Kecewa, itulah yang gue alami sekarang. Gue terlalu berharap banyak pada seseorang yang sama sekali nggak pernah memikirkan gue. Yah ini salah gue jatuh cinta pada orang yang nggak mungkin menyambut cinta gue. Apalah gue ini hanya seorang wanita biasa seperti debu di atas keset yang diinjak-injak.

Awalnya gue nggak berharap dia menyayangi gue karena dari awal gue pun nggak pernah terpikir akan jatuh cinta pada dia. Bahkan gue nggak tau siapa namanya. Namun ketika sebuah pesan WhatsApp seseorang masuk ke WA gue itulah awal dari harapan gue ke dia. Gue melihat nama pemilik WA tersebut. Dan gue pun mencoba menelusuri via google, siapakah pemilik nama tersebut.

Advertisement

Gue menemukan bahwa seseorang yang nggak gue ketahui namanya tersebut memiliki nama yang sama dengan nama pemilik WA. Dan gue menyimpulkan bahwa mereka adalah orang yang sama, dialah orangnya. Sejak itu gue mulai merasakan benih-benih cinta di hati gue berharap dia benar-benar menjadi bagian dari hidup gue.

Namun seiring berjalannya waktu akhirnya terungkap bahwa dia bukanlah dia. Hati gue hancur, sakit, menangis. Gue cuma punya air mata untuk menumpahkan kesedihan gue. Gue nggak menyalahkan siapa pun, semuanya terjadi karena gue yang terlalu berani menyimpan rasa cinta pada seseorang yang bahkan nggak mengenal gue. Ini bukan yang pertama kali gue kecewa dengan cinta dalam diam, mengagumi seseorang dalam hati kemudian kecewa melihatnya bersanding di pelaminan.

Gue nggak pernah sukses membangun cinta dengan seseorang karena gue cuma mampu menjadi pengagum rahasia. Kali ini gue pun takut melihat hal yang sama terjadi. Namun gue harus ikhlas dengan takdir Ilahi, karena nggak semua yang kita inginkan akan menjadi milik kita. Gue berhusnuzon saja bahwa Allah sedang mengajarkan gue tentang arti sebuah keikhlasan. Yah, alhamdulillah gue masih punya Allah yang menguatkan gue.

Advertisement

Gue yakin banget Allah akan mengganti kesedihan gue dengan menghadirkan seseorang yang lebih baik buat gue. Lebih baik dari dia. Karena gue yakin doa gue nggak akan disia-siakan Allah. Sekarang gue nggak mau membiarkan hati gue jatuh dalam perangkap cinta karena cinta hanya akan membuat gue kecewa, biarlah nanti ketika saat itu datang, saat di mana seseorang yang telah tercatat namanya di Lauhul Mahfud datang menjemput cinta gue, yah gue akan membuka kembali hati gue.

Sekarang gue hanya ingin menyibukkan diri dengan bermuamalah pada Allah. Mengajar, belajar, dan menyebar ilmu. Membuat proyek-proyek amal dan gue pun harus menyelesaikan target hafalan Al-Quran. Hidup gue hanya untuk dakwah. Dan gue harus bahagia. Karena bahagia itu sederhana, sesederhana ketika kita mampu tersenyum disaat hati menangis. Fastabiqul Khairat!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya