Pers mahasiswa merupakan sebuah elemen penting dalam kehidupan kampus. Pers mahasiswa di kampus menjadi sebuah wadah dari jiwa kritis mahasiswa. Sebab di sinilah, letak pondasi utama mahasiswa sebagai generasi intelektual, agar berani berbicara dalam kehidupan masyarakat. Pada perkembangannya, pers dimulai pada masa Kolonial Hindia Belanda (1908-1941).

Pada masa ini berkumpulah mahasiswa-mahasiswa dari golongan pribumi yang dikirim berkuliah ke Belanda yang memiliki kesadaran perjuangan dan jiwa nasionalisme untuk mengusir kolonialisme di Indonesia. Mahasiswa-mahasiswa tersebut mendirikan organisasi sosial Indische Vereniging pada tahun 1908 dimana organisasi ini kemudian berkembang menjadi Perhimpoenan Indonesia (PI).

Advertisement

Pergolakan mahasiswa untuk menentang kebenaran di atas sebuah kemunafikan menjadi sebuah keharusan. Menjadi mahasiswa tidak hanya berurusan dengan pelajaran secara akademik saja di kampus, tetapi perlu "bergerak" untuk menyuarakan dan menuntut keadilan pada hal-hal yang dianggap melenceng dan tidak sesuai aturan.

Pers menjadi suatu ladang yang diharapkan menjadi tempat bagi mahasiswa yang ingin melakukan perubahan walau hanya melalui sebuah tulisan. Kebebasan menyuarakan pendapat tentu menjadi pilar utama dalam sebuah pers. Kehadiran pers di kampus diharapkan menjadi sebuah check and balances sekaligus kontrol di tengah gejolak dinamika kampus yang terjadi.

Pers mahasiswa ibarat sebuah ladang air di tengah gurun pasir, dimana pers mahasiswa menjadi air segar untuk memenuhi dahaga jiwa-jiwa kritis mahasiswa. Pers menjadi senjata utama mahasiswa tatkala nasehat tidak lagi didengar, suara tak lagi dihiraukan. Sebagai seorang mahasiswa, dituntut untuk menjadi karakter yang kuat dan kritis.

Advertisement

Kredibilitas seorang mahasiswa yang diharapkan mampu menjadi keterwakilan rakyat sudah saatnya menjadi sebuah acuan dengan diperluasnya konektivitas dan pengalaman diluar perkuliahan. Pers mahasiswa sebagai media informasi yang dimiliki mahasiswa selayaknya memberikan informasi berupa berita atau isu-isu yang ramai dibicarakan, terutama di wilayah kampus.

Informasi tersebut tidak sebatas isu internal kampus saja, namun harus merambah isu-isu nasional. Hal ini diharapkan agar mahasiswa menjadi peka yang senyatanya memang merupakan keharusan, terhadap isu yang beredar agar lebih cermat dalam mencermati, menganalisa, mengkritisi, dan lalu menginformasikan kepada masyarakat umum.

Sebagai media, tentunya pers mahasiswa menjadi sebuah transmisi pesan yang diharapkan mampu menampilkan dan memunculkan sebuah pemberitaan yang verifikatif dan logis dari buah pikir kritis mahasiswa sehingga keberadaan pers mahasiswa menjadi terakui kualitasnya. Perkembangan pers mahasiswa dari waktu ke waktu mungkin sangat kurang diperhatikan.

Adanya sikap bodo amat di kalangan mahasiswa dalam menanggapi sebuah isu membuat perkembangan pers mahasiswa sulit dikembangkan. Rasa takut untuk membongkar sebuah isu permasalahan yang menjadi sebuah salah satu alasan mengapa pers mahasiswa kian turun diminati. Ada kalanya pers mahasiswa mengalami krisis eksistensi, mengalami tekanan baik internal kampus maupun eksternal yang membuatnya tidak dapat bertindak sebagai mana mestinya.

Kemegahan dari pers mahasiswa perlu dibangunkan kembali. Asas netralitas dan keberanian menjadi tonggak utama dalam pers mahasiswa. Sebagai mahasiswa, tidak selayaknya menjadi pasif tatkala melihat sebuah permasalahan yang sedang terjadi. Mungkin dengan pers mahasiswa, mahasiswa bisa menyuarakan dan menyalurkan apa yang ingin disampaikan.

Pers mahasiswa di kehidupan kampus menjadi sebuah keharusan dimana lamban laun permasalahan mahasiswa semakin kompleks. Tanpa adanya pers mahasiswa, lantas kemana mahasiswa akan menyuarakan suaranya serta memberikan pemikiran kritisnya. Apakah pers diluar kampus menjamin hal itu?

Mari pers mahasiswa dihidupkan kembali demi kelanjutan suara mahasiswa yang kritis dan diharapkan mampu menjawab tantangan masyarakat kedepannya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya