Buat kalian yang sering lewat jembatan layang di daerah Pancoran, pasti sering liat dong patung yang dijuluki nama Patung Pancoran? Di tengah jalanan yang penuh kendaraan, patung yang juga dikenal dengan nama Patung Dirgantara ini terlihat sangat mencolok, bahkan lucu dan menarik. Posenya yang unik—seperti sedang mengejar atau menunjuk sesuatu—sering menjadi bahan bercanda orang Jakarta. Namun, kalian tahu tidak sih kalau di balik patung ini, terdapat banyak cerita sedih?

Patung ini dipahat oleh Edhi Sunarso, seorang tokoh yang terkenal sebagai pembuat patung bersejarah. Contoh karya-karya lain dari Edhi adalah Patung Selamat Datang di Bunderan HI dan Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Jakarta. Atas instruksi Bung Karno, Edhi Sunarso mulai memahat Patung Pancoran yang ditujukan untuk menjadi icon keperkasaan Indonesia. Hasilnya, dengan partisipasi dari beberapa tokoh lainnya, Edhi membuat patung yang memiliki tinggi 11 meter dengan kaki patung setinggi 27 meter menggunakan bahan perunggu.

Advertisement

Kisah sedih dari Patung Pancoran dimulai dari proses pembangunannya yang penuh kesulitan. Peristiwa Gerakan 30 September PKI pada tahun 1965 nyaris membuat pembangunan patung ini gagal. Pada masa itu, Bung Karno didemo secara terus-menerus. Kondisi di Indonesia menjadi tidak stabil. Alhasil, proses pembangunan Patung Pancoran ini pun terhambat.

Selain itu, pembangunan patung yang memiliki berat 11 ton ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk memenuhi kebutuhan biaya pembangunan patung ini, Bung Karno sampai harus menjual mobil pribadinya. Itu pun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan anggarannya yang mencapai 12 juta rupiah (pada tahun 1964 loh, bukan 2018!). Bahkan sampai sekarang, masih ada hutang negara yang belum terbayar terkait dengan pembangunan Patung Pancoran.

Yang paling sedih adalah di tengah pengerjaan Patung Pancoran, Bung Karno wafat, sehingga tidak bisa melihat hasil akhir dari ide dan perintahnya. Padahal Bung Karno lah yang meminta Patung Pancoran untuk dibangun. Terlebih lagi, Bung Karno sendiri yang memeragakan pose Patung Pancoran. Edhi yang mendengar kabar wafatnya Bung Karno pun seketika menyusul Bung Karno ke Blitar untuk memberikan penghormatan terakhirnya.

Advertisement

Untungnya, patung ini akhirnya berhasil berdiri pada masa pemerintahan Soeharto. Namun, dibalik kesenangan ini, tetap ada cerita sedihnya guys. Presiden Soeharto tidak meresmikan monumen ini. Bahkan, sampai hari ini, walaupun sudah menjadi salah satu landmark Jakarta, Patung Pancoran belum diresmikan.

Yang menarik, walaupun sudah berdiri, patung ini sebetulnya belum selesai. Dari jauh, memang patung ini terlihat sempurna dan tidak ada yang aneh. Tetapi, jika kita lihat secara lebih dekat, kita akan menemukan permukaan patung tersebut masih kasar dan tidak rapi. Nah, tapi kecacatan ini akan terus dijaga sebagai bentuk cagar budaya, pemerintah sekarang tidak memiliki rencana untuk menyelesaikan atau memperbaikinya.

Setelah bertahun-tahun berdiri, Patung Pancoran mengalami kerusakan karena beberapa faktor seperti bahan perunggu dari patung, cuaca, dan polusi. Pada tanggal 25 Agustus 2014, patung ini akhirnya dibersihkan untuk pertama kalinya. Proses pembersihannya pun tidak sederhana.

Pertama, Patung Pancoran disiram menggunakan air bersih untuk menghilangkan debu yang menempel. Selanjutnya, patung ini dibersihkan dengan ekstrak jeruk nipis untuk menghilangkan polusi dan karat. Lalu, bahan kimia digunakan untuk melepaskan polutan dan korosi akut dari patung tersebut. Terakhir, patung dibilas kembali dengan air dan setelah kering, patungnya diberi lapisan pelindung.

Hari ini, Patung Pancoran telah menjadi monumen yang terabaikan. Semua yang sering lewat daerah Pancoran pasti tahu. Dulu, Patung Pancoran berada di tengah lapangan yang megah, membuat patung ini sangat mencolok dan menjadi objek wisata. Tapi sekarang, patung ini dilewati jalan layang, hingga dasarnya tidak lagi tampak jelas. Keperluan pembangunan dan kemajuan infrastruktur ternyata lebih penting dibandingkan patung ini. Perlahan-lahan, Patung Pancoran tenggelam dalam pembangunan infrastruktur baru dan kendaraan bermotor.

Belum lagi, pasti kalian sering lihat meme dari Patung Pancoran ini kan? Monumen yang tadinya bertujuan untuk menjadi simbol keberanian rakyat Indonesia sekarang berubah menjadi bahan bercanda rakyat Indonesia. Contohnya, belum lama ini terjadi gempa bumi di Banten. Beberapa jam kemudian, muncul banyak foto Patung Pancoran sedang loncat diikuti caption "Reaksi Patung Pancoran saat Gempa".

Selain itu, pose Patung Pancoran berasal langsung dari ide Bung Karno sering dijadikan bahan candaan dalam acara keluarga, acara orientasi siswa, dan lainnya. "Coba ada yang bisa memperagakan pose Patung Pancoran?" dan "Itu tuh kayak Patung Pancoran," diikuti dengan tawa terbahak-bahak. Tentu kalian juga pernah mendengar bercandaan ini kan?

Kalau dipikir-pikir, kasihan tidak sih Patung Pancoran ini? Sebetulnya patung ini membawa pesan yang baik, tapi dari awal pembangunannya banyak sekali ya masalahnya. Dari situasi yang tidak kondusif, biaya yang kurang, sampai kurangnya perhatian masyarakat. Masa lalu memang tidak bisa kita rubah, tapi masa depan bisa kita ubah. Mulai sekarang, yuk kita berikan Patung Pancoran perhatian dan hormat yang layak!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya