Sore itu aku seakan diceburkan ke sebuah danau yang tanpa dasar. Pandanganku gelap seketika, nafasku tercekat, duniaku seakan berhenti berputar. Mimpi yang bahkan belum selesai aku rajut hilang begitu saja, ikut terhapus bersama air mata yang tak mampu aku tahan. Kau laki laki yang aku harapkan menemaniku merajut masa depan, laki laki yang selalu ada dimimpi mimpiku, lebih memilih untuk tidak menjadi siapa siapa. Yaa, tak menjadi siapa siapa. Kau tak pernah menginginkan menjadi kita, aku tak pernah ada di mimpimu. Aku bagai orang asing yang menyelinap tanpa izin kedalam hidupmu. Dan kau mengusirku, memintaku untuk melepaskanmu. Kau lebih memilih menjadikanku satu dari sekian banyak teman perempuanmu, hanya teman.

“aku menyukaimu sebagai teman, itu saja, tolong jangan lagi menggantungkan harapanmu padaku”

Aku tau aku bahkan tak punya alasan untuk menyalahkanmu, kau sama sekali tak bersalah. Patah hatiku murni karna kesalahanku, aku yang tak mampu menjaga hatiku. Aku yang salah mengartikan sikapmu, kau laki laki baik, mungkin yang terbaik yang pernah singgah dihatiku. Sikap baikmu itu yang membuatku lupa diri, aku lupa bahwa kau memang memperlakukan orang orang dengan baik, bukan hanya aku.

Lukaku masih meneteskan darah, hatiku masih terasa ngilu, tapi percayalah aku tak pernah menyalahkanmu. Sekali lagi ini salahku, biar aku yang bertanggung jawab terhadap hatiku. Biar aku yang menyembuhkan lukaku. Mungkin ini hanya soal waktu, waktu dimana aku mulai terbiasa tanpa ada kamu dimimpiku. Yang perlu kau lakukan adalah temukan dia yang kau cinta, temukan dia yang menjadi alasanmu bahagia. Ketika kau menemukannya dan bahagia bersamanya, saat itulah lukaku akan benar benar mengering. Sampai hari itu tiba, izinkan aku untuk terus menyertakan namamu disetiap doa doaku.

Hingga pada akhirnya, aku akan tetap menjadi aku dan kau akan tetap menjadi dirimu. Kita bukan apa apa. Kita adalah dua orang manusia yang sengaja Tuhan pertemukan untuk mengajarkan arti sabar, ikhlas dan melepaskan.