Semua orang pasti pernah merasakan luka.

Kamu terpilih menjadi wanita yang akan melahirkan manusia baru yang akan menjadi pewaris dunia ini, jangan sampai mereka juga mendapatkan warisan luka masa lalumu.

Semua wanita di dunia ini pasti mempunyai keinginan untuk berkeluarga, melahirkan dan merawat anak-anak yang Tuhan percayakan kepada mereka. Menjadi sifat alami seorang wanita untuk ingin menyayangi dan merawat anak-anak. Banyak yang bilang, kehidupan seorang wanita belumlah sempurna jika ia belum berhasil membesarkan dan mengantarkan seorang manusia baru untuk sukses berjuang di dunia ini.

Advertisement

Untuk itu, peran wanita, apalagi seorang Ibu sangatlah krusial untuk menumbuhkan anak-anak yang memiliki kepribadian istimewa untuk membangun kehidupan dunia ini.

Tidak hanya mengajari berhitung, membaca, dan melakukan hal-hal mendasar yang harus diketahui seorang manusia, seorang Ibu juga harusnya mampu untuk membangun mental seorang anak. Bagaimana kebiasaan, sifat, dan pola pikir seorang anak, dapat dicerminkan dari bagaimana seorang Ibu merawat dan mendidik anak tersebut.

Idealnya, seorang Ibu harus mampu menanamkan pola-pola pikir positif untuk anaknya. Selain itu juga, seorang Ibu adalah tokoh utama yang akan menjadi contoh bagaimana anak-anaknya akan berperilaku, namun terkadang keadaan ideal itu memang sulit diperoleh.

Advertisement

Mungkin ada dari kita perempuan, yang tidak mendapatkan 'keadaan ideal' itu saat berada di masa pertumbuhan diri kita. Di mana sebagai seorang perempuan, sosok perempuan terdekat yang menjadi contoh kita, yaitu Ibu kita, malah menjadi 'musuh' kita.

Bukan karena Ibu kita adalah Ibu yang buruk, namun kecocokan dan kesamaan pendapat dalam segala hal dirasakan sangat sulit didapat. Lebih parahnya kita pun terkadang sangat terluka, dan sakit hati karena apa yang dikatakan Ibu kita. Merasa tidak didukung, selalu salah, selalu dimarahi tanpa sebab, merasa dipandang sebelah mata, dan mungkin terkadang malah merasa tidak aman saat Ibu kita berada di sekitar kita, adalah hal-hal yang sering kali kita alami pada saat kita remaja.

Ya, tidak semua dari kita cukup beruntung untuk merasakan 'keadaan ideal'. Tapi, ketahuilah wahai perempuan di manapun kamu berada, berpikirlah secara positif. Lihatlah dari sudut pandang yang berbeda. Pahamilah jika ibumu tidak lain, tidak bukan hanyalah ingin yang terbaik untukmu. Luka yang kamu rasakan, bukan karena ibumu sengaja melukaimu, tapi karena kalian belum menemukan cara berkomunikasi yang cocok di antara kalian.

Namun, ada kabar baiknya, kamu sudah pernah merasakan menjadi seorang anak yang merasakan apa yang kamu rasakan. Kamu sudah tahu hal-hal, kata-kata apa saja yang membuat kamu, sebagai anak, merasa tidak nyaman. Jika kamu tidak mau anak-anakmu kelak merasakan hal yang sama, dan terus mewariskan luka kepada keturunanmu nanti, kamu bisa menjadi pemutus mata rantai itu.

Mulai dari sekarang, berlatihlah untuk selalu berpikir positif, carilah cara bagaimana orang-orang bisa nyaman di sekitarmu, lingkupilah alam bawah sadarmu bahwa nanti kamu tidak akan membuat anak-anakmu merasakan luka yang kamu rasakan sekarang, kamu akan menjadi Ibu luar biasa yang akan menjadi idola anak-anakmu kelak.

Kamu akan menjadi sahabat yang akan mendukung mereka menjadi pribadi mengesankan. Apa yang menurutmu kurang dari didikan Ibumua sekarang, akan kamu perbaiki, dan menjadi kekuatanmu untuk mendidik anakmu kelak.

Bagaimana pun Ibumu, beliau adalah orang yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk menghantarkanmu ke dunia ini. Dia membesarkanmu dan memberikan apa yang terbaik untukmu.

Apapun yang terjadi, tetaplah sayangi dia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya