Untuk pria yang selalu menghiasi hariku, kuucapkan selamat pagi. Di sela waktu kesibukanku, aku menyempatkan diri menulis bait per bait tulisan ini. Berharap suatu saat kau akan tersenyum kecil saat membacanya.

Ya, aku hanya ingin menuangkan beberapa bait rindu saja untukmu. Tak apalah jika sesekali aku bercerita tentang sepenggal kisah kita. Bukan untuk memamerkan pada dunia. Tapi untuk membuktikan bahwa kamu benar selalu ada dalam jiwa.

Ini bukan sebuah inspirasi, ini hanya setitik curahan hati. Rasa yang lama tak tersampaikan bahkan lewat secercik api. Lalu, untuk apa kupendam sendiri? Bukankah harusnya kita saling membagi?

Tak hanya itu. Lewat tulisan ini aku juga ingin mewakili diriku sendiri mengucapkan terimakasih. Ya, terimakasih untuk semua rasa yang masih melekat hebat. Dan juga untuk kepercayaan yang justru semakin kuat.

Semoga Bagimu KKN Tetaplah Kuliah Kerja Nyata, Bukan Untuk Kisah Kasih Nyata

Advertisement

Siapa yang tak kenal ajang kampus yang satu ini? Kisah Kasih Nyanta? Tidak! KKN adalah Kuliah Kerja Nyata. Dimana visi dan misinya adalah lebih menekankan pada pengabdian masyarakat. Namun, tidak sedikit mahasiswa yang dapat dikatakan “sambil menyelam minum air” lah. Seperti banyak terjadi kisah yang sering disebut cinlok atau cinta lokasi.

Untuk sesama spesies jomblo hal ini sah-sah saja. Lalu, bagaimana dengan ketenangan pasangan yang terpisah jauh akibat ajang ini? Semoga tidak merapuhkan, namun justru menguatkan.

Penantian Kabar Sedikit Menguras Emosiku. Bagaimana Tidak? Jarak dan Waktu Tak Lagi Di pihakku.

Rutinitas berkirim kabar menjadi sebuah hal yang sangat dinantikan setiap waktu. Ya, awalnya komunikasi kita kerap tak ada masalah. Lancar dengan segala kondisi yang ada. Menyapa setiap pagi, bertukar kabar, bahkan hingga larut sebelum waktu tidur tiba. Semua hal kita lalui bersama. Naik turunnya kisah kita juga membawa banyak asam garam yang tak ada habisnya.

Ya, aku tau. Memang tak semua waktumu bukan hanya untukku. Bahkan kau juga harus pandai membagi waktu dengan keluarga, juga orang sekitarmu. Tapi, bukankah hal yang wajar, jika terkadang aku juga menginginkan sebagian waktumu untukku? Jika tidak untuk saling bertemu, sekedar bertukar kabarpun tak apa bagiku. Lalu, bagaimana jika jarak yang jauh memisahkan dan di antara kedapnya sinyal melanda kita? Bukankah membiasakan diri tanpamu itu sangat menyesakkan jiwa?

Ketika Curiga dan Cemburu Bahkan Beradu Satu, Kini Berprasangka Burukpun Seakan Menjadi Kebiasaan Baruku

Aku juga wanita seperti pada umumnya, yang kadang penuh prasangka dan cemburu membabi buta. Aku bahkan sering terhanyut amarah, keegoisan, dan hal buruk lainnya. Terlebih ketika logika dan perasaan membuatku bergeming. Merapuhkan kepercayaan, melilit kecemburuan yang saling beradu satu. Kau tau? Bahkan risau ini selalu menghantuiku. Berprasangka buruk padamu seakan menjadi kebiasaanku.

Sayang, seharusnya aku tak begitu. Membuat jarak ini semakin menjauh. Namun, kau tau cara menenangkanku. Mengikis habis prasangka dan curigaku.

“Sudahlah, kau tak perlu ragu. Tak ada yang lain selain dirimu.”

Ya, Hanya kata sesederhana itu

Desas Desus Cinta Lokasi Datang dan Pergi Menghantuiku, Terus Memaksa untuk Selalu Meragu.

Mungkin ini sekedar rasa takut yang berlebihan saja. Bagaimana tidak? Desas-desus semacam ini yang sering terlantun di setiap telinga mahasiswa.

Tak jarang dalam sebuah kisah Kuliah Kerja Nyata selalu terdengar desas-desus cinta lokasi. Oh tidak! Semoga tidak terjadi juga padamu. Ya, aku tahu, kehidupan bersama dalam beberapa minggu tidak mudah dilupakan. Setiap momen kebersamaan kalian adalah suatu hal manis yang akan sering kau rindukan. Itulah yang sering aku khawatirkan. Bahkan banyak ribuan raga yang menemukan belahan jiwanya di sana. Dan hal ini yang membuatku selalu bertanya, masihkah utuh cintaku di sana?

Ini Bukan Kali Pertama Kau Berada Jauh dari Sisiku, Tak Perlu Risau dan Ragu. Aku akan Menjaga Utuh Seluruh Kepercayaanmu.

Ketika raga tak pernah berjumpa. Sedang rindu selalu menggebu mengiris kalbu. Merintih menginginkan raga ini segera bertemu. Bukan ingin tak menggubrisnya, aku hanya ingin sejenak melupakanmu meski tak bisa.

Taukah kamu? Aku akan tetap bertahan bersama waktu demi untuk dirimu. Kau tak perlu ragu, aku bahkan selalu berusaha semampuku untuk menjaga penuh kepercayaanmu. Harapku hanya satu. Semoga keadaan ini cepat berlalu. Aku ingin segera melepas bongkahan rindu yang terus melilit jiwaku.

Ini Bukan Hanya Sebuah Ujian, Bahkan Juga Segudang Pembelajaran tentang Begitu Banyak Arti Sabar dalam Sebuah Hubungan

Mungkin raga kita memang saling berjauhan. Di antara bentangan gunung dan harus lelah mendaki untuk mencapainya. Menempuh berjuta kilometer untuk menghampirinya. Namun percayalah, kiblat yang sama akan menyatukan jiwa kita. Tak peduli betapa jauhnya jarak memisahkan, doa yang memiliki kekuatan untuk menyampaikannya. Sabarku serta penantianku, semoga berujung pada tandu yang siap menopangku hingga sampai pada hangat pelukmu.

Cepatlah Berlalu, Tunaikan Segera Tugas Muliamu. Aku Tak Ingin Terus Menerus Terdampar Rindu

Taukah kau apa itu rindu? Aku mendeskripsikannya bagai sedang menjangkau suatu hal yang seakan di depanmu, namun kenyataannya hanya ada di benakmu. Kau bahkan selalu memikirkannya bahkan di sela-sela nafasmu. Ya, aku mendeskripsikannya seperti itu. Bagiku hampir tak ada bedanya. Di sini atau tidak, bayangmu selalu mengikutiku.

Waktu demi waktu telah berlalu. Seakan berjalan melambat jika tanpamu. Cepatlah tunaikan pengabdian masyarakatmu, tunaikan segera tugas muliamu. Aku tak ingin terus-menerus terdampar rindu.