Jepang sebagai Negara Matahari Terbit atau Negeri Sakura, sudah menjadi hal biasa yang diketahui oleh masyarakat umum. Namun, apakah kalian pernah mendengar tentang kuil bernama Fushimi Inari Taisha yang terletak di Kyoto, Jepang?


Fushimi Inari Taisha merupakan kuil atas ribuan gerbang dewa yang menyusuri sepanjang jalan setapak menuju puncak Gunung Inari. Ribuan gerbang yang dimaksud itu memang benar adanya, yakni sekitar 10.000 gerbang dewa, atau yang biasa disebut dengan Gerbang Torii. Kuil ini adalah salah satu tempat favorit saya ketika berkesempatan pergi ke Jepang setahun yang lalu. Dan yang saya sadari, tempat bersejarah tidak selalu membosankan.

Advertisement

Konon, Fushimi Inari Taisha pertama kali disebutkan disebuah laporan kuno tentang budaya provinsi, geografi, dan tradisi lisan, bernama Yamashirokoku Fudoki. Laporan ini biasanya dipresentasikan kepada para kaisar. Irogu no Hatanokimi, nenek moyang Hatanonakatsue no Imiki, dikatakan telah menembakkan kue beras, yang kemudian berubah menjadi seekor angsa dan terbang menjauh. Pada akhirnya, angsa itu mendarat di puncak sebuah gunung. Semenjak itu, pertanda baik pun muncul dan padi mulai tumbuh.


Maka dari itu, nama “Inari” diberikan atas keajaiban ini, di mana “ina” dalam bahasa Jepang diartikan sebagai “nasi” dalam Bahasa Indonesia.


Dalam teks kuno lainnya pun, dinyatakan bahwa para priest (imam) seperti Hatauji telah mengadakan festival pada musim semi dan musin gugur di tempat suci tersebut (puncak Gunung Inari) sejak Dewa Inari Okami diabadikan di sebuah dataran tinggi di daerah Inari Mitsugamine selama era tahun 708-715. Sebuah teks kuno lainnya juga pun menyatakan bahwa Irogu no Hatanokimi, tokoh yang dihormati di daerah Fukakusa, Kyoto, menerima sebuah perintah kekaisaran dari Permaisuri Genmei untuk mengabadikan ketiga dewa di tiga gunung pada “The first Day of the Horse of the second month of 711”.

Advertisement

Pada tahun yang sama, para petani diberkati oleh panen padi-padian yang bagus dan sutra dari ulat sutra mereka. Hal ini menunjukkan keterkaitan antara Fushimi Inari Taisha dan Fukakusa terhadap Hatauji dan bahwa dewa mereka telah diabadikan sejak hari sakral tersebut.

Pembangunan Fushimi Inari Taisha diawali pada latar belakang yang sama, yaitu tahun 711, dimana Inari Okami memilih untuk tinggal di Mitsugamine. Pada tahun 827, pohon sakral yang berada di Inariyama dipotong sehingga mereka dapat menggunakannya untuk membangun Toji Temple. Dikarenakan adanya kutukan dari dewa yang mengganggu pembangunan tersebut, Inari Okami diturunkan pangkatnya menjadi peringkat kelima, peringkat dewa yang lebih rendah, oleh istana kekaisaran. Setelah kejadian tersebut, pada tahun 908, Fujiwara Tokihira memperbaiki kuil tersebut.

Kemudian, pada tahun 927, Fushimi Inari Taisha mulai tercatat di Engishiki Jinmyocho, sebuah daftar tempat suci di seluruh Jepang. Engishiki Jinmyocho dikatakan telah mengenali tiga tempat suci yaitu Kuil Inari, Kii-gun, dan Yamashiro Province sebagai beberapa dari kuil yang termasuk dalam peringkat tertinggi.

Sei Shonagon menulis dalam buku hariannya yang diterbitkan berjudul “Makura no Soshi” (The Pillow Book), tentang kunjungan yang ia buat ke tempat suci pada Hari Kuda di bulan Februari. Dalam bukunya, ia menggambarkan betapa pendakian yang ia lakukan ke bangunan kuil itu melelahkan. Kemudian, pada tahun 1336, Kaisar Godaigo melarikan diri dari Kyoto ke daerah Yoshino, di mana Fushimi Inari Taisha berada. Kala itu, ia tersesat dan berdoa pada Inari no Kami, sambil membacakan puisi: “I am lost in the darkness of the night. Please send me three lanterns to guide me”.Sebuah awan berwarna merah muncul, membimbingnya ke tempat yang lebih aman.


Three lanterns yang ia sebutkan mengacu pada tiga gunung yang ada keberadaan kuilnya, yang mana Fushimi Inari Taisha menjadi salah satunya, yang sekarang telah dikenal sebagai tempat suci selama berabad-abad lamanya.


Setelah masa pecahnya Onin Rebellion (1467), pada tahun 1468, kuil yang terdapat di gunung dan juga di bawahnya, hancur dalam api pada saat serangan Yamana Mochitoyo, Hatakeyama, Yoshinari, Shiba Yoshikado, Ouchi Masahiro di Honekawa Doken. Namun, pada akhirnya kuil pun dibangun kembali mulai pada tahun 1499 hingga tahun 1694. Di tengah-tengah pembangunan, gerbang utama pun dibangun dengan sesaji yang dibuat oleh Bupati Toyotomi Hideyoshi pada tahun 1589. Kemudian, kuil tersebut ditunjuk sebagai Kanpei Taisha (kuil besar yang berada di bawah kendali The Department of Worship) dari pemerintahan Meiji yang baru.

Semenjak saat itu, Kuil Fushimi Inari Taisha dikenal dengan organisasi keagamaan, juga diselenggarakan peringatan atas pertama kalinya Inari Okami memilih tinggal di Inariyama dan atas pertama kalinya dibangunnya kuil, juga saat kuil kembali dibangun setelah Onin Rebellion.

Dari tahun ke tahun, Gerbang Torii terus dibangun, hingga sekarang mencapai 10.000 gerbang. Hal ini dilakukan karena rasa terima kasih warga Jepang yang abadi terhadap Dewa Padi atas pemberiannya. Bahkan, hingga setahun yang lalu, ketika saya berkunjung ke Fushimi Inari Taisha, saya melihat beberapa spot yang sedang dalam konstruksi di sekitar Gerbang Torii. Namun, konstruksi ini tidak mengganggu pemandangan yang disediakan oleh kuil ini. Pengunjung masih dapat menikmati perjalanannya menyusuri Gerbang Torii hingga mencapai kuil di puncak Gunung Inari.

Pada saat itu, saya dan keluarga tidak mempunyai waktu yang cukup banyak untuk menyusuri seluruh jalan setapak menuju puncak Gunung Inari. Namun, kami mempunyai waktu yang cukup untuk menikmatinya dari area bawah kuil. Kami berjalan separuh jalan menyusuri Gerbang Torii. Sebagian besar yang kita lakukan adalah mengabadikan momen dalam bentuk foto. Saat itu, matahari sedang berada di atas kepala, sepanjang Gerbang Torii pun dipadati oleh pengunjung. Untungnya, jalan setapak yang dinaungi oleh ribuan Gebang Torii tersebut dikelilingi oleh hutan yang terdiri oleh pohon-pohon rindang.

Walau banyak pengunjung yang datang, suasana yang tercipta sangatlah khas, seperti selayaknya di alam terbuka. Dari nyanyian jangkrik yang terdengar jernih, suara ketukan sepatu terdengar beriringan dengan sepatu lainnya, hingga orang-orang berbincang dalam bahasa yang berbeda-beda. Beberapa dari penduduk Jepang yang berdatangan pun tak kalah menarik, mereka mengenakan yukata (jenis kimono yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis). Banyak dari tulisan Jepang yang diukir di sisi samping Gerbang Torii itu tidak saya mengerti. Namun, hal itu menurut saya yang menjadikan kesan akan bukti tersendiri dari setiap dibangunnya gerbang tersebut.

Fushimi Inari Taisha dibuka secara umum, maka tidak dibutuhkan tiket masuk, alias gratis. Setelah cukup dengan beberapa foto yang telah diambil, saya dan keluarga kembali ke bawah, di mana pengunjung yang baru datang bertambah banyak, namun tidak menyesakkan. Di sekitar gerbang utama, terdapat toko-toko kecil yang menjual souvernir khas Jepang, khususnya yang berbau Gerbang Torii yang berwarna jingga kemerahan. Tidak jauh dari situ, terdapat jalanan yang menjual berbagai street food, mulai dari crab sticks, takoyaki, buah-buahan segar (nanas), hingga egg waffles khas Jepang.

Kami menghabiskan kurang lebih setengah jam mengintari dan mencicipi makanan yang disajikan, yang mana banyak dari makanan tersebut belum pernah kami coba. Setelah selesai berkuliner, kami memutuskan untuk kembali ke stasiun JR untuk pergi ke tempat selanjutnya.

Fushimi Inari Taisha sangat dekat dengan stasiun kereta JR Inari Station, yang merupakan stasiun kedua setelah Kyoto Station sepanjang rute JR Nara Line. Selagi menunggu kereta, saya tersadar bahwa kita tidak harus mengunjungi berbagai tempat yang mahal ketika sedang berpergi ke luar negeri. Tempat bersejarah pun juga sangat penting dalam menambah wawasan, juga melihat suatu negara dalam sudut pandang yang berbeda. Ditambah, jika tempat tersebut sangat menakjubkan, tidak ada salahnya bukan?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya