Negara kita, Indonesia memiliki keanekaragaman dari berbagai aspek, yang membuat identitas Indonesia sendiri juga beragam, apalagi identitas budayanya.1.340 suku yang tersebar di 13.466 pulau di seluruh Indonesia, berbagai budaya yang dimiliki oleh tiap suku merupakan kekayaan yang membanggakan.

Kekayaan sumber daya alam seperti bahan tambang (emas, nikel, batu bara), lahan pertanian, hutan, dan lain sebagainya yang dapat menambah pendapatan negara tentu patut kita banggakan sebagai kekayaan Indonesia.  Jumlah sumber daya manusia yang banyak juga patut dibanggakan, apalagi bila dibarengi dengan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. 

Advertisement

Sumber daya manusia Indonesia dapat diidentitaskan dengan melihat perilaku, tata krama, serta etika yang ada pada orang-orang Indonesia. Sikap toleransi, gotong royong, saling peduli satu sama lain, dan berbagai sifat lainnya tentu  dapat menjadi kebanggan sebagai rakyat Indonesia.

Kearifan lokal yang timbul akibat budaya pun mewarnai Indonesia, banyak contoh dari kearifan lokal Indonesia yang bernilai positif, seperti larangan menebang pohon yang masih muda, keharusan untuk menghormati yang  lebih tua, dan lain sebagainya.

Namun, dengan identitasini, apakah kita sudah bangga menjadi bagian dari Indonesia? Globalisasi dan era milenial saat ini membawa banyak akibat, salah satunya pada aspek budaya. Berbagai macam budaya yang masuk dari luar ke Indonesia tanpa ampun. 

Advertisement

Budaya hedonisme, individualis, dan lain sebagainya dapat dijadikan contoh konkrit atas budaya-budaya yang masuk ke Indonesia tanpa penyaringan terlebih dahulu. Semua jenis kebudayaan meluber tanpa disaring dahulu, tanpa dicocokkan apakah sesuai dengan kebudayaan Indonesia.

Mirisnya, kebanyakan rakyat Indonesia kebanyakan menganggap budaya luar sebagai budaya baru yang modern dan harus diikuti, jika kita tidak mengikuti budaya tersebut, bisa-bisa disebut kampungan, norak atau tidak tau apa-apa.
Yang membuat saya prihatin adalah lunturnya budaya gotong royong yang ada di negara kita.

Dulu biasanya jika satu orang di suatu daerah mengalami kesusahan, maka yang lain akan mencari pemecahan masalah bersama-sama, mencari solusi, dan mengatasi masalahnya pun juga bersama sama, padahal hanya masalah pribadi satu orang. Jika ada yang kesusahan, segera dibantu. 

Saya benar-benar merasakan 'manisnya' gotong royong ketika dulu tinggal di daerah desa, tetangga saya yang sedang renovasi rumahnya dibantu oleh segenap warga satu desa dengan imbalan yang sangat kecil, mungkin hanya sebatas kopi dan gorengan, mereka rela membantu meski di bawah terik matahari, atau diguyur oleh hujan deras, terasa adem dilihat, mereka saling tolong menolong dengan ikhlas dan tanpa pamrih. 

Budaya saling tolong menolong antar sesama rupanya mulai hilang diganti dengan sifat tiap manusia yang individualis. Dengan individualis, pemenuhan kebutuhan tiap orang akan cepat terpenuhi, dan masalah pribadi akan cepat terselesaikan.

Ditinggalkannya budaya gotong royong ini tentu membawa dampak negatif bagi kita sebagai rakyat Indonesia, salah satunya adalah munculnya perubahan sosial pada berbagai aspek. Mulai dari disintegrasi daerah, sampai berkurangnya nilai eksistensi dari budaya itu sendiri.

Karena masyarakat mulai individualis, kemauan tiap orang menjadi berbeda-beda. Perbedaan tujuan, kepentingan, dan kesenjangan sosial dapat berpotensi atas terjadinya konflik yang ada di masyarakat. Jika tidak individualis dan kepentingan antar manusia saling dikomunikasikan satu sama lain, maka akan tercipta satu tujuan yang harmonis dengan menyatukan pendapat masyarakat yang berbeda, dan tentunya tercapainya tujuan dapat dilakukan dengan adanya gotong royong dan saling membantu diantara masyarakat.

Selain itu, jika budaya asli Indonesia ditinggalkan, tentu eksistensinya akan hilang perlahan terganti oleh budaya asing yang masuk. Nilai dan norma baru yang dibawa dari budaya luar akan menggantikan nilai norma asli dari negara kita, dan lambat laun akan hilang jika tidak dilestarikan seiring dengan perkembangan zaman. Budaya gotong royong pun dapat hilang perlahan.

Di era milenial ini, sebenarnya budaya gotong royong tentu dapat kita banggakan, dan yang pasti dapat menjadi identitas kuat kita sebagai bangsa Indonesia. Budaya individualis dapat kita ganti dengan gotong royong yang mengedepankan kepentingan bersama. 

Dengan bergotong royong dalam segala hal secara konsisten, dapat menunjukkan rasa bangga kita akan budaya-budaya Indonesia. Saling membantu satu sama lain, mempererat persaudaraan sesama bangsa dan bertoleransi terhadap berbagai suku juga pastinya termasuk dalam unsur gotong royong itu sendiri. Akan lebih indah bila tujuan kita terpenuhi bersama-sama walaupun diwarnai berbagai perbedaan pendapat antar sesama.

Farah Tsabita Huda, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Angkatan 2018 Universitas Brawijaya Malang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya