Singgung Konten Settingan yang Dianggap Pembodohan, Jerome Polin: Apakah Penghasilannya Berkah?

Jerome Polin soal konten kreator

Nama Jerome Polin belakangan menjadi perbincangan di media sosial. YouTuber yang dikenal gemar membagikan edukasi seputar matematika ini viral usai melontarkan prinsipnya soal settingan untuk sebuah konten. Seperti diketahui, membuat video yang nggak sesuai dengan fakta dan direncanakan, dengan maksud menambah jumlah viewers bukanlah suatu hal yang asing di YouTube.

Advertisement

Untuk itu, nggak jarang pembuat konten berlomba-lomba merencanakan kolaborasi supaya kisah yang dibuat bisa mencari perhatian banyak orang. Namun, hal tersebut nyatanya bertolak belakang dengan prinsip yang dipegang mahasiswa Indonesia di Jepang ini. Ia bahkan menegaskan nggak pernah membuat konten rekayasa, karena menurut Jerome penonton harus mendapat manfaat dari video yang dibuatnya.

Bagi Jerome, konten settingan adalah pembodohan. Ia merasa punya tanggung jawab untuk menggantikan waktu yang telah diluangkan pengikutnya

Jerome Polin anti settingan | Credit: Instagrm @jeromepolin

Baru-baru ini publik memang ramai membahas soal isu YouTuber yang membuat konten rekayasa untuk menarik penonton. Hal inilah yang ditanyakan salah satu warganet ke Jerome, apakah ia juga melakukan hal yang sama untuk menaikkan jumlah viewers. Melaui Instagram resminya, pria berusia 23 tahun ini membantah, ia menegaskan nggak pernah membuat konten rekayasa.

“Definisi settingan gimana? Kalau sampai yang ngefake atau bohongin penonton, enggak pernah. Justru aku anti banget sama yang kayak gitu,” jawab Jerome Polin dalam keterangan Story di Instagram, Sabtu (21/8).

Advertisement

Ia pun menjelaskan alasan nggak mau mengikuti arus, Jerome merasa bertanggung jawab atas waktu dari 7,24 juta pengikutnya di YouTube. Menurutnya, membuat konten rekayasa sama saja membodohi publik dan nggak memberikan manfaat.

“Ini pikiran aku. Content creator tuh dapat pemasukkan dari waktu yang diberikan oleh penonton. Nah, artinya aku harus kasih manfaat/value buat penonton sebagai ganti waktu kalian,” sambungnya.

Sadar bahwa video seperti itu bakal laku, tetapi Jerome kekeh bahwa konten hasil rekayasa bukan pemasukan yang berkah

Advertisement

Pria yang kuliah di Waseda University menyadari bahwa konten dengan drama akan mendapat banyak penonton. Tetapi sayangnya, hal tersebut palsu dan nggak mempunyai manfaat untuk penonton. Terlebih pemasukkan dari konten settingan menurut Jerome nggak berkah karena berupa pembodohan publik.

“Kalau aku bikin konten settingan yang merupakan pembodohan, apakah pemasukkan yang aku dapat itu ‘berkah’? Aku rasa enggak. Aku enggak mau dapat uang dari hasil pembodohan, meskipun aku tahu itu bakal laku. Aku harus kasih manfaat/value dalam tiap video aku,” paparnya.

Nggak sedikit warganet yang akhirnya memuji, mereka berpendapat bahwa konten yang mempunyai nilai bukan hanya sebuah materi pembelajaran. Tetapi juga bagaimana pembuat konten bisa jujur dan memberi pengetahuan baru. Misalnya, menyisipkan informasi tambahan ketika traveling, menjabarkan perbedaan budaya, bahasa, gaya hidup meski ngggak secara langsung tetapi bisa memberi ilmu baru.

Meski beberapa figur publik Indonesia diketahui sempat settingan, pandangan Jerome ini membuktikan bahwa masih banyak Content Creator yang mengedepankan manfaat

Pandangan Jerome Polin ini tentu membuka pikiran masyarakat. Bahwa nggak selamanya YouTuber mengedepankan konten rekayasa. Seperti diketahui, sejumlah tokoh publik banyak menghasilkan pundi-pundi uang dari konten kepalsuan yang dibuat. Misalnya pengaturan soal pacaran di kalangan artis yang ditujukan untuk popularitas, drama perseturuan, hingga video dengan maksud membuat publik bahagia tetapi semua hanya semu belaka.

Artis yang memiliki jutaan pengikut pun nggak terhindar dari konten rekayasa seperti ini, sebut saja Uya Kuya dan Denise Chariesta yang ungkap saling dapat keuntungan dari hasil perseteruan di kanal YouTube Deddy Corbuzier, Vicky Prasetyo akui pernah pacaran settingan dengan tawaran Rp250 juta dan Rp400 juta, jalinan asmara Kekeyi dan Rio Ramadhan, hingga kemesraan Elly Sugigi bersama Irfan Sebastian untuk mendongkrak lagu.

Meski semua bertujuan untuk hiburan, hal tersebut nyatanya mampu menurunkan kepercayaan publik kepada figur publik. Mereka jadi sulit membedakan antara fakta dan kepalsuan. Pandangan yang dilontarkan Jerome Polin ini tentu mendapat apresiasi. Pun sekarang ini sangat penting bagi masyarakat untuk selalu selektif dan kritis atas informasi yang didapat.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Pemerhati Tanda-Tanda Sesederhana Titik Dua Tutup Kurung

CLOSE