Semua berjalan begitu saja. Pertemuan-pertemuan kita seperti diamini semesta. Kita selalu bertemu karena sebuah alasan-alasan yang tidak masuk akal. Suatu sebab-sebab yang selalu mempertemukan kamu dan aku. Lalu, pandangan kita sama-sama jatuh.

Kata orang, cinta pandangan pertama itu indah. Namun dulu, aku tidak merasakan demikian. Karena yang sebenarnya terjadi adalah, cinta kita tumbuh dan ada karena keterbiasaan. Terbiasa bertemu, terbiasa dekat, dan terbiasa untuk saling menyapa. Ya, seperti kita yang tak sengaja selalu bertemu, kita saling melempar senyum. Tak jarang aku yang pura-pura tak melihat ketika berpapasan, berpura-pura polos. Padahal sebenarnya hatiku bergejolak.

Advertisement

Pernah suatu saat kita dipertemukan pada event besar kegiatan tahunan di kampus. Entah mengapa nama kita tertulis dia sebagai ketua dan aku wakilnya. Sebagai partner, tentunya kita harus profesional. Dan karena hal tersebut, pertemuan kita mau tidak mau menjadi semakin intens saja. Bahkan, entah hanya aku yang merasa, ataupun memang dia yang selalu mencari cara untuk selalu menghubungiku. Dari alasan klise semacam salah kirim, atau handphonenya sedang dibajak teman. Entahlah.

Dia, yang aku kira sebelumnya adalah manusia pendiam, ternyata sangat menyenangkan. Dia selalu usil terhadapku, rambutku selalu dibuatnya berantakan. Dia berkata bahwa aku pesek, si pendek, atau si anak SMP nyasar ke kampus orang. Tak jarang aku selalu sebal dibuatnya. Sampai ketika aku cemberut, dia selalu bilang "jangan cemberut! Jelek" Kata teman-temannya, sebelumnya dia tidak pernah berteman dekat dengan perempuan seperti halnya denganku, karena kalau sama yang lain dia terlalu dingin. Lewat sebuah event itulah, akhirmya kita hampir setiao hari selalu bertukar kabar.

Tiga bulan lagi, dia wisuda. Sedangkan aku masih harus menyelesaikan kuliahku enam semester lagi. Setiap akhir pekan, dia selalu mengajak jalan. Jalan-jalan yang hanya sekedar nongkrong di cafe, main di taman, atau berburu sunset. Jajanan jajanan kecil semisal ice cream, makan di lesehan, atau hanya kacang rebus, selalu menjadi bahan pelengkap obrolan kita yang tak pernah kehabisan topik pembicaraan. Apapun selalu kita bicarakan, kecuali perasaan kita.

Advertisement

Entah kenapa, semuanya terasa begitu indah saja, indah sekali. Hari itu tiba. Aku pangling melihatnya bertoga, rambutnya yang selalu gondrong tiba-tiba menjadi rapi. Dari kejauhan dia melemparkan senyum dan tangannya melambai. Dia mengajakku bertemu dengan kedua orangtuanya. Sambil bercanda dia bilang "seperti inikah oleh-oleh yang selalu mama minta?" Mamanya tersenyum sambil mengangguk. Entah itu apa artinya, aku hanya bisa tersenyum tersipu malu.

Hari itu begitu menyenangkan, namun kemudian dia pamit kepadaku, dia ikut pulang dulu bersama orangtuanya. Sebenarnya hatiku tidak ikhlas dia pergi, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan begitu seterusnya. Sudah lama bersama, dalam sebuah 'bundaran' yang entah harus aku namai apa. Perhatian-perhatiannya, puisi-puisinya, selalu mengiringi hari-hariku. Aku hanya bisa tersipu malu.

Sebenarnya aku ingin bertanya, "ini sebenarnya apa?", "mau dibawa ke mana?", "sampai kapan?" Tapi aku takut mendapati jawaban yang mengecewakan. Akhirmya pertanyaan-pertamyaanku hanyalah tetap menjadi pertanyaan. Entah itu namanya cinta, atau apalah kalian mau menyebutnya. Semakin hari, keinginan untuk selalu bisa dekat dengannya semakin memuncak, memilikinya adalah mimpi yang aku ingiini segera menjadi nyata. Namun lagi lagi aku ciut dengan perasaanku sendiri. "Hei, kamu perempuan. Tunggu sebentar lagi sampai dia mengutarakannya duluan!"

Beberapa bulan kemudian dia menghilang. Tidak ada pesan, tidak ada telepon, akun sosial medianya nonaktif. Walaupun dia hilang, seperti biasa aku selalu gengsi untuk menanyakan kabar duluan, atau hanya mengecek apakah nomornya masih aktif. Dan jelas saja, hilangnya semakin menjadi. Setiap hari, setiap malam, setiap jam selalu aku menggenggam handphone-ku, yang mana biasanya aku tidak pernah segila itu untuk terus memandangi layar handphone.

Aku selalu menunggu dan berharap handphone-ku berdering, itu telepon darinya, itu pesan darinya. Tetapi semuanya tidak pernah terjadi. Sampai pada suatu hari ketika aku berada di ujung rinduku, aku mencoba iseng membuka lagi akun media sosialnya, yang ternyata sudah aktif kembali. Sampai pada pencarian namanya aku sentuh, rasanya bumi seperti tidak ada gravitasinya lagi, dia mem-posting fotonya bersama seorang perempuan yang sedang memeluknya, dan mereka tersenyum sangat renyah, di-posting tiga jam yang lalu.

Hatiku berkecambuk, mau marah aku tidak bisa. Mau berontak, itupun akan jadi percuma. Memangnya salah siapa? Dia sama sekali tidak pernah menjanjikan apapun, hanya saja mungkin aku yang terlalu berharap. Atau, hati perempuan memang demikian adanya? Postingan tersebut aku love dan ternyata dia seperti menyadari akan hal itu. Beberapa jam kemudian, handphone-ku berdering.

"Salam, hi apakabar?" Sebuah pesan dari seseorang yang aku tunggu tunggu. Entah kenapa kali ini pesan sesederhana itu mampu membuat hatiku rasanya menjadi kian sesak, sesak sekali. Pesan itu selalu aku baca berulang kali, keinginan untuk membalas dan tidak membalas menjadi imbang. Kalau aku balas, pastilah aku berkata "waalaikumsalam, kabar baik" Padahal sejatinya tidak demikian, karena aku baru saja patah. Dan semua tidak ada yang baik-baik saja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya