Nggak tahu kenapa saya nulis ini. Biasalah nggak ada kerjaan. Jadi, kebetulan tadi tidak sengaja pas beres mandi saya melewatin TV sambil pakai handuk. Nah, kebetulan tuh TV lagi nayangin kebahagiaan seorang artis remaja yang baru saja putus dengan pacarnya. Karena baru putus dia mendadak jadi bahagia banget. Teman-temannya suka mengejeknya dengan istilah single happy, dan hal itu pun dipertegas dengan sorot kamera yang menyajikan tawa gurih dan ekspresi memukau sang artis di layar televisi. (Biarpun kadang saya suka bingung kok baru putus bisa bahagia banget. Nggak tahulah, jangan dipusingin juga.)

Saya juga kaget mengetahui artis ini bisa putus dengan pacarnya yang juga aktor. Selain karena mereka pasangan remaja yang tampan dan cantik, kedua sejoli ini tak jarang memamerkan kemesraan di depan umum, dan jadi tontonan publik. Tapi okelah, ini hanya contoh kasus. Fokusnya bukan siapa-siapa melainkan fenomenanya. Dalam kasus ini juga saya tak akan membahas benar dan salah. Saya hanya akan coba mengupasnya.

Tapi ternyata kasus putus padahal sebelumnya begitu mempertontonkan kemesraan ini tak hanya berlaku di kalangan artis. Tak jarang di media sosial juga, mereka yang begitu tampak intim, seperti menulis status “Kau yang terindah untuku, kau calon suamiku, bla bla bla” sambil nge-tag nama orang yang dimaksud, eh nggak berapa lama malah putus. Padahal, usia hubungannya baru hitungan hari.

Kasus ini membuat saya teringat pada kaum nonromantis (biasanya laki-laki) yang kadang bisa ribut dengan pacarnya hanya karena soal “umbar-umbar kemesraan di depan umum ini". Misalnya si cewek meminta si cowok buat ngeganti foto profil Facebook-nya dengan foto mereka berdua, atau minimal pas mereka lagi selfie fotonya itu di-share lah di akun media sosial si cowok. Saya sih tidak menyalahkan si cewek karena pada dasarnya semua wanita memang ingin diakui statusnya. Jadi, dengan menunjukkan foto kebersamaan mereka, si cewek akan merasa diakui, dan tak perlu khawatir lagi kalau pacarnya itu main mata sama wanita lain di medsos karena toh foto kemesraan mereka sudah tersebar.

Saya paham, menautkan nama pasangan di BBM, Line, WA, dan berbagai akun lainya dapat menjadi semacam pernyataan defensif bahwa, ”Awas jangan coba mendekat, aku udah punya pacar nih." Dan hal ini berlaku untuk wanita ataupun pria. Tapi kalau belum diganti-ganti juga, atau foto-fotonya belum di-share, biasanya pihak yang ingin diakui atau menunjukkan hubungan mereka di publik ini bakal ngebajak akun pasanganya lalu mengganti foto profil dan nge-share sendiri haha. Ini nyata loh.

Lalu muncullah tudingan yang ada benarnya walau tak mutlak terhadap mereka yang tertutup dalam hubungan, mereka yang non romantis, “Kalau dia nyembunyiin hubungan kalian, berarti ada perasaan orang lain yang sedang dia jaga.” Hahaha betul apa betul?Mungkin ada benarnya juga sih, tapi kalau kita coba berpikir dengan sedikit positif mungkin ada alasan lain kenapa seseorang tak ingin terburu-buru mengumbar hubunganya atau kemesraannya di muka umum atau di medsos. Alasannya bisa beraneka ragam.

Pertama, bisa jadi dia belum yakin dengan pasangannya. Dalam arti apakah benar pasanganya saat ini adalah jodoh terbaik untuknya. Menurut saya sih tak salah, daripada sudah nikah baru ragu, kan mendingan ketika masih pacaran. Yang penting keraguan itu bertujuan untuk membangun keyakinan terhadap pasangan.

Kedua, mungkin si dia merasa alay kalau mengumbar-umbar kemesraan di publik dan medsos. Jangan salah, ada loh tipe orang kayak gini. Orang kayak gini biasanya kaku. Mungkin dia merasa risih kalau hubunganya diumbar-umbar. Tapi bukan berarti disembunyikan ya, bedakan mana yang disembunyikan dengan yang diumbar-umbar. Bisa jadi dia merasa hubungan pribadi adalah privasi sehingga merasa tak perlu semua orang tahu. Namanya juga prinsip. Kita nggak fair kalau membandingkanya dengan prinsip kita. Mungkin itu alasannya.

Ketiga, siapa tahu masih butuh waktu. Wajar saja kalau baru pacaran seorang yang nonromantis, apalagi memiliki kepribadian yang tertutup tak langsung memamerkan kekasihnya. Alasannya harus bisa dimaklumi. Bagi beberapa orang tentu tak mudah memperkenalkan pasangan ke semua orang sekalipun lewat media sosial. Orang yang begini bisa jadi malah serius berhubungan dengan kita. Dia tak ingin kita malu jika suatu saat sudah dipamerin eh taunya malah putus. Dia hanya ingin mencari waktu yang tepat dengan keyakinan yang mantap.

Keempat, siapa tahu dia memiliki trauma masa lalu. Kita nggak tahu kan mungkin saja dulu dia pernah memiliki seorang pacar, sering dipamerin di medsos dengan puja-puji nan melangit, sudah dikenalin kepada keluarga, selangkah lagi nika,h eh ternyata malah diputusin. Nah bisa jadi dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Jadi, dia lebih berhati-hati. Kenangan pahit ini juga bisa jadi pertimbangan dia untuk tak mengumbar-umbar kemesraan saat masih pacaran, tapi bisa jadi setelah sah menikah dia berubah dan lebih terbuka untuk membagi kebahagiaan hubungannya untuk diketahui orang lain.

Kelima, mungkin dia merasa tak ada gunanya membagi kemesraan di medsos dan publik. Dia merasa buat apa pamer-pamer sok merasa jadi pasangan paling setia kalau ujung-ujungnya malah mutusin pasangannya. Memang sih pamer agar hubungan kita diketahui semua orang tak menjamin sebuah hubungan menjadi langgeng. Banyak kok contohnya. Nah mungkin fenomena inilah yang membuat dia antipati untuk mengumbar kemesraan hubungannya. Bukankah lebih baik tak dipamerkan tapi dia setia. Pasti ada saatnya dia bakal pajang foto saat bersama di media sosial nantinya.

Karena pada dasarnya banyak yang begitu mesra di depan semua orang, tidak tahunya telah keropos di dalamnya. Sudah banyak rayap-rayap yang menggerogoti, hingga hubungan itu hanya mesra luarnya. Tapi di atas semuanya, kalau bisa mesra di media sosial, publik, dan saat berdua, kenapa enggak? Hehe, ini hanya intermezzo saja kok. Salam