Para penulis perfeksionis jarang menghasilkan karya karena mereka tak pernah memulai. Apakah kamu memiliki sifat tersebut? Bagaimana caranya mengatasi perfeksionisme dalam dunia tulis menulis? Sadarkah bahwa perfeksionisme bisa berujung ke sikap menunda-nunda, tertekan, dan stagnan? Terlebih lagi, kamu takkan menghasilkan suatu karya pun karena sifat perfeksionisme. Tidak ada salahnya punya keinginan menjadi sempurna. Masalahnya, kamu takkan berkembang jika memiliki pola pikir seperti itu. Sikap perfeksionisme muncul karena kamu takut mendapat kritik dari para pembaca. Suatu karya takkan bisa dinilai jika tidak terselesaikan. Masih mau menunda-nunda?

Mengatasi Sifat Perfeksionis

Cara terbaik mengatasi sifat perfeksionis dalam menulis adalah menghadapi rasa takut. Cobalah perbanyak kegagalan. Jika kamu tidak pernah takut gagal, kamu pasti menghasilkan lebih banyak karya. Kegagalan memberi tantangan untuk menjadi lebih baik. Faktanya, para penulis sukses adalah mereka yang sering gagal dan belajar dari kesalahan tersebut. Karya-karyamu mungkin jauh dari sempurna. Akan tetapi, karyamu ada dan diakui diluar sana. Ini lebih baik jika dibandingkan tidak menghasilkan karya sama sekali. Seberapa takut kamu gagal? Penulis sejati cinta dengan kegiatannya, tak peduli dengan rasa takut tersebut.

Advertisement

Ada banyak penulis merasa tak nyaman ketika pembaca mengkritik karya mereka. Alhasil, mereka mengorbankan gaya penulisan mereka untuk membuat senang segelintir orang tadi. Apa yang terjadi? Kehilangan keunikan dalam menulis adalah mimpi buruk bagi seorang penulis. Hanya karena kamu takut kritik maupun penolakan dari pembaca, bukan berarti kamu harus kehilangan jati diri sebagai seorang penulis. Gunakan kritik dan feedback negatif tadi untuk berkembang dan menjadi penulis yang lebih baik. Jangan korbankan kualitasmu karena ingin mendapat pujian dari segelintir kritikus. Mendapatkan feedback positif karena keunikan tulisanmu lebih baik dibanding berpura-pura menjadi sosok penulis lain.

Bagaimana cara menghadapi penolakan dari para pembaca. Kenyataan harus dihadapi. Sebuah karya takkan bisa memuaskan semua golongan. Pasti ada sekelompok negator atau hater diluar sana. Berhentilah melihat kritik dan penolakan sebagai suatu yang memalukan. Hanya karena tulisanmu mendapat kritik, bukan berarti kamu kekurangan bakat. Kegagalan bukanlah kelemahan. Pandanglah hal tersebut sebagai suatu kesempatan untuk berkembang dan belajar menjadi lebih baik. Jika ingin meningkatkan kesuksesan sebagai seorang penulis, perbanyaklah kegagalan. Jangan takut akan kritik dan penolakan dari pembaca. Terus berkarya sampai kamu mendapat pujian tulus dari pembaca. Artinya mereka mengakui keunikan dan talenta yang kamu punya.

Jadilah Versi Terbaik, Bukan Sempurna

Seorang perfeksionis tidak bisa membedakan antara realita dan ekspektasi. Keduanya merupakan aspek penting. Tetap saja, kamu perlu menyeimbangkan antara ekspektasi tinggi dan kenyataan yang ada didepan mata. Tidak peduli seberapa sempurna perencanaan yang kamu miliki, tidak ada hasil nyata tanpa tindakan. Memang benar bahwa menerbitkan novel atau menulis artikel berkualitas tidak semudah yang dipikirkan. Namun bukan berarti kamu tidak bisa melakukannya. Tidak perlu menjadi penulis sempurna. Cukup berikanlah kemampuan terbaik pada setiap tulisanmu. Dan lagi, mulailah sekarang juga.

Advertisement

Tidak ada kata sempurna untuk sebuah hasil karya tulis seperti novel, artikel, dan lain sebagainya. Setiap penulis memiliki keunikan dan gaya bahasa sendiri. Kamu hanya perlu menjadi diri kamu sendiri tanpa terpengaruh rasa takut dan kegagalan. Kritik dan penolakan adalah santapan sehari-hari seorang penulis. Jika mental kamu tidak siap dengan ini semua, jangan harap bisa meraih pencapaian manis dalam dunia menulis. Sikap perfeksionis hanya menjadi penghalang. Perkenalkanlah gaya penulisanmu ke para pembaca dan selalu tingkatkan kualitasmu. Itu saja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya