Hai.. setelah sekian waktu tak bertemu, apa kabar? Semoga limpahan rahmat Tuhan senantiasa mengiringi langkah kita. Langkah perbaikan demi masa depan. Demi keringat orang tua yang masih jadi taruhan. Sekalipun saat ini aku masih sering merindukan. Tapi percayalah, aku tidak mengharuskanmu melanjutkan sepenggal cerita kita ke depan.

Aku masih sama seperti kemarin. Sedikit lebih mengerti mengapa candaan kita tidak pernah menghasilkan kepastian. Tentu Tuhan lebih merindukanmu, ketimbang aku. Dan Tuhan lebih merindukanku, ketimbang kamu. Sebuah kesempatan yang Dia berikan untuk kita terus meningkatkan kemampuan. Mengajariku bagaimana melewati masa futur (lemah) tanpa keluhan, keegoisan.

Dibalik rintikan hujan, aku simpan rapi setangkup kerinduan. Sesekali kutanyakan, apa kau juga merasakannya? Sembari melantunkan doa harapan. Semoga kelak bila kita dipertemukan, tak pernah ada kebencian. Karena apa yang hari ini aku masih rasakan, setitik harapan pada pangeran ciptaan-Nya adalah kasih Tuhan.

Al Qur'an memastikan bahwa firman-Nya adalah kepastian. Tak perlu kita ragukan. Sebuah nama yang telah dipastikan di Lauful Mahfuz, untuk masing-masing kita. Jangan percayakan padaku, dan aku pun tak akan mempercayakan hati ini padamu.

Rindu yang tertahan ini biarlah jadi latihan. Bagi aku, keharusan bagi perempuan. Agar kelak aku berhasil menjadi madrasah terbaik bagi insan-insan sholeh titipan-Nya. Salam perbaikan!