Suatu sore yang cerah tiba-tiba bapak mengajakku pergi jalan-jalan, setelah mandi dan disisir rapi oleh ibu, bergegas aku menuju skuter bapak yang sudah siap di depan rumah. Rupanya bapak mau mengajakku berkeliling dan main ke Monas. Aku masih ingat helm kecilku berwarna kuning saat umurku empat tahun. Ya, aku ingat semua suasana dan peristiwa peristiwa semasa kecil.

Belakangan aku baru tahu juga bahwa skuter bapak itu vespa Super namanya, berwarna biru telur asin dan diperkirakan keluaran tahun 70-an. Bapak memang suka dengan vespa dan sepeda motor tua, "karena harganya murah dan seni sekali" ujarnya . Bapakku seorang guru sekolah menengah pertama, beliau guru seni rupa. Bapak selalu setia kemana pun pergi menggunakan vespa kesayangannya, jika sedang rusak baru bapak naik angkutan umum.

Advertisement

Nanti jika ada waktu, bapak memperbaikinya sendiri. Beliau sangat mahir dalam mengotak-atik kendaraannya sendiri, maklum semua itu untuk mengirit pengeluaran karena kami keluarga yang hidup pas-pasan. Masa-masa kecil bersama kedua adikku hingga beranjak remaja tak lepas dari vespa, kami semua kemana-mana selalu dibonceng menggunakan vespa bututnya. Adikku yang paling kecil berdiri di depan, adikku yang nomor dua di tengah dan aku paling belakang.

Kadang kami merasa pegal dan merasa tidak nyaman karena berdesakan tapi kami tetap tertawa dan saling perpegangan satu dengan yang lainnya. Vespa bagiku begitu menarik dibandingkan sepeda motor lainnya, sebab aku bisa berdiri di depan dan dengan leluasa bisa melihat pemandangan sekelilingnya. Berbeda dengan sepeda motor biasa ketika itu,kita harus duduk dengan posisi yang kurang nyaman bahkan jika duduk di tangki bensin semakin sakit rasanya jika terus berlama-lama.

Vespa pertamaku beranjak dewasa dan kuliah, kemana-mana aku naik angkutan umum, vespa Super bapak sudah lama dijual. Suatu hari adikku yang laki-laki membeli vespa, aku tidak begitu tertarik karena memori tentang vespa atau sepeda motor sudah benar-benar hilang. Aku tidak tertarik dengan dunia automotive. Aku lebih tertarik bermusik dan hangin out bersama teman teman.

Advertisement

Suatu hari aku iseng ingin mencoba vespanya, aku pinjam pergi ke kampus. Ternyata sensasinya luar biasa, sepanjang jalan unik rasanya mendengar suara mesinnya, cara mengemudinya yang berbeda dan juga disapa pengendara vespa lain. Hemm..begini ya ternyata budaya berkendara vespa. Malamnya aku tidak bisa tidur, terbayang suasana tadi siang. Begitu menyenangkannya naik vespa. Dalam hati aku memantapkan diri untuk memiliki vespa suatu saat nanti. Aku telah jatuh cinta hari itu juga. Hingga akhirnya aku memiliki uang sendiri dari hasil kerja serabutan sembari kuliah.

Aku menghubungi teman dan minta dicarikan vespa, jenis apa saja yang penting vespa. Lalu beberapa hari kemudian vespa impian itu datang. Aku beli dengan harga satu juta enam ratus ribu rupiah, lumayan murah dibandingkan dengan harga sepeda motor lainnya. Hari hari kujalani dengan bahagia, sekarang aku memiliki kendaraan kesayangan, setiap hari aku bersihkan dan aku perbaiki karena ini skuter tua jadi harus sering aku kontrol setiap waktu.

Bapak beli vespa lagi saat kuliah aku dan adikku kompak kemana-mana naik vespa, dia adik sekaligus sahabatku tiada tara. Kedua vespa kami berwarna putih dan dengan jenis yang sama, vespa Super. Obrolan kami berdua pun tidak jauh dari seputaran vespa dengan segala dunianya. Di sini bapak mulai sering terlibat dengan suasana kita berdua, sering pula bapak memberi saran dan pengetahuan perihal dunia vespa kepada kami.

Sampai akhirnya bapak beli vespa juga! Vespanya bagus sekali, vespa jenis Excel tahun muda berwarna biru gelap. Bapak pergi mengajar setiap hari menggunakan vespa lagi seperti dulu kala. Kadang sering kita pinjam atau tukar pakai hehe.. Wah, ternyata lebih enak dan nyaman dipakainya dan sudah modern pula teknologinya dibanding vespa Super kami. Pengaruh vespa dari bapak sangat membekas dalam diriku. Suatu hari akhirnya vespa lama milikku dijual dan aku beli vespa Excel sama seperti punya bapak.

Setelah ini vespa adikku dijual juga dan dia memakai vespanya bapak kemana-mana. Adikku ini memiliki hobi bongkar pasang mesin, karena merasa sayang jika vespa bapak diotak-atik terus untuk modifikasi dengan kondisinya yang masih original semua maka dia minta bertukar vespa denganku. Yasudah aku berikan, jadi kita tukar guling vespa.

Mulai saat itu tungganganku adalah vespa warisan bapak dan akhirnya bapak pergi mengajar menggunakan mobil bututnya. Lagi pula beliau bilang sudah tidak kuat lagi pergi jauh naik motor. Aku menjadi seorang guru semasa kuliah dulu aku sering menyambi ngajar walaupun tidak tetap, bahkan hanya mengajar les gambar atau melukis saja. Setelah lulus kuliah yang begitu menyita waktu akhirnya aku melamar ngajar di sebuah sekolah di bilangan Jakarta Barat.

Praktis sehari hari aku menggunakan vespa warisan bapak. Aku bahagia dan tidak tertarik melihat sepeda motor lain bahkan dengan harganya yang mahal sekalipun. Vespa biru tua yang sudah mulai usang ini adalah andalanku dalam mencari nafkah, namun biarpun sudah butut tapi mesinnya sering aku rawat dan perbaiki agar tidak mogok ketika aku pergi dan pulang mengajar.

Jauh aku menerawang ke belakang ketika masa kecil yang sudah akrab dengan vespa, pergi ke sekolah naik vespanya bapak dan kini aku yang menggantikan peran bapak sebagai guru. Bapakku yang hebat itu sekarang sudah pensiun, sudah mulai sakit-sakitan tapi masih selalu tersenyum jika aku berkunjung ke rumah, mungkin rasa bahagianya masih tetap terjaga melihat anaknya menjadi guru dengan vespa birunya, vespa yang telah menjadi saksi hidup perjalanan keluarga kami.

Setiap hari selesai shalat subuh bergegas aku menuju parkiran vespaku, kunyalakan mesinnya. Suaranya masih sama seperti dulu kala, penuh cinta dan harapan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya