Jendela kamar belakang rumahku cukup seram.

Ketika aku pulang aku selalu menatap langit malam.

Advertisement

Aku matikan lampu kamar semuanya menjadi gelap, agar mengira aku sedang tertidur lelap.

Aku sedikit mahir dalam menutup luka.

Dan terlihat pandai menyembuhkan luka.

Advertisement

Tapi itu hanya kata mereka, karena wajahku selalu kupaksakan untuk tampak ceria untuk menipu mereka.

Ku ambilkan kursi kecil di meja kamar.

Ku tempatkan tepat di jendela kamar.

Berlahan membuka orden kamar dan sedikit ada suara ketika membuka jendela.

Tapi tidak membuat orang bertanya.

Aku sedang apa?

Mereka tetap pada pemikirannya.

Mengira aku sudah tertidur pulas.

Ku buka jendela kamar, pemandangan gelap.

Suara jangkrik yang berpesta mengisi kegelapan malam.

Aku tidak peduli.

Itu hanya nyayian malam sudah terbiasa ku dengar.

Hanya ada cahaya bulan dan bintang-bintang yang berterbangan di atas langit.

Karena, belakang rumah ku bukanlah kota.

Hanya tanah lepas yang masih ada semak belukar disana.

Tampak seram, mengerikan ketika dipandang untuk orang awam.

Hanya saja aku terbiasa rasa takutku berkurang.

Saat malam jika aku sudah memilih untuk lari membuka jendela kamar.

Ketika itu aku pasti sudah meraskan rindu yang tak bisa dibendung lagi.

Kulepaskan pada udara malam.

Meski itu di kegelapan pada langit yang berwarna hitam.

Tiada keindahan, semua gelap.

Hanya saja ketika sudah kulepaskan semuanya disana.

Aku merasakan sedikit lega.

Seringkali aku tertidur melewati pukul 22.00 WIB.

Setelah sholat Isya aku selalu pergi ke kamar.

Seringkali ku melepaskan rindu di sana.

Berharap Dia akan dekat.

Memeluk erat.

Lalu bertanya.

โ€œKenapa menangis? Alangkah kerasnya hatimu.

Aku disini menanti kamu, menanti kalian keluargaku.

Disini aku tidak sakit lagi.

Aku merasakan ketenangan disini, meski aku kesepian.

Sepi karena tidak ada yang membuat aku emosi.

Tidak ada yang bisa melihat kalian bercanda.

Tidak bisa berjuang hebat untuk melihat kehidupan karena kalian.

Tidak menyaksikan kamu pergi dan pulang kuliah."

Dimana waktu kamu sekolah, aku selalu memandang punggungmu.

Ketika kau keluar rumah sambil membuka pintu.

Sesekali aku mengejarmu hingga kau turun sampai ke bawah tangga rumah.

Aku juga sama.

Sama-sama rindu.

Rindu saat kamu selalu membututiku.

Aku tidak pernah lupa memori tentang kamu.

Sejak pertama kali kau mengeluarkan tangis di bumi Allah SWT.

Dan sejak itu pula kau dengar suara adzan dari lisanku.

Aku tidak lupa.

Menangislah.

Aku takkan mengusap air mata itu.

Jangan menahan tangis, kamu berhak menangis.

Karena mata ada berhak untuk melepaskan tangis.

Setelah ini kamu harus tidur.

Karena kamu harus sehat.

Jangan pernah sakit lagi, karena pundakku terasa jauh untuk kau berpangku.

Tanganku terasa jauh untuk mengelus-elus kepalamu.

Aku akan sakit ketika tak bisa memelukmu.

Dan tak bisa meminumkan teh hangat untukmu.

Bukankah ketika kau sakit, kau hanya meminta teh hangat.

Untuk diseduh.

Sekarang tanganku tidak sampai membuatkan itu.

Tetaplah sehat.

Jadilah yang terkuat.

Jadilah yang terbahagia.

Jika suatu waktu kau bahagia.

Ceritakan padaku.

Ceritakan lebih jelas, karena aku akan selalu menanti ceritamu ๐Ÿ’™

Aku menangis.

Hampir terlelap di jendela itu,

Hingga aku lupa waktu ๐Ÿ’ง

Itu hanya halusinasiku.

Karena aku butuh penyemangat Ayah.

Andaiku.

Biarkan saja.

Itu jadi penopangku.

Sekali lagi aku gagal menguatkan diri.

Aku rindu.

Bibirku bergetar menyebut hanya dua kata.

Aku akan sering tertidur dengan air mata yang mengering di pipi ๐Ÿ’™

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya