Di hari ke-tiga sebelum pesta pernikahanku kau datang…

Senja yang berlahan beranjak hingga gelap berkuasa, redup lampu taman merubah suasana jadi remang. Bangku panjang teras rumahku tempat dulu kita sering bercengkrama kini kembali menjadi saksi kehadiranmu. Kita bisu tanpa suara, hanya sesekali suara jangkrik jadi penyela kediaman yang seakan tiada berujung.

Advertisement

“Entah apa yang membungkam bibirmu di saat seharusnya kau menjelaskan segalanya”, pikirku.

Sejuta tanya yang telah bertahun ku pendam seakan ingin berhamburan dari bibirku, namun ku 'bungkam' semua kata, karena kutahu setiap barisnya hanya akan menjelma menjadi amarah.

Alasan kepergianmu 2 tahun lalu masih menjadi teka teki yang belum terpecahkan dalam kepalaku. Entah mengapa saat cintaku berada dipuncaknya kau seketika menghilang tanpa pesan dan kabar, seakan bumi menelanmu dengan seketika, hingga jejakmupun tak mampu kutemukan.

Advertisement

Hari ini entah apa yang menyeretmu kembali dari persembunyian, setelah hati ini telah ku tutup rapat untukmu. Seharusnya kau tahu bahwa memang cinta bisa menunggu tapi tidak dalam waktu yang lama.

“Sampai kapan kau akan diam?” tanyaku, tak tertahan.

“Apa kau bahagia?”, balasmu.

“Tidakkah kau ingin menjelaskan alasan kepergianmu dulu sebelum kau bertanya perasaanku saat ini?”, balasku, tak ingin kalah.

“Jika kau ingin tahu alasanku, silahkan kau tanyakan kepada orang tua mu yang telah menolak lamaranku…… saya akan doakan kebahagiamu” katamu, yang kemudian terdiam.

Masih kucerna semua kata-katamu yang seaakan menarikku dalam dunia yang tak ku kenal. Tanpa menoleh kau beranjak pergi meninggalkanku yang lagi tak mampu berkata, hingga berlahan sosokmu mulai tertelan air mata yang seketika mengalir deras di pipiku.

Sayang, dahulu aku membenci kepergiamu yang tanpa pesan dan kabar namun hari ini aku membenci diriku yang terlalu cepat menyerah dengan cintaku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya