Hanya pada satu sudut kota Jakarta ini, peninggalan sejarah tidak dikurung dalam lemari kaca. Tidak diletakkan dalam ruangan remang-remang dalam museum dimana kamu bersama lima puluh orang lainnya bertarung untuk mengambil hanya satu foto saja. Pada satu sudut kota Jakarta ini, barang-barang antik menghirup asap kota Jakarta, berbaring dengan aman dan tenteram pada rak-rak kayu yang sudah lama menjadi tempat tinggal mereka. Setiap barang yang dijual disini memiliki kehidupan mereka sendiri.


Ada yang telah hidup melalui masa penjajahan Indonesia, ada yang telah melihat secara langsung masa pasca kemerdekaan Indonesia yang jaya raya, dan ada juga yang datang dari negeri-negeri jauh.


Advertisement

Sudut kota Jakarta ini disebut Jalan Surabaya, yang berada di antara rumah-rumah mewah kawasan kaum elit, yakni Menteng. Berdasarkan namanya, Jalan Surabaya memang hanya itu-sebuah jalan. Namun, sepanjang jalan ini terdapat banyaknya kios yang telah berdiri sejak tahun 1974. Pada tahun yang sama, pasar antik Jalan Surabaya diresmikan oleh Ali Sadikin, salah satu gubernur Jakarta. Saya pun tidak pernah menyangka bahwa ada tempat seperti Jalan Surabaya di Kota Jakarta, yang semakin tahun semakin menjadi kota metropolitan yang maju, modern, dan.. membosankan.

Ya, membosankan, dalam arti kota Jakarta menjadi kota yang hambar. Tidak berjiwa. Warnanya memudar menjadi kelabu. Itulah suka dukanya modernisasi. Tidak seperti cinta, kita terlupa pada keindahan masa lalu.

Sebagai seorang penggemar hal-hal bersejarah, benda-benda kuno yang dijual di Jalan Surabaya saya pandang sebagai harta karun. Penampilan mereka yang sudah menua dengan emas yang sudah berkarat memiliki nilai yang sama dengan emas baru yang berkilau dalam mata saya. Pertama kali mengetahui Jalan Surabaya adalah lewat ayah saya yang sering membawa ketiga anaknya bepergian ke berbagai macam penjuru kota Jakarta. Tujuannya memang standar, hanya untuk jalan-jalan, namun niatnya adalah untuk memperlihatkan sisi lain kota Jakarta yang bukan hanya sekadar lanskap pencakar langit, mal-mal besar, dan keramaian tengah kota.

Advertisement

Beberapa tahun silam, obsesi saya dengan musik bercabang pada piringan hitam. Saya sempat berpikir, “Kesederhanaan bentuk piringan hitam, keajaiban yang ditimbulkannya sungguh tidak sebanding dengan yang lain.” Sedihnya, obsesi dengan piringan hitam memerlukan dompet yang cukup tebal. Setelah bertanya kepada ayah saya mengenai tempat-tempat di Jakarta yang menjual piringan hitam berharga murah, jawabannya hanya satu: Jalan Surabaya. Tidak lama kemudian, saya bersama ayah melintasi jarak yang jauh, dari Jakarta Timur ke Jakarta Selatan, dalam perjuangan saya untuk mencari piringan hitam.

Mungkin karena sudah beberapa kali saya mengunjungi Jalan Surabaya, ingatan pada kunjungan paling pertama hampir menghilang. Yang tersisa tidak banyak, tetapi saya mampu mengenang kembali panasnya terik matahari yang bergantung di langit terlukis biru muda. Pohon-pohon tua yang berdiri sejajar di samping jalan menjadi pelindung saya, rantingnya serta daun-daun kecil melambai bersama hembusan angin.

Menahan panas, saya turun dari mobil bersama ayah dan berjalan ke arah pasar antik. Semenjak ketibaan saya di Jalan Surabaya, hal paling pertama yang saya perhatikan adalah betapa sepinya tempat itu. Setelah berpikir-pikir lagi, kesunyian Jalan Surabaya merupakan hal yang wajar sebab letaknya yang memang di Menteng, sebuah daerah yang terus membisu. Bunyi paling keras yang dapat didengarkan di daerah ini adalah desir daun-daun yang terlantar di pinggir jalan.

Pada pandangan pertama, Jalan Surabaya terlihat sangat panjang sejauh mata memandang. Namun, pasar antik hanya menghuni sebagian dari jalan yang panjang itu. Sisanya diisi oleh toko-toko berisi koper yang saling berdempetan dengan satu sama lain, bahkan ada yang menumpuk. Bukan hanya barang antik dan koper saja, tetapi apa yang ditawarkan Jalan Surabaya mencakupi banyak hal, dari wayang dan senjata tradisional, lampu kristal, kamera kuno, telefon putar, guci porselen berdekoratif cina, piringan hitam, ukiran batu, dan beribuan pernak-pernik unik lainnya. Namun, pada awalnya, Jalan Surabaya, bukanlah pasar antik dan koper yang saya ketahui sekarang.

Pada tahun 1960-an, sejumlah pedagang diusir dari Pasar Rumput lalu datang ke Jalan Surabaya untuk menjual barang-barang bekas rumah tangga. Pasar terus berkembang dan menjadi lebih tertata setelah tahun 1975, ketika para pedagang membangun tempat untuk menjual yang lebih terstruktur dengan tiang besi dan terpal. Menurut Bambang Aroengbintang, seorang travel blogger berpengelaman, insentif penataan pasar dilakukan karena “Penertiban besar-besaran terhadap pedagang kaki lima di Jakarta yang terjadi pada Agustus tahun 1970.” Yang tadinya jumlah pedangang hanya puluhan, kini menjadi sekitar 200 pedagang yang membuka lapak di Jalan Surabaya.


Dua tahun setelah kunjungan pertama ke Jalan Surabaya, saya kembali bertemu lagi dengan jalan nan ajaib ini hanya untuk sejenak. Semua terlihat sama, kecuali ada keramaian yang mengisi kehampaan Jalan Surabaya yang saya kenali.


Sepanjang jalan mobil berderet manis, bersebelahan dengan kios-kios pasar. Hanya ada sepasang turis asing yang bergandengan tangan pada siang hari itu. Melihat wajah mereka yang memerah, tersipu malu akibat godaan panas sang surya, saya tertawa. Mumu Hidayat, Ketua Pedagang Jalan Surabaya, sempat menyatakan dalam wawancara dengan Kompas, bahwa Jalan Surabaya pernah melihat jumlah turis asing yang melonjak pada tahun 1980 hingga 1995. Sedihnya, akibat daya beli masyarakat yang menurun serta perkembangan perdagangan online yang semakin mendominasi ekonomi, sudah dikit pembeli barang antik yang datang ke Jalan Surabaya.

Sambil melewati jalan ini, saya memperhatikan bahwa pasar terbagi dengan rata berdasarkan dagangan toko. Adapun bagian yang menjual barang-barang tradisional seperti keris, topeng kulit, dan wayang, lalu setelah mengambil beberapa langkah, saya tiba pada bagian pasar yang menjual berbagai lampu kuno. Itulah yang menjadi salah satu keunggulan Jalan Surabaya. Kamu tidak akan pernah tahu apa yang kamu akan temukan di Jalan Surabaya.

Saya menyadari hakikat dalam pernyataan itu ketika saya menemukan toko piringan hitam yang terselip di antara toko-toko koper bekas. Mengakhiri perjalanan, saya menghabiskan satu-satunya lembar uang seratus ribu saya untuk membeli piringan hitam. Saat saya menulis kata-kata ini, suara Connie Francis, dilatari oleh gitar Spanyol, mengisi kesunyian kamar tidur saya. “Bésame, bésame mucho, como si fuera esta noche, la última vez,” rayunya.


Di saat piringan hitam berputar, ingatan saya pada Jalan Surabaya terbangun dan seakan-akan saya berdiri di jalan trotoar itu lagi.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya