Menggambar pohon? apa susahnya sih menggambar objek yang satu ini. Mungkin itulah yang kamu pikirkan saat membaca judul tulisan ini. Memang, menggambar pohon itu mudah, dari zaman Sekolah Dasar pun kita sudah terbiasa menggambar objek yang satu ini, bahkan puluhan jenis tanaman sudah pernah kita goreskan di buku gambar kita dahulu.

Nyatanya menggambar kali ini berbeda. Menggambar pohon kali ini memiliki tujuan tertentu. Bukan sebatas menggoreskan pensil hingga terbentuk menjadi sebuah objek tanaman saja, kegiatan menggambar pohon ini ditujukan untuk melihat kepribadian si pembuat. Mungkin terdengar seperti penilaian sepihak dan terkesan terburu-buru, gambar seseorang dijadikan sebuah patokan atau dasar penilaian sementara kepribadian seseorang.

Lalu ada masalah apa dengan menggambar pohon?

Seseorang yang memang kurang handal dalam menggambar, hasilnya sudah bisa kita tebak. Ya, pasti jauh dari bentuk pohon, mungkin lebih tepatnya seperti objek yang mirip pohon. Ungkapan ini hanya penghalus saja, jika kita tidak mau menyebut gambar yang dibuatnya jelek.

Advertisement

Dahulu, saya pernah menulis artikel mengenai makna dan arti dari psikotes menggambar pohon. Memang, poin utamanya bukan dari kemiripan gambar tersebut, tetapi lebih kepada makna gestur dan goresan gambar yang kita buat. Sayang seribu sayang, manusia itu dinamis, manusia selalu berubah-ubah. Saat emosi dan suasanya sedang tidak bagus, jangankan untuk menggambar, bentuk tulisannya saja bisa berubah 180.

Rasanya memang sah-sah saja mengetes para kandidat dengan tes gambar ini, namun harus diimbangi dengan tes-tes lain yang lebih cocok diterapkan sebagai instument, kususnya sesuai jobdesk dan kualifikasi yang dibutuhkan. Yang lebih disayangkan lagi, jika tes ini diterapkan sebagai seleksi tahap pertama, apalagi untuk posisi teknikal. Padahal, posisi teknikal atau teknis ini lebih kepada kemampuan dan skill. Akan lebih tepat jika orientasi seleksi dilakukan dalam bentuk test dan problem solving.

Menggambar pohon dan problematikanya

Hal ini sering sekali dialami anak-anak teknikal, contohnya lulusan atau sarjana komputer. Keluh seorang teman yang menurut saya ia memiliki kualifikasi yang mempuni. Beberapa bahasa pemograman telah ia kuasai. Bila diibaratkan, ia dan PC sudah menjalin ikatan batin. Bukan hanya ikatan, mungkin sudah menjadi simpul batin.

Advertisement

Namun, lagi-lagi sayang seribu sayang, jari-jari manisnya sudah terlalu akrab dengan tombol-tombol keyboard. Rasanya asing jika kembali memegang benda arang berbalut kayu ini kembali.

Jujur, pertama kali mendengarnya, saya pun berkata ia berlebihan sekali. Tak lama, ia pun menunjukan hasil tulisannya. Saat melihat goresan pensil hitam itu, saya termenung. Bukan terkejut ataupun terpana, lebih tepatnya saya bingung. Iya, tulisannya jauh dari kata bagus untuk dibaca. Mungkin, sangat jauh jika digambarkan sebagai tulisan tangan. Mungkin saja tulisannya terpengaruh dari suasana hatinya yang sedang kalut kala itu.

Sampai akhirnya dia sendiri yang membacakan tulisan tersebut. Apa yang ia tulis? Isi tulisannya: "Rekruiter, Tolong jangan paksa saya menggambar pohon lagi". Lagi? Ya, kata lagi semakin mempertegas bahwa ia sering gagal karena tes menggambar pohon. Atau, karena tes yang lainnya? Mungkin saja.

Tulisan ini hanya sebatas menyalurkan kekalutan apa yang dirasakan teman saya. Mungkin jika ia membaca tulisa ini, ia akan menulis pesan singkat dan mengirimnya ke handphone saya dengan bunyi pesan: "Sialan, gua ga mau cerita sama lu lagi!".

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya