasnya mengeluarkan sebungkus roti lalu menyerahkan kepadaku

”silahkan lhoo masih sisa satu..”.

Perbincangan kita pun terhenti oleh suara loudspeaker ruang tunggu yang meminta para penumpang segera masuk ke dalam kereta. Aku pun segera membereskan bawaanku, mengambil tas lalu berjalan menuju kereta.

Betapa terkejutnya aku ketika ada di dalam kereta melihat bungkusan biskuitku masih utuh belum dibuka sama sekali. "Nah lho, jadi biskuit yang dimakan tadi milik siapa??"

Aku malu sekali teringat kejadian saat aku memaki maki pria tersebut, sekaligus menyadari betapa baiknya orang itu.

Pelajaran hidup senantiasa bertebaran dimana mana, kapan saja dan dari sapa saja. Itulah yang kualami, aku ingin sekali berdamai dan meminta maaf kepada orang tersebut meskipun belum sempat.

Benar ucapan sang bijak Buddha Gautama.

"Apapun alasannya, menyalahkan oarng baik itu laksana meludah sambil menengadah ke langit."

Ludah kita tak akan mengotori langit, tapi berbalik mengotori diri kita sendiri.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya