Nama, segala hal di dunia ini tentu punya nama. Coba lihat di sekelilingmu, tidak ada satu pun yang tidak punya nama. Bahkan butiran-butiran halus yang menempel di sudut jendelamu pun punya nama, debu. Ya, manusia memang paling ahli dalam membuat suatu konsep agar segalanya punya arti. Mungkin bagi kalian yang puitis lebih suka menyebutnya makna dan bagi kalian yang teoritis, definisi merupakan hal paling tepat. Bagiku mereka sama saja.

Bagaimana dengan hal tak berwujud seperti Tuhan? Bagaimana kita mengartikannya? Pertanyaan ini memang begitu klasik. Sama klasiknya dengan pertanyaan "apakah Yudas benar-benar murid Tuhan yang jahat atau justru sebaliknya Yudas adalah pahlawan?"

Advertisement

Pertama kali mendengar pertanyaan-pertanyaan ini aku sungguh bingung. Satu-satunya hal yang timbul di benakku adalah ada atau tidak adanya Yudas, misi Allah untuk menebus dosamu dan dosaku tetap akan tergenapi. That's it! Hanya sampai di situ. Setelahnya, saya tetap merasa bodoh karena masih bingung. Satu pertanyaan terjawab, timbul pertanyaan yang lain -,-.

Bahkan ketika hendak tidur, pikiranku masih mengawang-awang tentang pertanyaan tak berperasaan yang sukses membuatku tidak merasa mengantuk. Kemudian ku temukan jawaban yang setidaknya benar menurut pikiranku sendiri… Tapi bisa saja keliru bagi orang lain, namun setidaknya jawaban ini membuatku tidur lebih pulas setelahnya.

Kita menggunakan logaritma untuk menggambarkan suatu bilangan yang terlalu besar untuk dihitung. Kita menggunakan lambang "angka 8 terbalik" untuk mendefinisikan suatu bilangan tak terhingga. Bahkan untuk mengukur jarak benda-benda luar angkasa sampai ke bumi kita mesti menggunakan kecepatan cahaya, karena jaraknya yang terlampau jauh, bagaikan hatiku dan hatimu *eh*.

Advertisement

Tentang Tuhan, kita menyebutnya Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Mengetahui, bahkan Maha Dahsyat. Kita menggunakan kata "Maha" untuk menggambarkan bahwa kuasaNya, kasihNya, pengetahuanNya, dan kedahsyatanNya berada pada posisi tertinggi. See? ada beberapa hal tak terbatas yang sulit kita definisikan secara pasti karena melampaui akal kita sebagai manusia. Arti dari Tuhan adalah salah satunya dan juga jalan pikirannya.

Tempatkan Tuhan sebagai Sang Pencipta dan kita sebagai ciptaanNya, bagaimana kita bisa mendefinisikannya secara pasti.

Bagi manusia awam sepertiku, memberikan definisi dari Tuhan dan berusaha berlogika untuk menilik jalan pikiranNya sama saja dengan aku mendambakan punya badan super slim bagaikan Kendall Jenner. Imposibble. Padahal Tuhan tidak terbatas. Tuhan itu maha.

Kau mungkin mulai bertanya bagaimana diriku mengenal dan menyembah Tuhan yang definisinya saja tidak sanggup ku tuliskan. Kau dan aku punya iman bukan? Itu bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Seseorang yang mengimani Tuhan tidak akan diporak-porandakan dengan pertanyaan itu karena dia mengenal Tuhan dengan baik lewat imannya.

Tidak bisakah kita melonggarkan sedikit saja tali kekang itu dan berhenti sejenak dari aktivitas mendefinisikan ini dan itu. Lihatlah warna jingga pada senja. Tidakkah kau menemukan Tuhan melalui keindahannya? Atau taburan bintang-bintang di langit. Adakah manusia sanggup menciptakan mahakarya seindah itu. Dan jika kau belum menemukan Tuhan di sana, buka saja google, cari tahu betapa luasnya semesta dan kau akan terheran-heran dibuatnya.

Jika kau masih bingung juga, ku tanya kau sekali lagi… Pernahkah kau jatuh cinta pada seseorang dan orang itu balas mencintaimu? Bagaimana rasanya? Menurutmu, siapa yang bisa menciptakan perasaan seindah itu jika bukan Dia. Semoga perumpamaan itu lebih mudah dimengerti.

Setelah membaca tulisan ini kau mungkin akan tetap bertanya mengapa Tuhan menempatkan pohon terlarang di tengah taman Eden. Ya… Masing-masing kita punya cara berbeda untuk memahami Tuhan. Tak apa, setidaknya aku bisa tidur nyenyak, dan ku harap kau pun demikian.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya