Menulis Itu mudah,

Yang benar?

Advertisement

Pertanyaan itu muncul di kepala usai membaca tulisan mas Nuran Wibisono tentang dangdut. Meski belum pernah bertemu langsung dengan orangnya, entah kenapa saya suka baca tulisan-tulisan beliau. Kata demi kata mengalir bak air sungai. Kata-kata yang dirangkai mampu membuat saya sebagai pembaca seolah sedang diceritakan langsung olehnya di depan mata. Bayangkan saja, mas Nuran menuliskan yang mungkin kenyataannya itu ‘cuma’ pengalaman nonton konser dangdut. Tapi saat membaca tulisannya itu seolah kita mengamati berbagai macam hal yang ada di sana, lewat mata beliau tentunya. Yah, namanya juga jurnalis lah, pasti tulisannya enak. Apakah semua jurnalis bisa bikin tulisan yang enak dibaca?

Sebenarnya bukan hanya mas Nuran Wibisono saja yang tulisannya ciamik. Beberapa penulis lain pun tak kalah enaknya. Tentu menurut saya juga, hehe. Seperti Iqbal Aji Daryono misalnya yang sering saya baca tulisannya di detik.com. Dan masih banyak lagi. Atau penulis-penulis lainnya yang belum saya tahu dan banyak baca. Di era yang serba internet, dan berkat beberepa media alternatif di dalamnya. Orang-orang seperti saya yang bisa di bilang jarang sekali beli buku ataupun berkunjung ke perpustakaan. Rasanya jadi lebih gampang menemukan tulisan yang enak dibaca dan sesuai selera. Entah itu esai, opini, cerpen, feature atau apapun nama jenis tulisannya itu. Dan, tanpa harus bertemu langsung sama penulisnya lebih dulu. Yang penting menarik dan enak dibaca!

Bagi saya, yang membuat tertarik untuk membaca tulisan sesorang itu bukan hanya judul dan isi kontennya saja. Tapi juga bagaimana sebuah tulisan itu bisa bikinanteng, lalu membacanya sampai selesai dan tak ada satu kata pun yang terlewati. Mabuk! Pertanyaan "siapa sih yang nulis ini, kok enak dibaca ya", biasanya muncul dalam hati setelah selesai membacanya, penasaran. Layaknya orang yang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Aduh, maaf basi.

Advertisement

Setelah itu, berujung dengan mengunjungi profil dan membaca tulisan lainnya yang ada. Tapi, dasar manusia memang tak pernah puas. Rasanya masih saja kurang kalau hanya membaca tulisan-tulisannya tok. Demi memenuhi itu, mulailah aktivitas masa kini yang mungkin bisa di bilang unfaedah, kepo akun Instagram dan media sosial lainnya. Klik Follow, like, retweet! Seketika berseliweranlah orang-orang ‘sakti’ itu di timeline. Ya cuma sekedar mengikuti saja. Mau mengirim pesan ngajak kenalan, emang siapa saya? Ujug-ujug (tiba-tiba) minta kenalan? Dari pada dikira sok kenal, yasudah jadi silent reader saja sambil cengar-cengir (senyum-senyum) menikmati tulisannya.

Beberapa kali saya mencoba menulis yang niatanya memang cuma biar enak dibaca saja. Materi yang akan jadi percobaan pun amat sederhana. Misal, pergi ngopi bareng teman atau pengalaman bertemu orang baru di angkringan. Yang terjadi apa? Baru satu paragraf saja, tombol back space di papan keyboard langsung saya tekan lama. Delete kabeh! (hapus semua!). Itu baru berniat demi enak dibaca, belum soal penting apa enggak materi tulisannya.

Dibandingkan dengan membaca, menulis menurut saya adalah hal yang sulit. Cuma menulis satu paragraf asal-asalan saja susahnya bukan main. Belum lagi soal kaidah bahasa yang baik dan benar. Padahal, setiap hari sebenarnya kita sudah baca sekaligus nulis lho. Nagih hutang lewat Whatsapp, mbribik cewe via DM Instagram, atau ngomentarin status Facebook orang, bukannya termasuk aktivitas nulis juga kan? Seperti kata mas Iqbal Aji Daryono dalam tulisannya yang pernah saya baca. Tapi kenapa kalau menulis semacam artikel susah sekali ya?

Sedangkan membaca, kita bisa memilih menikmati tulisan orang. Carilah tulisan-tulisan yang menurut kita enak dan sesuai selera. Yang penting, seandainya baca artikel opini isu tertentu, jangan lupa cari tulisan dari penulis lain juga yang bahas isu sama. Syukur-syukur yang benar-benar beda sudut pandang. Biar bacaan kita beragam dan nggak ‘saklek’, langsung sepakat dengan pendapat satu orang penulis saja.

Selain enak dibaca tak sedikit juga tulisan-tulisan dari mereka itu berisi pengetahuan-pengetahuan baru, atau isu-isu yang mungkin layak kita tahu. Syukur-syukur bisa mencerahkan. Kalau belum ya, minimal bisa bikin kamu betah lama-lama baca. Semisal tulisan mereka ada yang terkesan nyinyir pun, dan kamu merasa dinyinyirin, paling ya langsung misuh dikit, tapi sambil ketawa. hahaha

Saat ini media online, utamanya yang mendaku alternatif itu menyediakan banyak bacaan menarik dan enak. Coba cari saja sesuai minat dan selaramu. Daripada belum sanggup dengan baca banyak buku.Tak ada salahnya, dimulai dengan suka baca dulu dan merasa enak melakukannya. Setelah itu, kalau ada uang boronglah buku-buku yang bisa nambah wawasan atau sekedar sesuai kesenangan. Daripada kuota internetmu ludes cuma buat bolak-balik buka notif instastory ngelihat siapa aja yang nonton. Kurang kerjaan banget, sih! Mendingan ludes karena kencanduan baca to?

Sudah sana cari bacaanya. Masih nggak tahu cara carinya? Yaelah, katanya makhluk zaman now? Percayalah membaca itu enak, nek dikancani kopi panas karo gedang goreng. Srupuuut, nyam nyam! (kalau ditemani kopi panas sama pisang goreng) Eh, ini udah enak dibaca belum, yaa? Hehe :)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya