Cerita Tasya Kamila Melahirkan Anak Kedua dengan Metode ERACS, Alami Alergi dan Pemulihan Lambat

Mantan penyanyi cilik, Tasya Kamila baru saja membuka lembaran baru di 2023 dengan kelahiran anak keduanya yang bernama Shafanina Wardhana Bachtiar (1/1/2023). Dengan kelahiran bayi berjenis kelamin perempuan itu, anak pertama Tasya Kamila dan Randi Bachtiar, Arrasya Wardhana Bachtiar pun resmi menjadi seorang kakak. Usia mereka terpaut empat tahun karena Arrasya lahir pada 2019 lalu.

Advertisement

Metode persalinan yang diambil Tasya pun berbeda dengan saat ia melahirkan Arrasya. Tasya kini menggunakan metode caesar ERACS (Enhanced Recovery After Caesarean Surgery). Metode tersebut dipercaya bisa mempercepat proses pemulihan si ibu pascamelahirkan dibandingkan metode caesar biasa. Namun, Tasya justru nggak mendapatkan kemudahan yang ditawarkan tersebut. Pengalamannya itu diceritakan langsung oleh Tasya, seperti yang telah Hipwee rangkumkan untukmu di bawah ini.

Tasya Kamila memilih metode caesar ERACS agar lebih cepat pulih dari proses persalinan

Cerita Tasya Kamila melahirkan dengan metode ERACS

Cerita Tasya Kamila melahirkan dengan metode ERACS | Credit: Instagram @tasyakamila

Melalui Instagram Story pribadinya (2/1), Tasya menjelaskan prosesnya melahirkan Shafanina dengan metode caesar ERACS. Metode tersebut memang beda dengan caesar biasa sebab ERACS akan membuat proses pemulihan pascapersalinan lebih cepat. Reaksi mual, muntah, dan nyeri pun reda lebih cepat.

Berdasarkan penuturan dokter yang menangani Tasya, proses operasi ERACS tetap sama dengan caesar konvensional. Bedanya hanya pada dosis obat antinyeri yang diberikan, yakni dosis obat antinyeri ditingkatkan sedangkan obat kelumpuhan dikurangi. Ia juga hanya butuh puasa makan selama empat jam sebelum operasi, lalu dua jam berikutnya dilanjutkan dengan minum jus dan madu manis.

Advertisement

“Kalau kata dokter, ERACS itu beda di anestesinya aja, jadi intinya obat anti nyerinya ditingkatin dan obat kelumpuhannya dikurangi sehingga harapannya kita bisa lebih cepat pulih, bergerak, bahkan kalo nggak ada masalah, 2 jam setelah operasi udah bisa coba duduk loh,” tulis Tasya.

Namun, proses persalinan Tasya dengan metode ERACS nyatanya nggak seindah yang ia harapkan

Cerita Tasya Kamila melahirkan dengan metode ERACS | Credit: Instagram @tasyakamila

Cerita Tasya Kamila melahirkan dengan metode ERACS | Credit: Instagram @tasyakamila

Metode ERACS memang terdengar mudah dan menyenangkan untuk dijalani. Namun, Tasya tetap mengalami proses kurang menyenangkan akibat reaksi dari obat-obat antinyeri. Proses persalinannya kali ini pun berbeda dengan yang pertama kali ia jalani saat melahirkan putra pertamanya Arrasya. Saat itu, Tasya masih bisa mengobrol santai selama operasi berlangsung. Sedangkan kali ini, lima menit setelah anestesi epidural disuntikkan, Tasya mengaku merasa pusing. Ia sempat mencoba bertahan untuk fokus dengan menatap lampu operasi, tapi tetap nggak berhasil.

Advertisement

Akibatnya, Tasya muntah hingga lima kali selama operasi persalinannya berlangsung. Untungnya setelah itu ia mulai merasa lebih nyaman walaupun rasa pusing tetap belum hilang.

“Tapi alhamdulillah sempet liat bayinya diangkat dari perut dan dengar suara tangisannya yang kuat. Abis bayinya lahir aku ngerasa ngantuk parah dan izin tidur sambil dokter-dokter sibuk jahit. Untung masih bisa bangun ya shay, tapi kebangunnya juga nggak enak karena aku tiba-tiba GATEL BANGET seluruh muka dan beberapa bagian badan,” tulis Tasya melanjutkan.

Dokter sempat bilang kalau Tasya Kamila mengalami alergi morphin

Cerita Tasya Kamila melahirkan dengan metode ERACS | Credit: Instagram @tasyakamila

Cerita Tasya Kamila melahirkan dengan metode ERACS | Credit: Instagram @tasyakamila

Reaksi gatal-gatal tersebut, kata dokter, terjadi lantaran Tasya memang punya alergi terhadap zat morphin yang merupakan obat penghilang rasa nyeri. Meskipun begitu, gatal-gatal juga merupakan efek samping yang biasa terjadi pada pasien prosedur ERACS. Di luar itu, yang menjadi permasalahan bagi Tasya adalah rasa pusing, mual, dan muntah.

Akibatnya, Tasya nggak bisa pulih secepat yang ia harapkan sebelumnya yang disebut bisa duduk dua jam setelah operasi dan bisa jalan dan mandi enam jam setelah operasi. Saat dipindahkan ke kamar rawat pun ia masih merasa pusing. Tasya sempat meminta tolong suster untuk membantunya menegakkan badan enam jam usai persalinan, tapi belum berhasil lantaran rasa pusing yang masih terus mendera istri Randi Bachtiar ini.

Tasya juga merasa stres dan menangis karena ia nggak bisa pulih lebih cepat. Apalagi pada saat itu ia juga belum bisa menemui sang bayi yang masih dirawat di NICU (Neonatal Intensive Care Unit) dan membantu Randi Bachtiar mengurus Arrasya.

Namun, akhirnya semua proses tersebut bisa dilaluinya. Tasya menjelaskan perkembangan yang terjadi pada 15 jam setelah operasi bahwa ia sudah bisa belajar duduk dan berjalan sebelum diberikan obat antinyeri. Setelah obat tersebut ia konsumsi, terbukti rasa nyerinya berkurang drastis.

“Ni barusan dicoba lagi jalan, eh beneran keren langsung berkurang benaget cenut-cenutnya. Kayak sebelumnya sakitnya level 7-8, sekarang jadi cuma level 2-3 aja. Alhamdulillah ga sabar temu bayi dan hopefully bisa kasih ASI di NICU,” lanjut Tasya.

Bayi kedua Tasya, Shafanina Wardhana Bachtiar

Bayi kedua Tasya, Shafanina Wardhana Bachtiar | Credit: Instagram @tasyakamila

Setelah awalnya nggak bisa ketemu bayinya yang dirawat secara intensif di NICU, akhirnya Tasya bisa melihat sang bayi untuk pertama kalinya pada Senin (2/1) lalu. Selamat untuk kelahiran buah hati keduanya untuk Tasya dan Randi. Semoga Shafanina sehat-sehat terus dan tumbuh jadi anak yang bahagia~

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Writing...

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE