Salah satu profesi yang saya tekuni adalah berbisnis. Banyak produk yang saya jual seperti buku karya saya sendiri, susu kambing, kurma, hewan qurban dan aqiqah, hingga oleh-oleh haji.

Sebagai orang yang menempuh jalan bisnis sebagai sumber pemasukan, tentu menjadi sangar wajar jika saya menginginkan adanya profit alias laba alias keuntungan dalam setiap penjualan. Dengan konsep matematika sangat sederhana bab aritmetika sosial yang dulu saya dapatkan saat masih sekolah, saya ingin total pemasukan dalam setiap penjualan barang lebih besar dari jumlah pengeluaran (pembelian produk, ongkos transportasi, dan pengeluaran lainnya). Berangkat dari kalkulasi inilah harga jual dirumuskan. Biasanya sih saya memasang target laba paling sedikit 5.000 rupiah per produk.

Advertisement

Di sisi lain, saya juga menyadari sepenuhnya status diri ini sebagai makhluk sosial. Saya butuh adanya manusia lain. Interaksi sosial dalam ikatan pertemanan adalah keniscayaan yang tak bisa dihindarkan.

Adanya dua status inilah yang kerap memunculkan dilema. Konflik kepentingan sering menjajah perasaan. Hal ini disebabkan cara berpikir dalam alam pertemanan dalam dunia bisnis yang bertolak belakang. Dalam paradigma pertemanan yang masih berlaku hingga zaman now, titik utamanya adalah solidaritas, kesetiakawanan, kepedulian, saling membantu, tidak berpikir untung rugi. Sedangkan dalam dunia bisnis jelas profit oriented.

Karena itu saya sudah terbiasa dengan istilah "harga pertemanan" yang berarti harga semiring-miringnya khusus buat teman senditi. Istilah ini masih mendingan. Yang lebih kejam dan sadis jika sudah bertemu dengan pertanyaan khas pertemanan,"Ada sampelnya, nggak? Ada gratisannya, nggak?"

Advertisement

Kadang saya jadi merenung,"Ini teman apa tukang palak, ya?" Okelah kalau yang minta harga termurah atau bahkan gratisan ini teman dengan kemampuan finansial lagi di bawah saya ikhlas memenuhi permintaan mereka dengan niat sedekah. Tapi kalau yang minta itu teman dengan kondisi keuangan tergolong middle up, kalau belanja sukanya ke minimarket atau bahkan ke mall, penghasilannya minimal 3,5 juta per bulan, ini yang ironis, tragis, dan miris.

Kalau sudah diperlakukan demikian, rasanya saya ingin menyanyikan lagunya almarhum Haji Meggy Z,"Sungguh dirimu teganya teganya teganya teganya….. ooooooooh…. pada diriku."

Menghadapi kondisi #merdekatapi terbelenggu pertemanan yang masih menjerat di era millenial ini, saya memilih untuk lebih banyak menawarkan dagangan kepada orang-orang yang belum mengenal saya. Tanpa ikatan pertemanan, transaksi bisa saya jalankan secara profesional atas prinsip suka sama suka, rela sama rela. Kalaupun menjalin hubungan bisnis dengan teman, saya memilih menjual barang kepada teman sejati yang tidak mengeksploitasi temannya di balik istilah harga pertemanan apalagi minta sampel gratisan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya