Tapi aku tak mau berbicara masalah rindu, aku hanya ingin bercerita, dan sungguh aku menulis ini semua dengan rasa bersalah tak termaafkan untuk yang aku lakukan dulu. Bu, aku hanya ingin mengutarakan sebuah kenangan sekaligus permohonan maaf yang terkadang rasanya sulit sekali terucap saat mata kita saling bertemu. Mungkin Ibu sudah lupa, atau melupakan, tapi Ibu akan mengingatnya kembali, teringat pada hal yang sebenarnya tak ingin kubahas karena malu bukan kepalang.

Aku ingin kembali ke cerita saat itu, saat aku baru beranjak remaja, pada usia di mana aku sendiri belum yakin apa yang aku perbuat memang salah atau bisa dikatakan benar atau minimal sah-sah saja. Pada saat itu, gejolak dalam diriku seolah ingin bilang bahwa yang Ibu lakukan adalah salah dan terlalu membuat aku malu dan bingung bersikap di hadapan teman-temanku.

Advertisement

Ya, saat itu ketika ibu memutuskan untuk menaruh niqab di wajahnya setiap keluar rumah, oh setiap bertemu orang yang bukan mahram Ibu. Bu, sungguh saat itu aku belum benar-benar paham tentang hal ini. Saat itu aku sedang duduk di kelas 6. Saat itu, aku memang belum menerima kalau Ibu, seseorang yang sangat memainkan peran penting di hidupku mengambil keputusan untuk berniqab. Dan harus kalian tahu, saat itu belum ramai orang bercadar di Indonesia, terlebih di kampung kami.

Aku tidak ingat sehingga aku tidak bisa mengatakan jika Ibu orang satu- satunya yang berniqab saat itu. Tapi yang aku ingat dan yakin, jika berniqab saat itu adalah hal yang tabu dan selalu dikaitkan dengan teroris. Dan kalian tahu bagaimana bentuk pemberontakan penolakan seorang anak perempuan yang selalu ingin terlihat baik di hadapan teman- temannya. Ya, aku orang itu, aku melarang Ibu untuk datang ke sekolah, bahkan aku melarang Ibu untuk datang ke acara perpisahan kelas 6 saat itu.

Sungguh aku malu dan tak tahu bagaimana harus menjelaskannya jika ada yang bertanya. Sungguh! Tapi ibu? Ibu tetap saja datang dengan kado di tangan beliau untuk guruku. Hal yang seharusnya selalu aku syukuri, Ibu selalu menunjukan segala hal baik, karena Ibu memang orang baik sebelum ataupu sesudah berniqab. Lalu, bagaimana perasaan saat itu? Jelas marah , malu bukan main, dan bingung. Dan semua itu tak bisa dikeluarkan. Pendewasaan diri itu akan berlangsung dengan seiringnya waktu, dan aku yakin itu dan sudah semakin paham sekarang.

Advertisement

Menjadi dewasa bisa melalui berbagai hal, termasuk hal yang ingin aku ceritakan sekarang "eh mau kemana bu? Mekkah?" Ya kurang lebih seperti itu ucapan bapak sopir angkot saat aku dan Ibu hendak naek angkot ke suatu tempat. Dan bagaimana perasaanku saat itu. Perasaanku sudah tak lagi malu, tapi marah. Juga bagaimana saat anak- anak di kampung kami, berlarian ketakutan saat Ibu lewat. Aku sungguh tak lagi malu, tapi aku marah. Aku marah pada setiap orang yang melihat Ibu dengan pandangan yang aku bilang kurang mengenakan dan penuh curiga.

Bukannkah sudah saatnya, kita bertukar posisi dan bergantian peran? Melalui peristiwa itu, aku tahu, yang harus aku lakukan bukan hanya menerima,tapi mendorong Ibu, dan menjaga ibu. Karena nyatanya memang tidak ada yang salah, Ibu bukan seorang agen terorisme, Ibu bukan seorang muslimah yang radikal. Beberapa kali aku pergi dengan ibu ke pusat pembelanjaan atau pusat keramaian lainnya. Beberapa kali juga, aku masih saja mendapati mata- mata curiga dan mulut nyinyir terhadap Ibu.

Pernah suatu waktu, "Ibu itu mukannya kenapa ditutupin ya? Jelek kali ya" Tanya seorang abang penjual yang barang- barangnya sudah Ibu borong. "mas, mau tahu muka Ibu saya, liat saya aja, saya anaknya. cantik bukan" kataku saat itu sambil meloyor pergi Bu, penyesalan itu selalu datang belakangan bukan? Iya, seperti hal nya aku yang menyesal atas apa yang aku lakukan dulu.

Dan aku tahu menyesal tanpa sebuah usaha perbaikan tidak bagus. Maaf jika selama ini lidahku kelu hanya untuk bilang maaf. Maka dari itu, Bu, aku ingin bercerita tentang hal ini, hanya karena seperti ada rasa bersalah yang tak kunjung usai. Aku selalu ingin bercerita bagaimana kagumnya aku pada sosok yang namanya selalu aku sebut ketika aku takut. Bu, juga maafkan aku yang selalu menyebut namamu berulang kali, tatkala takut, gelisah dan juga senang tak terbendung.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya