Prof. Dr. Bagong Suyanto, M.Si menawarkan satu pendekatan baru pada disiplin ilmu Sosiologi Ekonomi. Selama ini, kajian yang banyak ditawarkan adalah aktivitas produksi yang dilakukan produsen atau pelaku kapitalis. Sementara perkembangan terakhir dalam studi ilmu sosial menunjukkan, perilaku konsumsi masyarakat saat ini.

Dalam pengamatan Bagong, kapitalis atau kaum pemodal memiliki beragam cara untuk mengendalikan orang agar terus mengonsumsi produk. Hingga pada satu titik, konsumen tidak bisa lagi membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Advertisement

“Kapitalis itu adiktif, menciptakan konsumen untuk terus membeli tanpa terasa. Dia (konsumen, -red) terhegemoni oleh kekuatan kapitalis,” kata Bagong.

Jika dulu, buruh adalah pihak yang dieksploitasi oleh kaum kapitalis, di era saat ini konsumen menjadi bidikan. Ini adalah cara baru yang dikembangkan oleh kapitalis posmodern untuk mengeruk keuntungan. Bukan (hanya) dengan menekan upah buruh, tapi dengan menimbulkan perilaku adiktif pada konsumen.

Pada tingkat praktis, ilmu Sosiologi Ekonomi tidak sekadar menjelaskan perilaku konsumen, tapi juga menjadi ilmu yang dapat dipahami oleh pelaku usaha kecil di Indonesia. Harapannya, gagasan ini dapat menjadi strategi dalam menyusun pemasaran produk agar dapat menguntungkan.

Advertisement

Bagong menginginkan, gagasan miliknya bukan hanya menjadi kajian akademik, tapi dapat menjadi rujukan praktis para pelaku ekonomi golongan menengah ke bawah.

“Sebab kelangsungan sebuah usaha tidak hanya persoalan uang atau modal, tapi juga ada persoalan strategi. Strategi-strategi itu seperti cara memasarkan produk maupun nilai pakai kedua produk,” ujar pengajar pada Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga ini.

Bagong mengatakan, pemerintah juga perlu mempertimbangkan faktor non ekonomi pada pengembangan pelaku usaha kecil menengah.

“Dalam pengembangan usaha kecil menengah, bukan hanya butuh modal dan pelatihan ketrampilan, butuh juga pelatihan lain. Misalnya memberi wawasan tentang pengemasan produk, promosi yang mengena di hati pasar, serta kemampuan mem-branding yang sesuai di hati masyarakat kekinian,” kata laki-laki kelahiran Nganjuk, 6 September 1966 ini.

Menurut Bagong, pengetahuan Sosiologi Ekonomi menjadi tambahan amunisi bagi pemerintah dalam upaya mengembangkan pelaku usaha kecil menengah. Bukan pada ekspansi produk, melainkan pada kretivitas pengemasan produk.

Sosiologi Kemiskinan

Secara personal Bagong bercerita, ia lahir dalam keluarga miskin, sehingga ia sangat menikmati dalam memperdalam bidang Sosiologi Kemiskinan. Apalagi dalam konteks keindonesiaan, kemiskinan dan kesenjangan sosial menjadi isu yang sangat krusial.

“Karena yang terjadi di Indonesia adalah bukan jumlah masyarakat miskin yang tak kunjung terselesaikan, tapi kesenjangan yang semakin lebar. Sehingga di kalangan kelas bawah sekarang mulai muncul kesadaran kelas,” ungkapnya.

Laki-laki yang aktif menulis di media massa ini mengatakan, eksploitasi konsumen akan berbahaya ketika konsumen menjadi konsumen yang boros, yang tidak bisa lagi membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan.

Bagong menawarkan solusi untuk meminimalisir kebiasaan masyarakat konsumtif. Bagaimana caranya? Yakni dengan pendidikan konsumen yang kritis, supaya konsumen menyadari ketika mau membeli produk, ia memikirkan ulang antara kebutuhan dan keinginan.

“Keinginan bisa puluhan. Butuh kecerdasaan dan sikap kritis konsumen, bahwa yang dia hadapai ini kapitalis yang selalu mengeruk keuntungan, bukan hanya upah buruh, tapi eksploitasi konsumen. Kini konsumen harus makin kritis,” ungkapnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya