Sejak dulu aku suka sekali bermain puzzle khususnya puzzle berbentuk kubus ini yang namanya di ambil dari nama penciptanya Erno Rubik. Aku mulai bermain rubik sejak tahun 2010 tepatnya saat aku kelas 2 SMA. Rubik pertamaku dulu aku beli dari seorang pedagang mainan yang sering lewat di sekitar rumahku, lalu mulai mempelajari bagaimana cara menyelesaikannya.

Singkat cerita, sebulan berlalu aku telah berhasil menguasai rumus dasar untuk menyelesaikan permaian rubik. Teman-teman sekitarku pun mulai tertarik dengan permainan rubik ditmbah lagi ada seorang teman mereka yang mampu menyelesaikannya. Aku pun berbagi ilmu dengan mereka

Advertisement

Alhasil dalam minggu-minggu berikutnya, teman-temanku sudah memiliki rubik sendiri. Bahkan, jauh lebih bagus dari milikku.Aku pun terpacu untuk menabung dan membeli rubik yang lebih bagus.

Sebenarnya alasan aku terpacu untuk membeli rubik yang lebih bagus adalah agar aku dapat lebih mudah memainkannya, tidak seperti rubik yang murah harganya. Gerakannya sangat berat, salah-salah piece-piece- nya malah terbongkar berhamburan kesana kemari melangkah pergi tak peduli.

Dalam minggu berikutnya aku sudah punya rubik baru yang lebih bagus dan teman-teman juga sudah mulai pandai memainkan rubik. Bahkan kami sering beradu cepat untuk menyelesaikan rubik. dalam dunia rubik beradu cepat semacam ini namanya speed solving, bedanya sang cuber (orang yang bermain rubik) tidak berlomba satu sama lain. Melainkan menggunakan timer sebagai pengukur kecepatannya.

Advertisement

Menguasai rumus dasar saja belum cukup buatku, aku ingin lebih cepat lagi. Waktu itu aku nge-fans sekali dengan Speed cuber kelas dunia Erik Akkersdijk, sang pemegang rekor dunia untuk Rubik's 3×3 dengan waktu tercepat yaitu hanya 7.03 detik, gila bukan? Enggak kok itu nggak gila, itu karena kita tidak tau metodenya saja.

Nah, karena fakta di ataslah aku termotivasi untuk menjadi lebih cepat. Pencarianku pun di mulai. Setelah berselancar kesana kemari, bertindak sesuka hati loncat ke sana kesini, hiraukan semua masalah di muka bumi ini. Aku pun menemukan metode yang dipakai oleh seluruh speed cuber kelas dunia. Betapa senangnya aku waktu itu, tapi seketika itu juga aku merasa down. Kenapa ?

Karena banyaknya jumlah rumus baru yang harus aku pahami dan hafalkan lumayan banyak dan itu harus dilakukan di luar kepala. Mau tau jumlah rumusnya ? Cari tau sendiri aja lah ya. Itupun setelah menguasai semua rumus di atas, kita hanya baru menguasai solving di bawah 20 detik. Masih ada rumus tambahan dan tehnik yang harus kita kuasai lagi untuk mencapai waktu di bawah 10 detik. Setelah sekian lama bermain rubik, baru-baru ini kusadari bahwa rubik telah menagajarkan banyak hal padaku. Apa aja saja itu?

Permainan rubik telah mengajarkanku bahwa selalu ada langkah-langkah yang lebih efektif dan efesien untuk menyelesaikan sebuah masalah, asal kita mau mencarinya, mempelajarinya dan memahaminya. Permainan rubik juga mengajarkanku betapa pentingnya sebuah repetisi. Langkah-langkah yang telah kita pahami tadi, tentu akan hilang begitu saja bila kita tak melakukan repitisi. Repetisi juga membantu kita dalam membentuk muscle memory, dari sinilah sebuah automasi terbentuk.

Jika automasi sudah terbentuk, dengan mata tertutup pun kita bisa melakukan langkah-langkah tadi. "Di luar kepala" itu istilah lazimnya. Practice makes right, repetition makes perfect. Yang mana practice dan repetition akan melahirkan sebuah habits. Dan kita terbentuk dari habit-habit kita itu. Jika habit itu baik maka kita menjadi seorang yang baik, jika buruk maka kita menjadi orang yang buruk.

Luar biasa, bahkan dari sebuah permainan sederhana tapi nggak sederhana-sederhana amat ini kita bisa mengambil banyak pelajaran darinya. Benarlah bahwa setiap kejadian yang berlalu selalu ada hikmah, terlepas dari kita mau memahaminya atau tidak itu keputusan kita. Hidup memang tentang pilihan dan kita selalu punya pilihan.

Sekian dulu ceritaku tentang rubik yang belum seberapa ini. Sampai jumpa.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya