Sebelum Kita Memasarkan Produk, Sebaiknya Kenali Dulu Market Bisnis Kita

So, apa yang harus kita lakukan?

Tulisan ini sudah lama harusnya saya selesaikan, namun sehubungan dengan tanggung jawab membina, mendampingi UMKM baik untuk lokal dari beberapa BUMN, Pemerintah Provinsi maupun dari beberapa Kementrian, membuat saya harus menunda apa yang sudah cukup lama mengganjal di pikiran ini. Semoga tulisan kali ini bisa bermanfaat untuk para pelaku bisnis di Indonesia, terutama UMKM.

Advertisement

Untuk kota-kota pelajar di Indonesia, saya yakin di setiap akhir pekan tidak jauh dari kampus, ada pasar mingguan yang kalau di Jogja dikenal dengan Sunmor singkatan dari Sunday Morning. Banyak para pelaku usaha baru yang memanfaatkan pasar ini sebagai ajang untuk belajar memasarkan dan memperkenalkan produk ke calon pembeli. Sayangnya, beberapa kali saya menemukan para pelaku usaha yang datang untuk berkonsultasi dan memasarkan produknya di sunmor, mendadak menutup bisnisnya beberapa bulan kemudian, apa yang salah? Anda yang salah!

Banyak dari kita para pelaku bisnis, terutama saya di awal berbisnis yang lalu mengidap penyakit "latah". Ketidaktahuan akan kondisi di dalam bisnis membuat ide-ide kita secara mudah kita berikan kepada kompetitor. Sebut saja salah satu pebisnis dari Riau yang saya dampingi. Masuk ke sunmor dengan ide menjual bubur jagung. Awalnya hanya sedikit yang mau membeli mengingat bubur jagung belum menjadi makanan seksi saat itu.

Seiring berjalannya waktu, ketika usaha menjadi ramai, di beberapa lokasi yang tidak jauh, mulai terbentuk gerai-gerai yang menjual produk sama. Akhirnya persaingan pun dimulai, siapa yang kuat, dia yang bertahan. Tekanan persaingan dari sisi harga akhirnya muncul, pelaku usaha yang saya bina ini pun mengganti usahanya dari bubur Jagung menjadi es krim pot. Hasilnya sama, latahnya pelaku bisnis membuat bisnis ini tutup dalam waktu beberapa bulan. So, bagaimana kita mensikapinya.

Advertisement

Sebenarnya sih simple saja, seperti yang selama ini saya sampaikan di 7 buku yang sudah saya tulis maupun di kelas konsultasi dan seminar umum yang diadakan, pesan untuk mempelajari market selalu menjadi pesan utama yang tidak bisa di hiraukan setiap pelaku usaha. Banyak dari para pelaku usaha, memulai usaha dari idealisme dan bukan dari kebutuhan pasar.

Hasilnya adalah mereka kesulitan harus berjualan dimana sehingga semua tempat dan kesempatan selalu di coba. Hal yang terlupakan dari itu semua adalah adanya mata-mata jahat yang mencuri ide kita. Ketika usaha semakin berkembang, maka muncullah pesaing baru dan kalau mereka punya konsep yang lebih matang, habislah sudah.

Advertisement

Beberapa pebisnis lain di Rumah Kreatif Jogja yang memiliki produk dengan market kelas menengah atas pun beberapa ada yang ingin melakukan hal yang sama, mengenalkan produknya ke sunmor. Salah kah? Pastinya begitu, kenapa? Karena sunmor, dikunjungi oleh banyak kalangan dan mayoritas transaksi yang terjadi (selain untuk makanan) pastinya untuk produk-produk yang menyasar kepada market kelas menengah bawah di mana harga menjadi indikator dalam memilih produk.

So, apa yang harus kita lakukan? Saran saya, kenali dengan baik market di bisnis kita. Jangan sampai menjual produk bukan di tempat yang di huni oleh pangsa pasar kita. Analogi yang masuk akal dari salah satu pebisnis yang pernah saya temui mungkin bisa menjadi patokan kita, jangan pernah jualan minuman beralkohol di sekitar pesantren.

Begitu juga dengan sunmor, di mana harga murah, barang imitasi menjadi sasaran empuk para pebisnis. Jangan menghancurkan nilai produk anda di tempat seperti ini. Tidak pernah tas asli LV dijual di swalayan, kalaupun ada, pasti tidak akan ada orang yang mau membeli dengan harga yang cukup tinggi. Jawabnya sederhana, karena swalayan bukan jalur distribusi untuk mencapai market yang dituju.

So, bagaimana dengan bisnis kita? Siapa pangsa pasar kita, bagaimana psikologi mereka dan apa jalur distribusi yang biasa dipilih oleh mereka?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Bio Hadikesuma adalah seorang young and creative entrepreneur, business consultant, dan mind therapist. Ia adalah alumni dari Program Studi Elektronika dan Instrumentasi Jurusan Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Selain menjadi Direktur Program dari Rumah Kreatif Jogja, sebuah inkubasi bentukan dari kementrian BUMN, Ia juga masih aktif sebagai CEO Digibooks, sebuah perusahaan book printing specialist and self publishing yang berpusat di Yogyakarta. Anak muda Riau pertama yang menjadi penulis di Gramedia ini mendirikan Digibooks hanya dengan modal Rp 50.000, pada 2007. Saat ini nilai bisnis Digibooks mencapai lebih dari Rp200 juta per tahun. Selain aktif di dunia penulisan dan industri kreatif, Bio juga aktif di dunia training and consulting melalui Bio Hadikesuma Management Training & Consulting (BHMTC) dan menjadi founder Secangkir Kopi, komunitas yang bergerak dalam bidang bisnis, karir, pendidikan, pengembangan, dan kehidupan sosial. Hingga saat ini, ia memiliki lebih dari 5.000 jam terbang selama tujuh tahun sebagai trainer. Bio telah berbicara di depan lebih dari 700.000 audience dan melatih lebih dari 2.500 pengusaha UKM binaan Pertamina, Chevron, Indonesia Power, Freeport dan terlibat dalam kegiatan program dari BRI, Kementrian Luar Negeri, Kementrian Perindustrian dan Perdagangan, Kementrian Koperasi dan UKM serta Dinas Perindustrian Perdagangan, Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi UKM dari beberapa kabupaten dan kota di Indonesia. Di sela-sela kesibukannya, ia sempat aktif dalam kepengurusan APINDO Yogyakarta, menggagas kegiatan peningkatan edukasi untuk beberapa sekolah menengah, merintis gerakan pendampingan berbasis nirlaba, serta mengikuti program leadership Ahok’s Ways yang digagas Ciputra Online. Bio mendapatkan sertifikasi Neuro Assosiative Conditioning (NAC) dari Ronald Nurdhanadarma Authorized Anthony Robbin USA dan sertifikat Business Class Program dari RMIT, Melbourne Australia.

CLOSE