Suatu pagi di sebuah kelas seorang profesor universitas memegang sebuah botol dan bertanya kepada mahasiswanya "Berapa kira-kira berat botol ini?". Seorang mahasiswa menjawab "500 gram". Ada lagi yang menjawab "600 gram". Dosen ini melihat ke mereka dan bilang, "Sebenernya kita nggak tau berapa berat botol ini sampai kita menimbangnya". Lalu dia bilang lagi, "Bayangin kalau aku pegang botol selama beberapa menit, kira-kira apa yang akan terjadi?". Seorang mahasiswa berteriak, "Nggak akan terjadi apa apa". Lalu dia bilang lagi, "Lalu apa yang kalau terjadi kalau aku pegang botol ini lebih lama? Ya kira-kira 3-4 jam". Lalu seorang mahasiswa menjawab "Tanganmu akan terasa pegal.”


"Lalu apa yang akan terjadi kalau aku pegang botol ini selama 24 jam?"

Advertisement

"Tanganmu akan terasa pegal dan mungkin akan sakit.”


Professor ini lalu berkata lagi "Perhatikan bahwa berat botol ini sebenarnya nggak berubah selama itu, yang berbeda adalah berapa lama kamu memegangnya". Pelajaran yang bisa diambil adalah, botol itu merepresentasian tantangan-tantangan kita, masalah kita, kekhawatiran kita, kecemasan kita tentang ketidakpastian yang ada disekitar kita, dan semakin lama kita memegangnya semakin besar rasa sakit kita.

Nelson Mandela pernah berkata,

Advertisement


"Ketika aku keluar dari gerbang penjara yang menuntunku pada kebebasan, aku tahu jika aku tidak meninggalkan kepahitan dan kebencian, aku masih tetap di dalam penjara."


Ketika kita secara sadar membiarkan diri kita merasa iri, marah hal ini membawa kita pada hal-hal negatif dan membuat kecemasan muncul pada diri kita.

Ini lah kenapa Mahatma Gandhi bilang,


"Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun masuk ke rumahku dengan sepatu kotor mereka, tapi yang lebih sering terjadi adalah, justru sepatu kita sendiri yang membuat rumah kita kotor."


Kita sering nggak sadar bahwa perasaan negatif dalam diri kita, penyebabnya adalah diri kita sendiri.

Memaafkan, merelakan, dan kemampuan untuk tetap bisa move on ketika orang lain menyakiti kita memang sulit, karena kita berusaha menerima permintaan maaf yang nggak pernah kita dapatkan. Jangan dendam. Aku percaya bahwa kita tidak bisa memperbaiki diri kita sendiri dengan cara menyakiti orang lain. Seperti yang buddha bilang,


"Dendam itu seperti meminum racun dan mengharapkan orang lain mati."


Ketika kita menginginkan orang lain merasakan sakit, sadar kalau kita menyimpan perasaan negatif terhadap orang lain, itu hanya akan merusak hati dan pikiran kita.

Namun, ketika kita bisa memaafkan, move on, merelakan dan menyadari bahwa internal healing, berdamai dengan perasaan-perasaan itu, inilah yang membuat kita damai bisa mengatasi masalah-masalah dalam hidup kita.

Dan ini sama sekali nggak mudah, karena terkadang kita juga menjadi penyebab orang lain terluka, kadang kita patah hati, kadang kepercayaan kita disalahgunakan, kadang kita dimanfaaatkan orang lain, kesetiaan kita di uji, itu sebabnya, pengampunan artinya bukan memaafkan tingkah laku yang membuat kita terluka tapi mencegah perilaku itu mempengaruhi kita dan ego kita.

Terkadang kita ingin menempatkan orang lain pada posisi kita, tapi sebenarnya kita harus mencoba untuk menempatkan diri kita pada posisi mereka.


Sesungguhnya, memaafkan bukan kelemahan melainkan kekuatan.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya