Sekarang ini, kita bisa lihat dimana-mana perihal fenomena pada anak yang banyak orang menyebutnya sebagai “Kids Zaman Now”. Isn’t? Jika berada pada jalur yang benar, hal itu bukan suatu masalah bagi siapapun.

Sayangnya, label yang tertera dengan pemilik julukan semacam itu lebih banyak mengarah kepada hal-hal negatif yang dilakukan anak. Mulai dari penggunaan bahasa yang melebihi kapasitasnya sebagai anak-anak (bahasa yang negatif), tingkah laku yang juga mengikuti orang dewasa dan tidak pantas dilakukan seorang anak, pergaulan yang lebih bebas, dan banyak hal lagi yang saya rasa pembaca bisa menyadari itu bahkan lebih peka dibanding saya.

Advertisement

Apabila ditanya penyebab hal tersebut, akan banyak yang sepakat bahwa jawabannya adalah teknologi dan media masa. Itu benar, tapi pasti ada beberapa yang lupa memasukan unsur kasih sayang dan kepedulian dari lingkungan. Jelas, sebab lingkungan adalah unsur yang memberi pengaruh paling besar terhadap perkembangan anak. Lingkungan disini bukan sekedar rumah, sekolah, bukan tempat tinggal, melainkan orang-orang dewasa di dalam lingkungan itu terlebih orang tua.

Berapa banyak waktu yang anda habiskan untuk anak anda? Berapa kali dalam sehari anda memperhatikan luka atau goresan pada lengan anak anda? Berapa piring makanan yang dihabiskan bersama anak anda? Berapa banyak deru tawa yang anda dengar dari anak anda ketika sedang bersama? Atau bagi para guru, berapa kali anda menanyakan kabar siswa? Berapa kali anda memberi senyuman dari setiap kesalahan siswa? Berapa kali anda menanggapi setiap hal yang dikatakan siswa? Sedikit sekali.


Sebuah penelitian mengatakan bahwa anak-anak yang berada di panti asuhan memiliki IQ lebih rendah dibandingkan anak-anak yang tinggal bersama kedua orangtuanya dan cenderung memiliki ukuran otak yang pula lebih rendah. Anak-anak di rumah sakit cenderung lebih mudah mengalami stress dibandingkan anak-anak yang bermain di taman bersama keluarganya. See? Sebuah kehadiran memberikan banyak perubahan.


Advertisement

Anda boleh percaya atau tidak dengan yang saya sampaikan. Saya adalah seorang guru yang meskipun belum baru, sudah menemui cukup banyak sifat-sifat dan perilaku anak. Pertama kali saya temui pada saat melakukan penelitian, ada seorang anak yang memiliki tingkat emosi tinggi dan kesulitan dalam meredam emosi. Anak itu memainkan ponsel pada saat saya mengajar, kali pertama dan kedua saya tegur dengan memintanya untuk berhenti memainkan ponselnya dan menyimpan ponsel itu ke dalam tas.

Namun anak itu tidak menurut juga, kemudian saya ambil paksa ponsel miliknya. Menurut anda apa yang ia lakukan? Ya, ia menuju ke arah saya dengan penuh amarah dan memaki-maki saya sambil mengatakan “Kamu pikir, kamu itu siapa? Berani kamu ambil ponsel saya, saya bisa laporkan kamu kepada ayah saya. Kamu tahu? Bagi saya, kamu itu Anjing!” begitu yang dikatakannya kepada saya.

Sayangnya, pada saat itu saya melakukan hal yang salah, saya memarahinya di depan teman-temannya dan malah melakukan pembelaan dengan meminta anak-anak lain memilih siapa yang salah di antara kami. Dia masih saja marah dan terus meneriaki saya ketika saya memberi tugas di keesokan harinya dan karena saya masih kesal saya pun tidak mempedulikannya (kesalahan kedua saya), sampai hari ketiga saya menemukan ide.

Membuat burung dari kertas origami, membuatkannya bagi anak-anak di kelas, kemudian saya menghampirinya sambil menepuk bahunya “Kamu mau ibu buatkan burung kertas seperti yang lain?” apa ia marah? Tentu tidak. Dia tahu saya tidak lagi marah padanya, ia kembali mendekati, tidak lagi marah-marah ketika saya memberi perintah mengerjakan apapun.

Kedua, di sekolah tempat saya mengajar kali ini. Anda boleh coba bertukar tempat dengan saya, sehari saja mengajar di kelas ini. Karena guru-guru lain di sekolah hampir semua mengangkat tangan ketika diminta mengajar di kelas spesial ini. Anak-anaknya tidak mau mendengarkan perintah jika tidak ada penggaris yang mengenai meja mereka, atau coretan spidol di wajah mereka, atau ancaman-ancaman lainnya.

First time, saya kira “Oh, mungkin memang begitu ya cara supaya mereka mau belajar”. It worked, tapi hanya untuk beberapa menit. Kemudian saya mengingat-ngingat lagi ilmu-ilmu yang saya pelajari perihal Montessori dan Theraplay, keduanya sama dalam hal beri kesempatan anak untuk memilih dan pentingnya sebuah kasih sayang. Yang semula “Buka buku pelajaran Matematika sekarang!” jadi “Kalian mau belajar apa? Matematika atau Bahasa Indonesia terlebih dahulu?”.

Awalnya “Ibu memerintahkan kamu untuk mengerjakan soal, bukan menggambar!” jadi “Kamu menggambar apa? (biarkan ia menjelaskan); Tugas dari ibu sudah dikerjakan? Mana yang lebih dulu mau dilakukan, menggambar atau mengerjakan tugas dari ibu? (let them choose)”. Kemudian dari yang marah-marah karena mereka tidak mau diam di tempatnya dan membuat mereka semakin tidak mau diam, penggunaan kata “Bisa bantu ibu untuk tidak membuat keributan di kelas?; bisa bantu ibu untuk menjaga amarah ibu?; tolong kembali ke tempatmu nak, teman-temanmu ingin belajar.” Kira-kira mereka bagaimana?

Ya, mereka menurutinya. Setelah itu ucapkanlah “Terima kasih” dan saya pun tidak segan meminta maaf kepada mereka jika tanpa sengaja saya lepas kendali, entah itu secara langsung kepada banyak anak atau kepada beberapa anak melalui catatan kecil di bukunya. And now, dengan hanya saya memanggil mereka, mereka paham bahwa mereka sedang melakukan kesalahan yang saya tidak ingin mereka melakukannya, dan mereka akan membenarkan sebagaimana yang saya inginkan.

Saya kira, sebuah ketegasan adalah kunci utama untuk membuat anak tunduk. Tapi ternyata yang mebuat anak patuh adalah perlakuan lembut dan kasih sayang. Mereka akan percaya bahwa kita tidak akan marah dan mengabaikan mereka hanya karena mereka melakukan kesalahan tapi mereka tetap tahu bahwa mereka harus memperbaikinya. Saya telah mencobanya, teman saya sudah mencobanya dan ia pun merasakan perbedaannya. Penggunaan kemarahan dengan penggunaan kelembutan.

Itu untuk konteks sebagai seorang guru, sebagai orangtua perannya jauh lebih kuat dari itu karena seharusnya orangtua memiliki waktu lebih banyak bersama anak-anak.

Teknologi sebenarnya sangat membantu, tapi bukankah waktu yang dihabiskan anak-anak untuk bermain dengan gadget yang anda berikan itu jadi lebih berharga ketika anda gunakan untuk bermain congklak bersama? Bukankah, tontonan televisi yang anda tayangkan pada anak anda akan jauh lebih berharga ketika digunakan untuk mengobrol mengenai aktivitas anak?


Anak-anak tak selamanya jadi anak-anak. Tidak akan lama. Percayalah Ayah, Bunda, Kakak, Om, Pak Guru, Bu Guru, dan orang-orang dewasa yang tinggal bersama dengan anak-anak. Jangan hanya tinggal bersama dalam satu lingkungan, tapi tinggalah berdampingan karena anak-anak juga bisa membuat orang dewasa banyak belajar.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya