“Ma, aku pengen punya toko boneka”, ucap adik saya kepada Ibu saya. Saat itu Ia masih berumur enam tahun dan logat bahasanya pun masih berantakan. Ibu terkejut saat mendengar ucapannya. Ketika ditanya mengapa, adik hanya menjawab dengan singkat. “Bonekaku kebanyakan. Mending dijual aja kan daripada disimpen di kamar?” Siapa yang menyangka bahwa dari sebuah perkataan seorang anak berumur enam tahun dan tidak jelas asal-usulnya itu, berhasil direalisasikan menjadi sebuah tempat sederhana yang digemari orang-orang?

Tidak lama dari kejadian itu, Ibu pulang pada malam hari dan ia menyodorkan sejumlah kertas kepada saya dan ia meminta saya untuk mempelajari kertas-kertas tersebut. Ibu hanya tertawa melihat ekspresi wajah saya yang kebingungan. “Mama ingin melihat kemampuan adik kamu untuk bernegosiasi. Kalau tokonya nggak lancar ya… nanti dijual saja,” katanya mengentengkan. Saya hanya bisa menghela nafas. Gaada salahnya juga kan? pikirku.

Advertisement


Disaat itu saya juga tidak meyakini bahwa kios yang berukuran 100 x 150 meter tersebut bisa bertahan lebih dari setahun, karena seluruh pembuatan toko ini pun dimulai dari perasaan iseng.


Beberapa bulan menjelang pembukaan, saya ikut membantu Ibu saya untuk mengatur rak-rak kecil dan membawa plastik-plastik berisi boneka. Adik saya pun ikut bersemangat dan Ia juga mengobservasi lingkungan sekitar toko barunya. Tidak lama kemudian, Ia membawa seorang anak kecil, yang kemudian menjadi pembeli pertama toko kami. Kedua orangtua saya yang menyaksikan peristiwa ini merasa termotivasi untuk membesarkan kios ini bak anak ketiga. Menariknya, keinginan mereka ini muncul karena mereka merasa dikalahkan oleh seorang anak kecil yang masih berumur enam tahun.

Dan benar saja, Ibu mulai mengobservasi perilaku dan permintaan para pelanggan. Ia pun mempelajari cara menentukan harga, dan kode etik apa yang sesuai untuk melayani pembeli di toko ini. “Kalau tokonya murah dan barangnya bervariasi, pasti bisa menarik berbagai macam orang, dan akan jaya nantinya,” ucapnya sambil tersenyum ketika saya bertanya mengapa toko tersebut dinamai ‘Toko Murah Jaya’.

Advertisement


Ia menambahkan, “Yang terpenting itu bukan keuntungan Ve, yang terpenting itu adalah kesan mereka ketika sedang dilayani di toko. Mereka harus diberi pelayanan yang sama ketika berbelanja barang seharga lima puluh ribu, ataupun dua ribu perak”.


Perubahan yang terjadi di toko kecil itu sangat menakjubkan. Dalam enam bulan pertama, omzet toko sudah melebihi jumlah modal keseluruhan dari barang-barang yang dijual. Sepanjang enam bulan itu pun sudah terlihat beberapa pembeli yang berpotensi untuk ‘berlangganan’ di toko kami. Dengan menambahkan berbagai macam barang seperti: mainan, tas sekolah, tempat makan, buku tulis, tas travelling, dan koper, Toko Murah Jaya berhasil untuk menarik perhatian banyak orang, apalagi dengan letak tokonya yang persis berada didepan Hypermart. Didukung lagi dengan ornamen toko yang terkesan heboh dan berwarna menarik.

Tahun berikutnya, Toko Murah Jaya mulai mendapatkan banyak kunjungan dari berbagai pembeli yang menarik. Mulai dari salah satu bintang artis dari sinetron yang cukup beken pada saat itu, kemudian mendapatkan sebuah pesanan untuk membuat sejumlah bingkisan untuk salah satu perusahaan besar di Indonesia, dan sampai ditawari untuk dibuatkan sebuah laman khusus di Google secara gratis. Masa-masa ini adalah masa yang sangat menjanjikan. Bahkan Ibu sudah mempunyai sebuah niat untuk membuka cabang toko yang baru.

Tetapi, roda kehidupan terus berputar. Ada masa yang jaya, ada juga masa yang menyuramkan. Seluruh peristiwa yang menyuramkan ini dimulai dari konflik dengan developer mall Cinere Bellevue. Pada saat itu pihak developer enggan untuk mendengarkan masukan-masukan yang diberikan oleh pemilik-pemilik kios dan para pengunjung yang datang. Hal ini menyebabkan menurunnya jumlah pengunjung mall secara drastis. Hal ini mengakibatkan tutupnya beberapa kios dan restoran secara satu persatu.

“Kalau supermarket saja tidak dikunjungi banyak orang, bagaimana dengan toko kecil seperti Toko Murah Jaya?” Omzet toko yang dulunya bisa mencapai beberapa puluh juta dalam waktu dua minggu, harus dikumpulkan dalam waktu dua atau tiga bulan hanya untuk mencapai jumlah yang sama. Peristiwa ini terus berlangsung selama satu tahun penuh.


“Seperti seekor ayam menang kampung tergadai,” ucapku kepada Ibu. Kesialan terus menimpa nasib Toko Murah Jaya, terutama ketika mal Cinere Bellevue tersebut mengalami peristiwa kebakaran yang mengenaskan.


Ibu mengatakan, meskipun tidak ada barang yang rusak karena kebakaran yang terjadi, pihak developer belum memberikan keputusan atau jalan tengah dari masalah ini. Ia juga mengatakan, kalau Toko Murah Jaya harus berakhir, perjalanan dan pengalaman yang ia dapatkan selama tiga tahun ini sangat mengesankan dan menyenangkan. Tidak ada satu rasa penyesalan pun yang muncul dihatinya ketika ia berusaha merealisasikan keingininan putri bungsunya untuk membuat sebuah toko boneka.

Lagipula, siapa yang menyangka bahwa ide seorang anak yang masih berumur enam tahun itu bisa menjadi sesuatu yang besar?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya