Pak, aku tidak pernah meninggalkan siapapun. Tidak dirimu , ataupun ibu. Pak, bisakah aku meminta sedikit waktumu? Hanya ingin menemanimu bersandar. Pak, tidakah kau merindukanku? Atau tidakah rindu pada adik-adik ku? Pak, aku tidak pernah benar-benar lari ataupun pergi. Aku hanya sembunyi, berharap ada yang menemukanku. Tidak tidak. Berharap kau dan ibu yang menjemputku.

Pak, aku belum sanggup mengganti posisimu. Aku masih tidak bisa melihat adik-adik ku, yang setiap kali menangis selalu mencari lalu erat memeluk ku. Pak, bukankah seharusnya itu dirimu? Pak, aku tidak pernah membenci siapapun. Aku hanya benci dengan semua ini. Aku belum terlalu tegar. Lenganku belum terlalu kuat untuk menjaga mereka. Tubuhku belum terlalu kokoh untuk menjadi atap mereka berteduh. Pundakku belum terlalu nyaman untuk menjadi tempat mereka memalingkan badan.

Advertisement

Pak, aku tidak pernah sedikitpun tidak menyukaimu karena kau yang mungkin tidak pernah menyukaiku.

Ataupun ketika kau lebih membanggakan orang lain ketimbang aku, anakmu. Pak, mungkin kita jarang bahkan dalam seminggu hampir sama sekali tidak bertemu. Mungkin jika kita bertemu, kita hanya bertegur sapa dan mengobrol sebanyak satu atau dua patah kata. Mungkin kita ga banyak berbicara berdua ataupun menghabiskan waktu bersama. Tapi bagiku, Lebih baik kita tetap bersama meski hanya diam saja, daripada kita berpisah tanpa ada kata. Pak, Aku rindu. Mengusap dahimu yang panas saat kau terlelap kala kau sedang tidak sehat. Bukan mendoakanmu untuk sakit. Aku juga rindu, jawaban-jawaban singkatmu setiap kali aku menegurmu. Aku rindu, Caramu memperlakukanku, Memperhatikanku dengan tidak memperlihatkannya di depanku. Pak, Andai aku tau hari ini akan tiba. Aku takan pernah membuatmu terluka Dengan segala kebodohan dan tingkah nakal ku.

Pak, Apakah aku telah besar sesuai rencanamu? Apakah aku sudah membanggakanmu? Adakah sedikit hal yang membuatmu bangga akanku?

Advertisement

Pak, Bolehkah aku meminjam bahumu? Sebentar saja. Aku ingin bersandar dari kerasnya dunia tanpamu. Bolehkah aku meminjam waktumu? Aku janji, tidak akan lama. Hanya ingin bertemu dan memelukmu. Pak, Mungkin aku takan pernah tau apa yang kau rasakan. Namun aku juga seorang pria dewasa, sama sepertimu. Aku bisa merasa dan mengerti, seperti apa menjadimu saat ini. Pak,

Aku ingin kembali menjadi anak kecilmu yang kau ajak bicara setiap waktu. Yang kau ajak bermain di tiap hari liburmu.

Pak, Maafkan aku yang selalu sibuk dengan duniaku. Pak, Bolehkah aku menjadimu? Menjadi seperti dirimu? Pak, Maaf, aku sering mengecewakanmu. Entah apa yang saat ini sedang kurasa. Maaf aku menulis pesan ini. Aku hanya rindu. Itu saja. kalau itupun tidak boleh, tak apa. Setidaknya, aku harap dengan membaca tulisan ini kau bisa mengerti. Bahwa anakmu masih tetap hidup dan tumbuh. Pak, tenanglah tenang. Setelah semua yang terjadi, aku tetap menjadikanmu superhero-ku. Karena dengan segala diam mu, mengajarkanku. Bahwa aku harus tetap maju.

Terima kasih Pak untuk semuanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya