Jerome Polin Ingin Jadi Menteri Pendidikan, Berharap Guru di Indonesia Sejahtera

Jerome Polin impian jadi Menteri Pendidikan

YouTuber Jerome Polin belum lama ini kembali ke Tanah Air usai 2 tahun menetap di Jepang. Momen kembalinya mahasiswa Waseda University ini di waktu liburannya langsung disambut bahagia oleh beberapa kalangan.

Advertisement

Ia pun kerap hadir menjadi bintang tamu di kanal YouTube figur publik terkemuka. Di sana, Jerome menceritakan bagaimana prinsipnya soal menyajikan konten edukasi ke penggemar hingga mengutarakan impiannya untuk berkontribusi langsung pada pendidikan di Indonesia.

Mempunyai impian menjadi Menteri Pendidikan, Jerome Polin ingin guru di Indonesia bisa sejahtera

Dalam kesempatan berbincang dengan Deddy Corbuzier, Jerome Polin menuturkan impiannya untuk bisa menjadi seorang Menteri Pendidikan.

“Sebenarnya itu cuma mimpi gitu. Aku mau kontribusi untuk pendidikan Indonesia,” kata Jerome Polin dikutip Hipwee dari kanal YouTube Deddy Corbuzier, Senin (6/12).

Advertisement

Ia tahu jika berada di posisi tersebut tak mudah untuk menjalaninya. Di samping itu, yang terpenting baginya adalah bisa berkontribusi langsung memberikan ilmu.

Namun, Jerome berharap nantinya guru di Indonesia bisa sejahtera. Mengingat di Jepang orang-orang yang ia kenal banyak yang mempunyai cita-cita sebagai guru lantaran ditunjang kehidupan yang stabil oleh pemerintah.

Advertisement

“Pertama gaji guru sama equality. Teman-temanku banyak yang kuliahnya teknik tapi mereka ngambil sertifikasi jadi guru. Mereka bilang jadi guru di Jepang itu enak, stabil hidupnya, gaji terjamin. Kalau guru masih mikirin besok makan apa, gimana mau ngajar, gimana mau fokus,” pungkas Jerome.

Ia pun mengingat pesan guru Kewarganegaraan sewaktu SMA dulu, bahwa negara maju itu karena adanya pembangunan. Hal tersebut bisa terjadi karena dibantu oleh sumber daya manusia yang berkualitas.

“SDM yang bagus dapat dari mana? Ya, dari pendidikan yang bagus. Kunci utamanya pendidikan,” tegas Jerome.

Sepakat dengan pernyataan Jerome, Deddy Corbuzier lantas menyinggung sejarah di mana ketika Hiroshima dan Nagasaki porak poranda, hal pertama yang Jepang siarkan adalah mengumpulkan guru-guru terlebih dahulu.

Jerome bandingkan sistem pendidikan di Jepang dan Indonesia. Menurutnya jadwal yang padat membuat siswa kurang mengeksplorasi diri

Menjadi salah satu influencer yang menyuarakan soal pentingnya pendidikan, Jerome Polin membeberkan perbedaan yang ia tahu saat menempuh studi di Negara Sakura dan Indonesia.

Hal pertama yang disoroti Jerome Polin, yakni padatnya waktu belajar di sekolah. Seringkali sekolah di Indonesia menerapkan jam masuk dari pukul 06.30 sampai 17.00 sore. Hal ini menurut Jerome terlalu padat, pada akhirnya membuat siswa kurang mengeksplorasi diri.

“Pas aku ngobrol sama teman-teman aku (orang Jepang) itu (masuknya) jam 8, jam 9. Di Indonesia itu aku dulu setengah tujuh, bangun harus setengah 5 pagi. Terlalu pagi, pulang terlalu sore. Waktu untuk eksplor diri itu sedikit banget,” papar Jerome Polin.

Deddy Corbuzier yang mengetahui hal tersebut mengaku setuju, apalagi usai mendengar keluhan Azka yang masuk sekolah online dari jam tujuh pagi sampai empat sore. “Minus matanya anak saya depan komputer, sudah bayar mahal-mahal,” celetuk Deddy.

Meski demikian, hal ini tak sepenuhnya berhasil jika dilakukan di RI. Pasalnya, menurut Jerome mayoritas kebiasan anak di negara lain, seperti Jepang atau Finlandia sudah tertanam menggunakan waktu luang untuk menambah pengetahuan. Artinya, sudah ada kesadaran dan tindakan yang konsisten.

“Sebenarnya dilema, kalau di luar sana kesadaran untuk belajar orang-orangnya sudah tinggi. Jadi ketika di luar sekolah pun mereka doyan belajar, baca buku dan sebagainya,” tutup Jerome.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Pemerhati Tanda-Tanda Sesederhana Titik Dua Tutup Kurung

CLOSE