Akhir-akhir ini, stasiun berita di televisi marak dengan berita-berita seputar kekerasan kepada anak, baik secara mental maupun fisik. Kekerasan-kekerasan ini dapat merusak mental mereka, bahkan jika berlebihan dapat berakhir dengan kematian. Tidak jarang juga kita melihat berita tentang pembunuhan sadis terhadap seorang anak.

Seringkali pelaku dari kekerasan terhadap anak tidak lain dan tidak bukan adalah orang tua mereka sendiri. Memang tidak ada kamus yang tepat untuk orang tua belajar tentang cara mengasuh anak mereka. Namun, banyak faktor yang harus dipertimbangkan agar orang tua dapat mendidik anak mereka dengan benar, seperti bagaimana pola asuh dapat memengaruhi perkembangan anak.

Advertisement

Para orang tua harus paham, bahwa anak mendapatkan pelajaran tentang kehidupan pertama kali melalui interaksi mereka dengan keluarga mereka. “Karakter dipelajari anak melalui model para anggota keluarga yang ada di sekitar terutama orang tua.”[i] Hal ini menjelaskan bahwa orang tua dan anggota keluarga memiliki peran yang sangat besar bagi perkembangan mental anak. Dengan ini, orang tua harus benar-benar memperhatikan apa yang mereka ucapkan serta lakukan kepada anak, terutama pada anak usia dini.

Pola asuh orang tua sendiri terbagi menjadi tiga macam yaitu otoriter, permisif dan otoritatif. Masing-masing dari pola asuh ini memiliki ciri khas dan efek tersendiri terhadap perkembangan anak. Orang tua yang menggunakan pola asuh otoriter cenderung untuk mengatur, memerintah dan melarang anak tanpa memperhatikan kebutuhan anak itu sendiri.

Mereka hanya mementingkan kebutuhan mereka sendiri dan menekankan peraturan mereka. Pola asuh yang kedua adalah permisif. Permisif memiliki ciri khas pada orang tua yang memberikan kebebasan berlebihan kepada anak. Orang tua permisif tidak pernah menekankan apapun kepada anak mereka, mereka jarang mengontrol perilaku anak mereka.

Advertisement

Terakhir adalah pola asuh otoritatif atau bisa juga disebut dengan pola asuh demokrasi. Orang tua yang menggunakan pola asuh ini membebaskan sang anak untuk menentukan kehendak mereka sendiri dan melakukan apa yang mereka inginkan. Meski begitu, orang tua tetap berperan sebagai pembimbing yang mengontrol serta membimbing mereka dalam menentukan hal yang baik dan buruk. Orang tua dan sang anak menjalin hubungan yang baik dan seringkali berkomunikasi.

Setelah mengetahui ciri khas dari masing-masing jenis pola asuh, kita harus mengetahui efek dari pola asuh tersebut dan dampak terhadap perkembangan mental anak. Efek dari pola asuh sebenarnya baru jelas terlihat saat anak menginjak usia remaja–mulai terlihat sifat asli mereka terutama saat berinteraksi dengan orang lain–dan menjadi bagian dari komunitas sosial. Saat kita melakukan interaksi dengan teman sebaya kita, kita dapat melihat perbedaan di antara mereka.

Perbedaan tersebut bisa dilihat dari cara mereka berbicara serta pembawaan diri mereka dalam keseharian mereka. Anak yang diasuh di bawah orang tua otoriter cenderung untuk tumbuh dengan sikap yang suka memberontak dan menjadi pribadi yang penakut serta memiliki kepercayaan diri yang rendah. Sedangkan anak yang diasuh dibawah orang tua permisif memiliki kecenderungan untuk bersikap kurang bertanggung jawab dan memiliki peluang untuk menjadi manja.

Terakhir adalah dampak kepada anak dari pola asuh orang tua otoritatif. “Pola asuh otoritatif dapat mendukung perkembangan kreativitas.”[ii] Otoritatif dapat mendukung anak untuk Jika orang tua menggunakan pola asuh otoritatif kepada anak, sang anak akan memiliki peluang besar untuk menjadi pribadi yang penurut karena mereka mengerti apa yang diinginkan orang tua.

Dari dampak-dampak tersebut, kita dapat mengetahui bagaimana cara mereka berinteraksi (perilaku sosial) berdasarkan pola asuh yang mereka dapatkan dari orang tua. Menurut Rizki Liza Bunda Putri, perilaku sosial anak dapat dilihat dari empat hal yaitu kerja sama, tolong menolong, cara mereka menghormati, dan cara mereka berbagi. Sebelum anak berinteraksi dengan teman sebaya mereka, mereka terlebih dahulu berinteraksi dengan orang tua dan anggota keluarga mereka.

Cara mereka berinteraksi dengan anggota keluarga akan menentukan cara mereka berinteraksi di komunitas sosial mereka. Sedangkan cara mereka berinteraksi dengan anggota keluarga ditentukan dengan bagaimana anggota keluarga mendidik anak tersebut dan pola asuh orang tua. Oleh karena itu, pola asuh orang tua dapat berdampak kepada perilaku sosial mereka. Perilaku yang anak terapkan dalam kehidupan sosial mereka cenderung berbeda dengan dampak mental yang mereka dapatkan.

Seperti perilaku sosial dari anak yang diasuh dibawah orang tua otoriter. Anak yang sering mendapatkan perilaku keras baik mental atau fisik malah cenderung untuk menunjukan sikap bersahabat, ramah dan menunjukan empati yang tinggi terhadap teman sebayanya. Bisa diprediksi bahwa anak-anak tersebut tidak ingin temannya merasakan apa yang ia rasakan dan menunjukan kepeduliannya.

Sedangkan anak yang diasuh dibawah orang tua permisif cenderung menunjukan sikap memberontak, agresif, dan mereka seringkali mendominasi teman sebaya mereka. Hal ini dikarenakan orang tua tidak pernah mengontrol apa yang dilakukan oleh sang anak sehingga anak memiliki kebebasan untuk melakukan apapun yang mereka inginkan.

Terakhir adalah perilaku sosial dari anak yang mendapatkan asuhan otoritatif. Orang tua otoriter cenderung untuk menunjukan dukungan tinggi namun tetap mengontrol perilaku anak pada saat yang sama. Orang tua yang memiliki sikap seperti itu akan menimbulkan perilaku anak sebagai berikut: anak bersikap sopan, memiliki rasa percaya diri, mampu mengendalikan diri (self control), mau bekerja sama, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.”[iii]

Setelah mengetahui ciri khas dan dampak terhadap perkembangan dan perilaku sosial anak, dapat disimpulkan bahwa pola asuh otoritatif (demokratif) adalah pola asuh yang sebaiknya digunakan oleh orang tua. Pola asuh otoritatif menerapkan peraturan yang ketat namun orang tua tetap memberikan dukungan kepada anak. Peraturan tersebut juga dapat berubah sesuai dengan kebutuhan sang anak.

Anak yang berada dibawah asuhan orang tua otoritatif telah dibuktikan bahwa mereka menunjukan sikap-sikap yang positif. Bagi para orang tua, mungkin memang berat untuk menetapkan pola asuh otoritatif, namun, hal ini dapat diatasi. “Komunikasi dan musyawarah menjadi kunci utama keberhasilan pola asuh demokratis ini.”[iv]

[i] Budiman, dan Tapiana Sari Harahap. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Perkembangan Anak Usia Dini. Bandung: Politeknik Negeri Bandung, 2015.

[ii] Riati, Irma Khoirsyah. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Perkembangan Anak Usia Dini. Infantia Vol. 4 No. 2. Serang: Program Studi S1 PGPAUD Universitas Pendidikan Indonesia, 2016.

[iii] Putri, Rizki Bunda Liza, et al. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Perilaku Sosial. Jambi: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau.

[iv] Riati, Irma Khoirsyah. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Perkembangan Anak Usia Dini. Infantia Vol. 4 No. 2. Serang: Program Studi S1 PGPAUD Universitas Pendidikan Indonesia, 2016.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya