Kasus senioritas yang saya angkat kali ini memang mulai agak sedikit memudar, Kejadian ini sempat booming pada beberapa bulan silam, tapi contoh kasus yang saya angkat disini merupakan kasus yang cukup membuat saya jengah.


Gila. Itu yang ada di benak saya ketika baru-baru ini membaca kasus senioritas yang menimpa mendiang Hilarius Christian Event Raharjo siswa kelas X SMA Budi Mulya, Bogor. Kasus ini memang merupakan kasus yang baru terkuak tabirnya, pasalnya ajal menjemput Hilarius pada awal tahun 2016 silam, dan entah mengapa baru pada tahun ini kejadian ini mendapatkan sorotan publik.

Advertisement

Hilarius meninggal bukan karena alasan yang sepele, ia meninggal akibat tindakan para senior nya yang mencoba mengadakan pertarungan dengan tangan kosong untuk melawan junior lain yang berstatus di sekolah yang berbeda. Para senior Hilarius mencoba mengkoordinir jalannya pertarungan ini dengan para senior di sekolah lainnya, sampai pada akhirnya, perbuatan bodoh ini merenggut kembali nyawa seseorang yang notabene nya tidak berdosa dan kasus ini menjadi tambahan daftar hitam kematian yang berkaitan dengan senioritas.

Dilansir dari data Kementrian Sosial (Kemensos) , sejak Januari hingga Juli, tercatat ada 976 pengaduan dan 17 diantaranya adalah kasus bullying. Data yang diterima oleh Kemensos ini menunjukkan bahwa pada tahun 2017 terjadi peningkatan dibandingkan tahun lalu atas masalah kasus bullying, yang tentu nya saling berkaitan juga dengan kasus senioritas.

Kasus senioritas memang acap kali terjadi dalam dunia pendidikan di negeri kita ini, bahkan anak Sekolah Dasar pun sudah mengerti apa arti senioritas dan bullying, dua hal tesebut memang tidak dapat dipisahkan, seolah menjadi keharusan, dimana terjadi senioritas pasti ada campur tangan bullying di dalamnya.

Advertisement

Miris, sudah seharusnya pemerintah serta masyarakat menindak tegas adanya aksi senioritas serta bullying di Indonesia sekarang ini, karena menurut saya, kasus ini bukan lagi kasus yang harus kita anggap remeh, kasus ini bukan lagi hanya sekadar menyakiti, atau pun alih-alih sebagai candaan semata.


Kasus senioritas entah mengapa acap kali mengorbankan nyawa, seolah-olah ‘membunuh’ bukan lah hal yang dianggap risih lagi, dan ya, nilai moral yang ditanamkan dari nenek moyang kita seakan pudar, rasa simpati dan mengasihi sesama seakan dianggap sebagai rasa yang terlalu kuno untuk diabadikan lagi.



Para pelaku senioritas ini selalu saja memakai topeng ‘kebersamaan’ ‘kesetiaan’ ‘solidaritas’ dan ‘keberanian’, walaupun pada dasarnya topeng tersebut hanyalah kedok dibalik niat buruk yang akan mereka lakukan,


Dan lagi-lagi ketika para pelaku senioritas ini diajukan pertanyaan, mereka hanya mampu menjawab ‘balas dendam karena pernah diperlakukan hal yang sama pada senior terdahulu’.Aneh. Jawaban yang sangat klise bagi saya, dan ya, saya selalu jengah ketika mendengar jawaban ini selalu dilontarkan oleh para pelaku senioritas tersebut.


Saya tidak menentang dan menyalahkan pendapat kalau sebenarnya senior merupakan orang-orang yang harus dihormati oleh para junior nya, namun dibalik kata ‘hormat’ ini tentu nya harus didukung kembali oleh rasa saling menghargai satu sama lain, antara senior dan junior yang mampu membangun rasa solidaritas yang kuat, bukan hanya mengucap ‘solidaritas’ saja namun menyiksa dan merugikan beberapa pihak.


Kasus yang dialami oleh mendiang Hilarius bukanlah kasus senioritas pertama yang terjadi, masih segar diingatan beberapa bulan lalu terjadi kasus sama yang terjadi pada Pendidikan dasar (Diksar) Mapala UII yang kembali memakan korban akibat adanya perpeloncoan yang lagi-lagi beratasnamakan senioritas. Tak luput juga Universitas tempat saya mengenyam pendidikan sekarang ini pernah di isu kan terdapat aksi senioritas yang dilakukan oleh para senior di salah satu fakultas yang pada akhirnya menimbulkan beberapa korban yang harus dirawat secara intensif di Rumah Sakit.

Ajang saling menunjukkan siapa yang harus dihormati dan ditakuti di setiap aksi perpeloncoan merupakan tindakan yang amat sangat konyol bagi saya, sikap tersebut sudah tentu bukan sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh mereka yang mengaku kalau dirinya seorang yang memakan bangku sekolah. Ditambah lagi adanya beberapa senior yang masih haus akan budaya ‘jilat pantat’, dimana para junior harus selalu mengagung-agungkan keberadaan diri mereka.


Budaya ‘jilat pantat’ seakan bukan para petinggi pemerintahan saja yang mampu melakukannya, bahkan budaya ini seakan sudah turun temurun diberlakukan sebagai suatu ‘identitas diri’ dan seperti sebuah keharusan, barang siapa yang pintar dalam ‘menjilat’ maka ia dapat survive dalam permainan kotor negeri ini, dalam bidang apapun. Termasuk dalam dunia pendidikan yang selalu saja tercoreng namanya


Beberapa bulan lalu ditetapkan sebagai hari perdamaian dunia, pertanyaan saya, benarkah memang kita sudah amat sangat damai? tidak perlu jauh-jauh dahulu kita mengutarakan Selamat Hari Perdamaian Dunia kalau pada dasarnya kasus senioritas di negeri kita tercinta ini sendiri belum mampu kita kendalikan. Hal sepele seperti saling memahami serta menghormati satu sama lain tanpa memandang status pun sampai saat ini merupakan salah satu hal yang sangat susah diterapkan, terlebih pada generasi muda sekarang ini.


Dibalik ini semua, menurut saya terdapat salah satu penyebab rusaknya moral anak muda di negeri kita ini, sebuah mindset yang terlanjur telah dikotori oleh banyaknya doktrin-doktrin yang diserap tanpa disaring terlebih dahulu, hal ini tentu berdampak cukup besar dalam lahirnya aksi senioritas di negeri ini, menganggap kalau senior adalah sosok makhluk yang harus ditakuti, menganggap harus adanya ‘sikap hormat’yang berlebihan diberikan oleh junior kepada senior, menganggap kalau berlaku kasar itu keren, menganggap menyakiti orang lain merupakan ajang pembuktian diri.


Contoh-contoh yang disebut tadi merupakan beberapa mindset yang saya anggap ada di dalam otak para pelaku senioritas dan tentu saja, aksi senioritas akan terus berlanjut tanpa titik ujung temu untuk menyudahinya apabila mindset tersebut selalu terukir di otak mereka – para pelaku senioritas.

Saya tahu pemerintah sudah menindak tegas masalah senioritas ini, pemerintah dengan semampu mereka mengevaluasi kembali sistem pendidikan yang kini diterapkan di Indonesia, pemerintah berusaha tidak hanya menyediakan fasillitas pendidikan yang hanya bergerak pada bidang intelektual namun juga sekarang sedang gencar memberikan pendidikan karakter, moral serta akhlak yang harus dimiliki oleh mereka yang sedang mengenyam bangku pendidikan.


Namun semua hal yang dilakukan oleh para pemerintah ini akan berujung sia-sia apabila masing-masing individu tidak memiliki kesadaran untuk berubah, kesadaran untuk memiliki nilai moral yang lebih dan kesadaran untuk lebih menghargai setiap nyawa yang berada di dekatnya.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya