Ernest Prakasa Buka Suara Soal Keluar dari Juri SUCI X, Bukan karena Anti Komedi Tebak-tebakan

Komika Ernest Prakasa baru-baru ini mengabarkan dirinya keluar dari jajaran juri ajang Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) X Kompas TV. Ia memutuskan hengkang karena nggak setuju dengan teknik tebak-tebakan yang digunakan salah satu kontestan SUCI. Menurut Ernest, teknik tersebut terlalu mudah digunakan dalam sebuah kompetisi stand up comedy dan nggak adil jika dibandingkan dengan kontestan lain yang berusaha lebih keras dalam menyusun materi stand up.

Advertisement

Namun, kritiknya itu dinilai berbeda oleh beberapa warganet. Mereka menganggap teknik tebak-tebakan sah digunakan sepanjang membuat penonton tertawa. Alhasil, Ernest dianggap anti dengan teknik berkomedi yang menurutnya ‘cari gampang’ itu.

Bermula dari cuitan Twitter Ernest Prakasa yang merasa teknik tebak-tebakan nggak bisa dibawa dalam kompetisi stand up comedy

Kabar hengkangnya Ernest dari jajaran juri SUCI X Kompas TV mulai tersebar saat komika ini menuliskan keresahannya soal teknik tebak-tebakan yang dipakai salah seorang kontestan ajang tersebut (10/9). Bagi Ernest, komedi yang dibawakan komika (stand up comedian) haruslah ditulis dengan sistematika yang selama ini dipakai, yakni membangun set up hingga mematahkan ekspektasi penonton dengan punchline.

Advertisement

Maka dari itu, Ernest merasa nggak adil saat ada salah satu kontestan yang tampil hanya dengan mengandalkan tebak-tebakan. Ia menyadari kalau teknik tersebut memang bisa mengundang gelak tawa, tapi dalam sebuah kompetisi stand up comedy, teknik itu hanya ‘cari gampang’.

” “Tapi kan penonton tetap ketawa bang?” Betul. Makanya, ini subjektif. Bagi gw, ketawa tapi pake tebak-tebakan, gak adil. Kalo mau fair, semua harus menulis bit sebagaimana mestinya seorang stand-up comedian, karena ini kompetisi.

“Tapi tebak-tebakan juga kan ditulis bang?” Betul. Tapi semua orang juga bisa bikin tebak-tebakan. Artinya itu sesuatu yang “cari gampang”, di saat orang lain memilih untuk serius belajar. Nggak adil,” tulisnya.

Advertisement

Idealisme Ernest ini rupanya nggak sejalan dengan juri-juri lainnya. Rekan sesama juri tampak nggak mempermasalahkan teknik tebak-tebakan. Akhirnya, ia memilih untuk mengundurkan diri sebagai juri.

“Tapi karena gw satu-satunya juri yang mempermasalahkan, yaudah, jalan terbaik adalah ya gw jangan ikut ngejuri. Kontestan lain yang tabah ya, inget kalo kalian kalah sama tebak-tebakan, kekalahan kalian tetap terhormat. Usaha kalian akan tetap menjadi bekal yang berharga,” sambungnya.

Dalam cuitan selanjutnya, Ernest mengakui kalau diskusi soal teknik berkomedi ini agak susah dilakukan karena menyangkut prinsip pribadi. Stand up comedy di mata seorang Ernest adalah bentuk kesenian yang punya ciri khasnya sendiri dan ketika dibawa ke ranah kompetisi, ciri khas itu nggak boleh berubah. Namun, Ernest tetap menghargai penilaian orang lain yang berseberangan dengannya.

Ernest Prakasa meluruskan penilaian warganet yang menganggap dirinya terlalu teoritis dan anti terhadap teknik berkomedi tertentu

Cuitan panjang Ernest di Twitter rupanya mengundang beragam pendapat dari warganet. Beberapa di antaranya setuju kalau ciri khas stand up comedy harus dipertahankan. Di sisi lain, beberapa lainnya menilai Ernest terlalu kaku dan antipati terhadap teknik berkomedi tertentu.

Ernest nggak mempermasalahkan mereka yang tak sejalan dengan idealismenya. Ia hanya ingin meluruskan kembali alasan dirinya keluar dari juri SUCI X.

“Alasan gue cabut kan sangat sangat sederhana. Gue merasa di panggung Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV, tebak-tebakan itu tidak fair untuk kontestan lain yang tidak menggunakan. Kenapa? Karena itu gampang. Karena itu adalah bagian dari kearifan lokal kita, becandaan lokal kita, gampang itu bikinnya,” ucapnya dalam sebuah unggahan video (16/9).

Usaha yang dilakukan oleh kontestan yang bermain tebak-tebakan nggak sebanding dengan kontestan yang dengan susah payah menulis materi stand up-nya. Ernest juga mengenang usaha yang ia dan teman-teman sesama kontestan saat ia berkompetisi di SUCI dulu.

“Apakah adil di saat komika lain, yang gue ingat zaman-zaman gue ikut SUCI, kayak apa effort kita bikin bit gitu, tiba-tiba disainginya sama tebak-tebakan. Gue merasa itu tidak adil,” sambungnya.

Ernest juga menegaskan dirinya nggak memandang sebelah mata teknik berkomedi tebak-tebakan. Hanya saja dalam konteks kompetisi, teknik tersebut nggak adil bila digunakan. Juga kepada kontestan SUCI X bernama Gautama, yang diketahui sempat memakai teknik tersebut, Ernest mengaku nggak menyimpan kekesalan pribadi apapun.

Bahkan ia menjelaskan bahwa Gautama adalah salah satu cameo di film terbaru Ernest yang akan tayang. Alasannya memilih Gautama sebagai cameo pun karena ia kagum dengan kemampuan stand up Gautama dalam sebuah pertunjukan stand up comedy online.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE