Dian Sastro Pernah Tak Dianggap oleh Keluarga Sepupu karena Status Ekonomi

Menjadi idola banyak kalangan, membuat kehidupan Dian Sastrowardoyo sering dijadikan idaman bagi banyak orang. Kepiawaiannya berakting, paras cantik, dan sederet talenta dan prestasi lainnya. Namun, sebelum mencapai semua itu, Dian Sastro pernah lebih dulu berada di titik rendah dalam hidup.

Advertisement

Dian Sastro menceritakan pengalaman getirnya saat hidup sebatang kara dan berjuang menggapai impiannya. Belum sempat mengecap nikmatnya rezeki, Dian kecil juga sempat tak diacuhkan sepupu karena status ekonominya.

Dian Sastro harus menggapai impiannya sendiri tanpa figur orang tua

Dian Sastro berjuang gapai impian seorang diri

Dian Sastro berjuang gapai impian seorang diri | Credit: YouTube Wardah Beauty

Saat masih duduk di bangku kelas 3 SD, Dian harus merelakan ibu dan ayahnya bercerai. Kesedihan itu bertambah ketika sang ayah meninggal dunia akibat penyakin liver tahun 1995 saat Dian masih kelas 1 SMP.

Jadilah Dian hanya punya sosok ibu dalam hidupnya. Namun, di minggu yang sama dengan kematian sang ayah, ibu Dian harus berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan.

Advertisement

“Mama aku itu hari Rabu berangkat ke luar negeri dapat beasiswa S2, Minggunya bapak meninggal. Di minggu yang sama, aku si anak tunggal ini bener-bener kehilangan dua figur orang tua,” kenang Dian Sastro, dikutip dari YouTube Wardah Beauty.

Tak mudah bagi Dian untuk menerima kenyataan hidup kala itu. Pikiran untuk mengakhiri hidup sendiri pun kerap mengusik. Akhirnya ia bertekad untuk bangkit dengan kembali aktif berkarya.

“Tapi untung pikiran aku nggak gitu. Setahun kemudian gue ikut Gadis Sampul. Supaya gue nggak gila, gue bikin prestasi,” lanjutnya.

Advertisement

Dian Sastro pernah tak dianggap oleh keluarga sepupu yang lebih kaya

Dian Sastro pernah tak dianggap

Dian Sastro pernah tak dianggap | Credit: Instagram @therealdisastr

Berasal dari keluarga yang ekonominya biasa-biasa saja membuat Dian merasa kurang dihargai oleh keluarga sepupunya. Dian merasa keberadaannya tidak dianggap karena tidak selevel secara finansial. Penolakan itu membuat ia berpikir kalau memang ada orang yang berteman hanya karena status sosial.

“Karena ada yang aku ajak ngomong, ‘Mbak-mbak, aku mau pinjam Barbie-nya dong’, terus aku kayak (tidak) diacuhin gitu aja. Dan itu sering (terjadi). Aku jadi belajar ada penolakan kayak gitu,” ungkap Dian.

Dian kecil lalu mengadukan apa yang dialaminya itu kepada sang ibu.

“Ini perasaan aku atau aku nggak boleh ya main sama mereka? Aku bukan saudara mereka?” tanya Dian kepada ibunya.

Dengan bijak, sang ibu melapangkan hati putrinya itu. Ia menyemangati Dian untuk terus belajar dan fokus kepada dirinya sendiri. Bagi ibunya, memandang manusia hanya dari status sosial tidak akan membuat seseorang itu lebih sukses daripada yang lain.

“‘Dian kamu ingat! Sekarang mereka bisa gituin kamu, tapi kalau kamu rajin belajar, kamu disiplin sama diri kamu, lihat 10 tahun dari sekarang, kamu jadi apa, mereka jadi apa. Mama yakin kalau mama milih-milih orang kayak gitu, nggak akan jadi orang yang bermakna juga’,” ucap Dian menirukan nasihat ibunya.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

Pemerhati Tanda-Tanda Sesederhana Titik Dua Tutup Kurung

CLOSE