Dengan adanya tambahan media lain yaitu media sosial, sekarang arus informasi begitu kencangnya. Kabar angin itu yang sedari dulu cepat menjadi lebih sangat cepat melebihi angin lalu saja. Dan apakah itu berbahaya. Tentu saja. Apa yang kita baca, lihat dan perbincangkan mengendap dalam pikiran tidak mungkin langsung berlalu.

Masyarakat mungkin akan langsung terbakar begitu melihat sebuah wacana yang menyinggung, apalagi jika itu menyentuh ras ataupun sukunya. Tetapi apa tujuan seseorang menyebarkan hal itu?. Jika yang ia sebarkan benar adanya maka dia akan mendapatkan kesenangan batin. Tetapi jika yang ia sebarkan adalah kepalsuan dia akan mendapat hiburan dan tertawa terbahak-bahak dibelakang layar.

Advertisement

Sedari dulu sebenarnya hal itu ada dan terjadi. Perkataan "Knowledge is Power" sudah bukan lagi menjadi sesuatu yang pasti. "Power is Knowledge" adalah sesuatu yang harus dimasukkan kedalam pikiran masyarakat juga. Bahwa orang yang memiliki kuasa juga memiliki kekuatan untuk mengubah knowledge(pengetahuan) masyarakat menjadi apa yang ia inginkan.

Seperti yang kemarin gencar-gencarnya, penyerangan terhadap Ahok. Saya tidak akan membahas mengenai apa yang digencarkan itu. Tetapi dengan pernyataan dan pertanyaan sederhana dalam batin saya. Mengapa sampai sebegitunya dia di serang orang itu. Apa yang mendorong adanya berita dan wacana itu. Mengapa baru sekarang hal itu dilakukan dengan gencar-gencarnya. dan tidak sebelum-sebelumnya. Siapa yang membuat pertama kali wacana untuk penyerangan itu. Dan dimana saja titik-titik serangan itu terjadi.

Apa, siapa dan apa saja adalah salah satu pertanyaan-pertanyaan mendasar yang akan mengubah seluk beluk pemikiran masyarakat. Dengan begitu masyarakat dapat tidak menjadi sumbu-pendek alias menjadi suruhan petinggi-petinggi pembuat kuasa untuk wacana-wacana seperti itu.

Advertisement

Intinya jangan malas, disaat sekarang ini dimana pembuat kebohongan semakin banyak masyarakat harus mau untuk berpikir lebih mendalam, agar pemikirannya tidak disalah gunakan. Ingat saja, apa yang dianggap sepele-sepele tersebut tidak akan hilang dan tetap mengendap. Maukah kalian memiliki kepalsuan yang mengendap.

Mengenai kekuatan sebuah pemikiran yang mengendap dapa dibaca di tulisan saya mengenai manfaat mempelajari sejarah. Saya gambarkan disana kekuatan apa yang penguasa miliki sehingga dapat membelokkan pemikiran. Dan rakyat menjadi patuh adanya.

Dan tidak, tentu saja tidak. Saya tidak menyalahi aturan dengan membuat sebuah pernyataan ini yang mungkin bakalan ada yang mengatakan bahwa ini adalah sebuah tulisan yang menginginkan orang tidak mempercayai apa yang dibuat oleh penguasa. Tidak, kemajuan kita tidak berdasarkan teknologi saja tetapi kebudayaan. Sekarang adalah jaman dimana yang katanya demokrasi itu. Dan melakukan ini, mencari kebenaran adalah sebuah hak oleh setiap orang. Tidak ada raja-raja diantara kita sekarang yang sepatutnya yang ia katakan adalah kebenaran. Dunia lama itu telah mati dan berganti untuk kemajuan.

Dan tentu saja, anda yang membaca ini harus mempertanyakan apa maksud saya menulis ini. Dan harapan saya itu adalah menumbangkan raja-raja kecil yang seenaknya. Mereka adalah orang-orang dibalik layar yang menertawai kita. Kekuatan dan kekuasaan mungkin kita tidak punya, tetapi tanpa kita, tanpa kita yang diubah pemikirannya untuk menjadi anak buahnya apalah daya mereka. Tidak mungkin bisa.

Makanya jadilah raja untuk anda sendiri, bukan untuk glory ataupun kejayaan yang di idamkan. Untuk kemajuan, jika setiap orang mau dan ingin berpikir seperti itu, berpikir untuk kemajuan sesamanya. Akan anda dapati bahwa ini adalah panggilan seluruh umat manusia. Perbincangan di tempat-tempat kecil seperi warung kopi dan di trotoar jalan akan menjadi berarti tidak hanya di tempat itu saja. Serta yang terakhir ialah terima kasih atas waktunya membaca ini, semoga menginspirasi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya