Passion Atau Opportunity?

Pernahkah suatu hari kalian bengong lihat rekan kerja membicarakan sesuatu, dan pikiran kalian justru ngeblank. Ini orang-orang pada ngomongin apa sih? Merasa nggak nyambung atau nggak antusias sama sekali. Dan pada saat itulah kalian merasa tempat yang tidak tepat, atau situasinya yang tidak tepat, atau memang kondisi kalian yang lagi jenuh sama kerjaan.

Sebuah riset menunjukkan bahwa Follow your opportunity first, then apply your passion. Intinya ngikuti passion tidak selalu bagus. Terkadang untuk mengejar passion kita justru melewatkan banyak kesempatan dalam hidup kita. Karena menurut riset tersebut kepuasan kerja masih didominasi oleh besarnya gaji yang diperoleh dan keahlian kalian dalam bekerja.

Bisa jadi opportunity alias kesempatan itu justru membuka jalan menuju passion kita. Jadi, jangan terlalu saklek ngikutin passion. Its your life. You can improve anything! Dan terkadang kita tidak tahu benarkah ini passion kita? Atau justru cuma hobi saja?

Bahkan karir mendiang Steve Jobs menggambarkan Don't Follow Your passion! But DO what you LOVE.


Apple Computer was decidedly not born out of passion, but instead was the result of a lucky break–a “small-time” scheme that unexpectedly took off.


Nah! Aplle lahir dari kesempatan, bukan passion. Passion Steve Jobs sendiri justru mempelajari tentang zen buddhisme, sejarah barat, tarian dan mistisme Timur. Dia mencari pencerahan spiritual dan mencoba bidang elektronika hanya karena bisa memperoleh uang dalam waktu singkat. Tulisan ini dimuat dalam buku Dont Follow Your passion! By Cal Newport.

Oke, kembali ke passion. Apa sih passion? Bagaimana kita menentukan passion kita sebenarnya? Karena banyak dari kita ternyata masih keliru menerjemahkan passion ini.

#1. Tak sekedar cinta

Kamu suka bola? Suka koleksi sepatu? Suka masak? Trus apakah lantas kamu jadi pemain bola? Atau kolektor sepatu dan chef jadi profesi kamu? Kamu hanya suka dan hal tersebut membuatmu bersemangat dan hidupmu berwarna. Nah berarti ini hanya sekedar hobi, bukan passion.

#2. Enjoy, lupa waktu

Saking senangnya dan menikmati aktivitas tertentu, kamu sampai lupa waktu ngerjainnya. Tapi produktif loh yaa. Saya juga suka lupa waktu kalau main games atau nonton drakor. Tapi apa lantas passion saya di drama korea? Enggak juga kan?hehe. misalnya kamu suka gambar atau nulis. Kamu bisa melewatkan waktu berjam-jam untuk membuat suatu karya, dan kamu puas banget ngelakuinnya.

#3. Hampa jika tidak melakukannya

Nggak buat tulisan dalam sehari, membuat kamu nggak semangat, atau nggak main musik seharian membuatmu loyo dan baperan. Bisa jadi ini passionmu.

#4. Rasa Penasaran

Ikut training kepenulisan, ikut kelas musik yang ngabisin duit, beli buku apapun tentang masak, atau beli kamera berjuta-juta buat yang suka fotografi, rela kamu lakukan demi kesukaan kamu. Dan sama sekali gak nyesel ngelakuinnnya.

#5. Kreativitas dan Inovasi

Karyamu diakui banyak orang kualitasnya, sehingga itu diakui sebagai keahlianmu. Semakin kamu menekuninya muncul beragam kreativitas dan inovasi, dan kamupun semakin semangat untuk produktif berkarya. Intinya adalah kamu tidak sekedar menikmati passionmu, tapi kamu juga makin produktif dengan passionmu itu.

Jadi, tentukan passionmu dan putuskan passion or opportunity?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Morning and Learning Person