Tak dapat dipungkiri bahwa setiap denyut nadi kita seiring berdetak dengan cepatnya waktu berlalu. Usia semakin menua yang sering kita rayakan menandakan hidup tak akan lama. Tahun depan sudah 20 tahun tahun berikutnya 21 tahun dan selang beberapa tahun yang akan datang kemungkinan kita tak akan ada lagi di dunia ini. Hidup di dunia ini melainkan hidup yang sekedar hinggap. Maka kesukaran yang kita miliki juga tak akan bertahan lama. Menikmati setiap hal yang kita miliki merupakan wujud syukur kita pada haribaan Allah penguasa jagat raya yang tiada dua-Nya.

Setiap manusia dilahirkan dengan potensi yang sama yakni akal yang menuntunnya kemana ia harus berjalan. Mestinya dengan akal yang kita miliki ini justru membuat kita semakin berenergi untuk menikmati setiap langkah demi langkah menjalani kehidupan yang kadang rumit. Semua hal yang kita gapai, tentunya tak bisa kita wujudkan dengan waktu yang singkat. Butuh proses yang tak mudah yang penuh dengan asam, manis, getirnya kehidupan.

Advertisement

Rezeki yang kita miliki dan jodoh yang belum kita dapati bukan berarti Allah tak mengingatmu. Bisa jadi belum saatnya untuk kita miliki karena ilmu kita yang terbatas sebagai manusia. Bukankah Allah menyampaikan pada kita bahwa bisa jadi sesuatu yang kita sukai belum pasti menjadi milik kita, oleh sebabnya kita butuh berikhtiar agar segala yang kita miliki diridhoiNya.

Untukmu yang sedang galau, renungkanlah bahwa pasti ada alasan mengapa kita ditakdirkan untuk hidup di dunia. Pastinya untuk sesuatu yang berguna, rezeki dan ajal takkan mungkin salah alamat. Hanya saja, kita harus mempersiapkan yang mana dahulu akan mengetuk pintu rumah kita. Baik sedih ataupun senang wajib adanya kita syukuri karena tak akan ada rasa bahagia jika kita tak merasakan duka. Hidup yang tak lama wajib kita hiasi dengan hal yang berguna agar tak berakhir sia-sia.

Bukankah kampung kita yang sesungguhnya ialah kampung akhirat? Maka untuk menetap di daerah yang bukan tempat asal kita tidaklah lama, melainkan hanya sebentar saja. Lantas apa yang ingin kita raih jika bukan melaksanakan perintah dan larangan sang pemilik diri ini? Mestinya dengan banyak bersyukur dan membuang jauh-jauh keputus asaan dalam hidup, membuat kita menimbang-menimbang segala perbuatan yang ingin kita lakukan, karena kehidupan didunia hanyalah sekedar singgah.

Advertisement

Merenungi nasib tak akan mengubah kehidupan, bergeming dan mengeluh tak akan menjadikan kita siapa-siapa. Untuk segala hal yang ingin kita perjuangkan kesabaran ialah teman sejati, tak ada kata terlambat untuk mengubah diri menjadi insan yang bijaksana dengan menebar manfaat. Maka bersegeralah untuk beranjak menjadi yang terbaik dimulai dengan hal kecil pada diri sendiri. Renungkanlah siapa manusia yang paling cerdas tak ubahnya mereka yang senantiasa mengingat kematian.

"Yaa Rasulullah mukmin manakah yang paling cerdas?" Beliau menjawab, "Orang yag paling banyak mengingat mati dan paling banyak persiapannya untuk menghadapi kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang paling cerdas". [HR. Ibnu Majah]

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya