Sebelum Hati Ini Lelah Menerka Rasa, Ada Baiknya Memilih Sendiri dan Menutup Pintu Hati

lelah menerka rasa

Sering bingung sendiri, menghadapi perasaan yang tak ada ujung temunya. Ingin mengungkapkan terlebih dulu, tapi takut yang disampaikan malah meretak jarak. Sulit untuk berkata bahwa ini hanya perhatian dia saja yang tidak lebih dari kebaikan terhadap sesama, tetapi takut juga mengakui bahwa perlakuan ini lebih dari sekadar perhatian semata. Ini bukan tentang menyalahkan perhatian seseorang yang gamang, tapi sebuah rutukan pada diri sendiri yang betapa bebalnya sampai tidak mengenali perbedaan suka dan perhatian saja.

Advertisement

Cinta butuh ketegasan meskipun menerka-nerka rasa cukup menyenangkan, tapi jika berkelanjutan kesenangan pun akan terasa menyiksa. Mati kebosanan pada perasaan yang tidak nyata. Ya memang mungkin baginya juga tak mudah. Sebab menata kesiapan hati untuk membentuk ketegasan juga bukan sekadar urusan berkata aku sayang kamu, ada tanggung jawab dan resiko yang harus diemban.

Tapi nyatanya kita seringkali kelelahan menghadapi berbagai macam perasaan yang abstrak, menerjemahkan tiap degup yang tak kita tahu artinya. Pada akhirnya terjebak pada imaji dan menerka-nerka, lalu bertanya tanya?


"Apakah dia punya rasa yang sama? Atau aku hanya salah menerjemahkan perhatiannya saja?"


Advertisement

Sebelum hati ini lelah menerka rasa, memilih sendiri lalu menutup hati, melupakan soal romansa dan berpura baik-baik saja hanya untuk menghibur diri, berlagak terbiasa walau akhirnya salah tingkah jua. Ah ini memang benar-benar lucu, bukan lelucon yang membuat tertawa, tapi sebuah kemirisan yang mengiris iris. Ingin rasanya hati berkata


โ€œCukup sudah, aku tak mau lagi, cukup sudah aku menyiksa diriโ€


Advertisement

Tapi yang terjadi imaji-imaji itu terus saja menggoda untuk kembali. Meski muak rasanya, seperti dipermainkan tanpa henti, bukan oleh siapa tapi diri sendiri. Hey! Kamu yang sering memberikan perhatian tanpa henti berikan penjelasan, apa maksud semua ini? Jangan biarkan ada rasa yang mati karena terlalu lama terjebak dalam imaji menguasai diri. Tidak salah memang jika saling peduli, tapi jika kadarnya berlebih bisa jadi bom waktu yang salah arti, kamu tahu pasti apa yang akan terjadi? Kecanggungan yang pada akhirnya memisah dan meretakkan jarak.

Dan, untuk hati ini, jangan terlalu lama bermain dalam imaji-imaji sunyi, meski perhatiannya menghujani tanpa henti. Cukuplah sadar diri jangan sampai pada akhirnya nanti kamu mati dan mendingin beku menutup diri. Mungkin memang belum cukup keberanian untuk menyalak ketegasan, tapi jangan sampai bara itu padam lalu dingin seketika. Mencipta satu karangan atas ketidakpercayaan pada cinta. Mengeras dan kasar pada setiap perlakuan, menganggap semua perhatian yang diterima hanya sebatas sisi kemanusiaan saja. Tidak lagi tertarik pada manis pahitnya romansa. Ah betapa pilunya.

Jika keputusan menyendiri membuatmu lega, tak mengapa sendiri memang menyenangkan untuk sementara. Namun jangan terlalu lama, bisa jadi karena keasyikan dengan dunia kita sendiri membuat tak sadar bahwa ada hati lain yang sedang memperhatikan kita dengan tulus, berharap balas namun malah terjebak pada imaji dan terjemahan rasa yang salah. Awalnya kita korban bisa jadi akhirnya jadi pemicu matinya rasa seseorang. Bukankah itu lebih mengerikan?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

โ€œ

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

โ€

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mantan anak pesantren. Baper, mudah terdistraksi. Pemalu kadang malu maluin

Editor

une femme libre

CLOSE