Konsep pernikahan itu sangat rumit, karena setiap orang yang menikah, wajib setia kepada pasangannya. Banyak orang yang bilang menikah itu akan membuat anda bahagia, tetapi saya selalu berpikir dari dua sisi yang berbeda

1. Sisi pertama. Saya menemukan hal yang baik dalam setiap pernikahan.

Advertisement

Contohnya: mereka merancang masa depan bersama, lalu memiliki anak, kemudian hidupnya bahagia. Setelah dewasa sang anak akan menjadi harapan bagi setiap orangtuanya.

Ada sebuah cerita tentang seorang perempuan yang sangat bahagia dengan pernikahannya. Beliau berkata ketika anaknya lahir dan sering nangis setiap malam, suaminya akan bangun untuk mengganti popok si bayi. Ketika anaknya menangis karena butuh susu, suaminya juga akan bangun untuk menemani istrinya yang saat itu mengantuk, agar bersemangat. Setiap hari pada Sabtu siang, suaminya akan menjaga anaknya hingga malam hari. Karena istrinya dibiarkannya untuk pergi kesalon ataupun bermain bersama teman-temannya. Asalkan istrinya telah menyiapkan banyak susu di freezer untuk makan anaknya.

Mereka tak punya baby sitter, karena suaminya sangat melarangnya. Beliau mau anaknya bertumbuh melalui asuh kedua orangtunya, karena itu pasangan tersebut bekerja sama untuk menjaga dan merawat anak-anaknya. Ketika saya mendengar cerita itu, saya rasa pernikahan itu membahagiakan. Saya berharap akan mendapatkan suami seperti ini, dan jika saya menikah, kehidupan saya sama seperti beliau

Advertisement

2. Sisi kedua. Wanita dan pria dewasa menikah. Mereka akan selalu tinggal bersama.

Setiap pagi mereka akan melihat pasangan mereka, entah itu saat tidur, ataupun bangun. Di situ saya mulai berpikir, bagaimana rasanya jika seorang manusia seumur hidupnya dapat bertahan sampai selamanya dengan orang yang sama? Saya juga mendapati sebuah cerita tentang seorang perempuan yang menikah lalu mempunyai anak. Suaminya tak pernah menjaga anaknya, ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ketika anaknya menangis setiap malam, ia tak ingin sedikitpun bangun alasannya karena lelah berkerja seharian.

Pada hari sabtu, ketika suaminya libur bekerja. Dia hanya bermalas-malasan, menonton tv, membaca koran, dan hanya bermain handphone. Istrinya berkeinginan untuk mempunyai baby sitter, tapi suaminya tak menginginkan hal itu, dengan alasan ia tak mau anaknya tumbuh besar dengan orang lain. Sehingga menyuruh istrinya untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Singkat cerita istrinya menyetujuinya.

Suatu hari, istrinya sedang pergi dengan anaknya ke supermarket. Datanglah seorang teman lama suaminya kerumah mereka. Sepulang dari supermarket, anaknya menangis meraung-raung ketika istrinya menyiapkan minuman untuk teman suaminya. Karena terus-terusan menangis, teman suaminya berkata “mengapa tak digendong saja? ambil anakmu!"

Namun suaminya bilang “itu kan tugas seorang istri, gue sudah ngasih uang yang banyak. Keperluan anak juga udah gue cukupi, gue udah kerja banting tulang. Disuruh ngurus anak males, capek“. Istrinya yang mendengar hal itu hanya bisa menangis di dapur sambil menggendong anaknya. Dia tak habis pikir mengapa orang yang dia cintai bisa berkata seperti itu terhadap anaknya, padahal suaminyalah yang berkeinginan untuk mempunyai anak.

Beberapa tahun kemudian rumah tangga itu hancur, karena suaminya berselingkuh. Dia beranggapan bosan dengan kehidupannya, padahal yang saya tau istrinya sangat cantik, pintar, berkelas dan selalu melayani suami dan anak-anaknya dengan baik. Kemudian anaknya tumbuh menjadi anak pembangkang, yang sangat membenci ayahnya. Istrinya menjadi depresi, dan berkali – kali melakukan percobaan bunuh diri

Saya tak ingin menggiring opini banyak orang, saya hanya membuka diri kita pada sesuatu hal yang mungkin saja dapat terjadi tanpa kita kehendaki. Perempuan pada cerita di atas sama-sama mencintai suaminya. Mereka berpacaran sebelum menikah. Mungkin bagi kalian saya perempuan yang sangat aneh, karena yang biasa kita lihat justru perempuanlah yang selalu ingin menikah cepat-cepat. Karena banyak sekali alasannya yang sulit untuk dijabarkan

Sebagai seorang perempuan, tak salah jika kita berpikir dari kedua sisi. Yaitu sisi yang buruk, jangan mau dibodohi, terkadang kita harus tau konsekuensi dari apa yang kita lakukan. Jangan beranggapan keburu cinta adalah penyebabnya, itu suatu kebodohan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya