Pancasila merupakan dasar negara bangsa Indonesia dan disahkan sehari setelah kemerdekaan dikumandangkan yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945. Lambang yang digunakan untuk menjadi sebuah simbol dasar negara tersebut yaitu seekor burung legenda yang merupakan kendaraan dari dewa hindu yaitu Dewa Wisnu yang bernama burung garuda.

Burung garuda ini melambangkan suatu cita-cita bangsa indonesia yang kuat dan mampu menerbangkan cita-cita yang diimpikan oleh bangsa Indonesia setinggi langit serta memiliki 5 lambang di dadanya yaitu bintang, kepala banteng, pohon beringin, rantai, serta padi dan kapas, yang merupakan nilai-nilai kebangsaan yang menjadi acuan terciptanya dan terbentuknya negara yang aman, tentram, dan damai.

Advertisement

Tulisan yang dicengkram dan terdapat pada selembar kertas di kaki burung garuda, yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua, dapat diartikan sebagai persatuan dan kesatuan yang dapat terjadi dan timbul walaupun adanya keanekaragaman suku, ras, agama, dan budaya yang ada di Indonesia.

Bangsa kita tidak hanya memiliki satu agama saja, tetapi beraneka ragam agama sekaligus budaya maupun adat. Sebagai negara yang memiliki keanekaragaman itu, kita harus bersatu dan saling toleransi. Tidak peduli apa agama yang dianut maupun kepercayaan apa yang dipercayai, kita tetap berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia. Walaupun mereka sedang melaksanakan kegiatan ibadah, janganlah diganggu.

Kita harus menghormati kegiatan ibadah yang berbeda agama dan mencegah adanya perpecahan antar umat beragama. Coba bayangkan yang akan terjadi jika perpecahan antar umat beragamaterus berlanjut dan mengakibatkan perang antar sesama penduduk. Akan hancur dan rusak negara ini nantinya serta musuh-musuh dari negara lain juga senantiasa dengan mudah menghancurkan negeri tercinta ini.

Advertisement

Untuk itulah, mari kita mengingat kembali sejarah negara Indonesia yang telah lama terukir dan melihat kembali ke masa lalu. Kira-kira pada saat masa penjajahan yang terjadi sekitar puluhan tahun yang lalu. Pada awalnya, mereka hanya berjuang dengan sistem kedaerahan. Maksudnya yaitu gerakan perjuangan untuk membela negara dalam usaha mendapatkan kemerdekaan pada saat itu masih belum bersatu atau bisa dibilang masih terpecah belah.

Karena pada masa itu, sistem pemerintahan yang digunakan masih bersifat kerajaan dan juga hasutan serta bisikan dari bangsa penjajah dengan mudah menciptakan perang antar saudara di Indonesia. Hal itulah yang sering menciptakan kekalahan pada saat perlawanan.

Walaupun strategi yang dibuat jauh hari sebelum perjuangan sudah disiapkan matang-matang, akan percuma juga kalau gagal karena lemahnya persatuan dan kerja sama dalam mencapai kemenangan dalam perjuangan itu.

Setelah melewati masa-masa kepahitan akan kekalahan yang berulang-ulang itu, para pahlawan yang pernah berjuang pada saat itu akhirnya sadar kalau mereka perlu untuk menyatukan kekuatan untuk mengusir para penjajah yang sudah lama tinggal di Indonesia selama ratusan tahun lamanya.

Dengan menyatukan kekuatan, perjuangan yang semula mementingkan daerah masing-masing menjadi sebuah satu perjuangan untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan yang sudah lama terjadi. Namun, para penjajah tidak semudah itu menyerah. Mereka mempunyai taktik yang baru untuk menghancurkan dan menjajah negeri ini.

Akan tetapi, semua usaha yang dilakukan oleh para penjajah itu sia-sia karena kekuatan yang dimiliki dari persatuan bangsa Indonesia sangatlah kuat sehingga kekuatan mereka menjadi tidak terkalahkan. Seharusnya kita sebagai generasi sekarang merasa malu kepada mereka.

Mereka yang sudah mati-matian berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan dengan menyatukan kekuatan, tetapi malah kita terpecah belah karena suatu hal yang dianggap sepele seperti masalah agama, politik, pemimpin, dan yang lain sebagainya.

Mulai sekarang, marilah junjung tinggi semangat persatuan dan kesatuan supaya negara ini menjadi damai dan tentram. Junjung tinggi semangat nasionalisme dan raihlah cita-cita bangsa yang seperti para pejuang dahulu impikan. Dengan tekad dan persatuan yang kuat, bangsa ini akan menjadi bangsa yang maju dan siap bersaing di kancah internasional.

Ini bukan masalah siapa yang menjadi pemimpinnya maupun apa sistem yang dianut negara ini. Tetapi tergantung pada individu masing-masing. Jika individunya seperti itu terus, tidak mau usaha dengan keras dan jarang untuk intropeksi diri mereka sendiri, maka akan tahu sendiri apa akibatnya nanti di masa yang akan mendatang.

Seperti yang dikatakan tadi, junjung tinggi rasa semangat akan persatuan, kesatuan, dan nasionalisme. Memang hal itu penting untuk menciptakan negara yang aman, tertib dan damai. Akan tetapi, tidak harus menjadi fanatik juga. Hal itu sama saja seperti keinginan untuk memecah umat manusia di negeri ini.

Dikit-dikit harus seperti ini, dikit-dikit harus seperti itu. Kalau tidak sesuai dengan pendapat atau keinginan, malah bertindak anarkis. Kalau tidak mau patuh, malah berontak. Sudah dinasehati sampai capek, masih saja berulah lagi. Kasihan juga para pejuang yang sudah bersusah payah membela negeri ini kalau akhirnya malah seperti ini. Contohnya sudah bisa kita lihat di lingkungan sekitar maupun di sosial media.

Sekian apa yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf kalau terdapat kata-kata yang sekiranya kurang nyaman maupun terdapat kesalahan dalam penulisan serta kesalahan saya dalam menulis cerita sejarah yang sudah saya sampaikan.

Pesan yang bisa saya sampaikan adalah, tetaplah pegang erat rasa nasionalisme dan tumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan dihati kalian serta jangan sampai persatuan tersebut digoyahkan dengan konflik-konflik yang terjadi sekarang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya