Ada kalanya seseorang benar-benar ingin merasa sendiri dan tak berani berucap satu kata pun, dan pada akhirnya mereka memilih untuk diam, begitu pun denganku.


Kamu marah ya, ko diem terus?

Kamu kok sombong banget sih, ngomong cuma seperlunya aja?


Dan masih banyak pertanyaan yang melayang ke arahku. Memang benar, orang sepertiku menganggap diam menjadi solusi terampuh ketika berada dalam situasi apapun. Dan terkadang ketika aku marah, aku tak mampu mencurahkan isi kemarahanku. Aku hanya mampu berdiam diri dan merenungi apa yang salah dalam diriku.


Haruskah aku marah seperti ini?

Advertisement

Apa yang salah sehingga membuatku marah?

Apakah ini kesalahanku sendiri atau kesalahan mereka?


Berulang-ulang aku merenungi pertanyaan itu demi mendapatkan sebuah jawaban, meski pun pada akhirnya jawaban yang aku dapat adalah aku sendiri yang menjadi penyebab kemarahan ini terjadi, aku harus terima itu. Inilah salah satu alasan kenapa aku diam ketika marah, dan marah terhadap diri sendiri adalah hal yang paling menakutkan.

Aku memang orang yang tak banyak bicara dan lebih suka diam dan mencerna obrolan orang di sekitarku. Tapi terkadang hal ini membuat orang lain salah paham terhadapku. Sombong dan tak mau bersosialisai sudah sering aku mendengar kata-kata ini yang di tujukan terhadapku.

Jujur, aku tak mau orang lain salah paham terhadapku, tapi sangat susah untuk ku keluar dari zona nyamanku, yaitu 'Diam'. Karena pada awalnya aku berpikir jika aku diam, aku tak akan membuat kesalahan pada orang lain, dan tak akan ada yang terluka dengan ucapanku. Tapi ternyata aku salah besar, justru yang aku terima adalah kebalikannya.

Asal kamu tahu, betapa inginnya aku ikut bercengkrama, bercanda dan tertawa bersama denganmu dan dengan kalian. Tapi apa dayaku, inilah diriku yang seperti ini. Jangankan untuk bercanda, untuk bertanya pun mulut dan lidah ini seolah terkunci. Ya, terkunci dan kuncinya seolah hilang, sehingga mulut ini tidak dapat terbuka. Salah satu cara agar terbuka jika kuncinya hilang entah ke mana, adalah dengan mendobraknya dengan secara terpaksa. Tapi aku enggan untuk mendobraknya.


Dapatkah kamu membukanya secara terpaksa untukku?


Ya, aku orangnya tidak bisa membuka pembicaraan dengan leluasa, aku butuh seseorang untuk memulainya. Aku tahu, ini membuktikan aku adalah seorang yang egois. Tapi aku sungguh tak berdaya. Please, mengertilah aku untuk saat ini, karena saat ini aku pun sedang berusaha untuk merubah keegoisanku ini. Akan sangat berterimakasih kepadamu, jika kamu mengerti aku.

Untuk siapa saja di luar sana, diamku tak selalu menjadi bukti kemarahanku, dan diamku tak berarti kesombongan dalam diriku. Dengan diam aku merasa lebih nyaman dan lebih bisa fokus dalam menjalani aktivitas harianku. Egois memang, tapi aku akan selalu berusaha merubah diamku ini menjadi diam yang bermanfaat baik untukku sendiri maupun bagi orang-orang di sekitarku.