Mendung

Hari ini aku melihat mendung lagi, setelah sekian lama aku menantinya. Hari-hari yang sebelumnya hanya ada panas dan terik matahari yang sangat menyengat, seolah hilang dengan sangat menyenangkan. Hari ini aku kembali merasakan bagaimana rasanya udara dingin itu. Bukan seperti hari-hari sebelumnya, dari pagi saja sudah terkena udara dari kipas angin.

Advertisement

Ah, itu begitu menyebalkan, bagaimana tidak, aku selalu terganggu dengan panasnya mentari, sehingga membuatku malas untuk beraktivitas. Tapi hari ini seolah semua penderitaan itu telah hilang, bersama kenangan-kenangan pahit yang pernah aku rasakan ketika teriknya mentari. Mentari memang indah, tetapi karena panasnya sangat berlebihan, itu menjadi sangat tidak enak. Bukankah sesuatu yang berlebihan itu selalu membuat kita menjadi risih?

Dan ada satu hal yang membuatku kecewa dengan mendung, yaitu aku selalu mengingatmu, ya aku merindukamu. Padahal aku sama sekali tidak ingin itu datang, tapi aku tahu rindu itu tidak pernah salah, yang salah itu kalau kita berani kembali ke masa lalu yang begitu menyebalkan. Sebenarnya yang selalu datang itu bukan rindu kepada orangnya, tapi kenangan yang tercipta bersama orang yang tidak ingin aku rindukan itu.

Aku selalu merindukan kenangan yang pernah membuatku senang ketika itu, kenangan yang tidak pernah hilang dalam ingatan ketika mendung tiba, kenangan yang begitu menggangguku ketika menikmati mendung seorang diri. Tetapi aku tidak mempermasalahkannya, toh itu cuma kenangan masa lalu, bukan?

Advertisement

Biarpun kita mencoba untuk melupakannya, kita tidak akan pernah bisa melupakannya begitu saja, karena itu menjadi hal terindah yang pernah terjadi dalam hidup kita meskipun hanya sesaat kemudian digantikan oleh kesedihan yang dihadirkan oleh waktu. Ketika melupakan kenangan kadang- kadang seseorang itu begitu egois, sehingga ketika dia bersikeras untuk melupakannya dia malah semakin mengingatnya.

Lalu apa yang seharusnya kita lakukan ketika kita larut dalam kenangan manis yang bercampur kesedihan? Yaitu dengan menjadikan kita orang yang baru, biarkan kenangan itu larut dan menghilang bersama waktu, biarkan dia melebur bersama tantangan baru yang kita hadapi. Bukankah kenangan itu yang membuat kita semakin dewasa? Membuat kita percaya bahwa hidup tidak selamanya indah, begitupun sebaliknya. Jadikan kenangan itu sebagai pengalaman yang membuat hidup kita punya cerita yang sengat menarik untuk diceritakan kepada orang lain atau disimpan sebagai arsip yang sewaktu-waktu kita bisa membukanya dan mengingat kembali fase-fase perjalan hidup kita.

Lalu apa pelajaran yang bisa kita petik dari mentari yang begitu menyengat kemudian datang mendung yang membawa udara dingin? Yaitu kita harus tetap percaya bahwa tidak selamanya rasa sedih yang kita alami akan terus ada dalam hidup kita, pasti akan ada waktu dimana kita akan merasakan kembali kebahagiaan yang selalu kita mimpi-mimpikan. Kita hanya perlu menunggu dan percaya semua itu pasti akan datang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya